Pupus

Pupus
Prau


__ADS_3

     Kalau balikan sama masa lalu, cowok yang lain mau dibuat apa?


     -Amora, Wonosobo 2019


________________________


  


      " Habis mochi-nya Dafa lucu sih,"


  


         " Dafa diem!"


       Amora mencekik leher Dafa dengan begitu kuat sampai laki-laki itu terbatuk. Dengan santainya, ia menggeplak helm full face yang dikenakan Dafa kemudian terkikik sendiri.


       Amora memeletkan lidah ketika Dafa memperhatikannya lewat kaca spion, laki-laki itu memicingkan mata kesal. Entah sejak kapan tangan mungil yang tadinya bertengger di pinggangnya kini berpindah di samping telinga. Menyelipkan ponsel bercase ice bear berwarna kuning itu diantara celah helm bogo yang dikenakan. Tampak suara halus Amora terdengar menyapa membuat Dafa makin kesal saja. Siapa sih?


      " What?! Seriusan? Ah, mau dong mau!" pekik Amora membuat Dafa yang kaget mengerem motor matic itu dengan keras. Menimbulkan decitan yang tidak kalah keras dari mobil-mobil besar yang lewat di area Walitelon ini. Beberapa meter lagi mereka akan sampai di rumah Dafa.


       " Dafa sompret! Yang bener dong kalo ngebonceng orang!" Amora memprotes, dengan gerakan cepat ia turun dari motor maticnya kemudian menatap laki-laki itu datar. Kepulan asap pada kepalanya terlihat membuat Dafa meringis pelan.


       " Ya lagian mbaknya teriak girang kaya dapet undian, kan saya jadi kaget" balas Dafa. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Dafa, Amora jadi ingin berteriak lagi. Ia menangkup wajah memerah itu dengan kedua telapak tangannya. Sangat imut di mata yang melihat, tak terkecuali Dafa. Beberapa kali laki-laki itu mengumpat menahan untuk tidak mencubit habis pipinya.


        " Aku kosongin jadwal sabtu-minggu deh. Kita nggak jadi jalan"


              ********


      Amora membeli beberapa camilan dan minuman satu setengah liter sebanyak dua botol. Sekarang ini, ia tengah berjalan mengitari minimarket primadona di Kandangan. Tadi ia pulang sekolah bersama Dafa meski laki-laki itu masih dengan aksi ngambeknya. Amora langsung pamit pulang dan bergegas menuju kemari setelah sebelumnya bersih-bersih dulu. Meski tak ada yang menemani, ia tampak biasa saja. Ekspresinya begitu serius sambil jarinya bergerak menelusuri rak bagian makanan ringan. Ketika sampai di bagian keripik kentang, ia jadi teringat Dafa. Maniak jajanan yang hanya besar bungkusnya seperti ini.


       Dafa, ia jadi tersenyum. Wajah cemberutnya terlihat ketika Amora tiba-tiba membatalkan plan mereka untuk jalan-jalan ke daerah posong. Bahkan beberapa hari ini ia merengek memohon agar acara mendaki Amora dibatalkan. Dafa bercerita jika ia pernah diajak ke taman wisata di daerah Dieng itu, udaranya sejuk. Belum lagi spot foto yang begitu menjanjikan. Sayang saja, perjalanannya lumayan jauh, tapi meskipun begitu, Amora merasa tertarik mengunjungi tempat wisata yang lumayan viral di daerah Temanggung-Wonosobo. Ia belum pernah kesana, apalagi ke daerah barat kota Parakan.


 


        " Mbak, rokok surya satu ya"


       Amora menundukkan kepala mengecek belanjaannya jikalau ada yang kurang. Bersamaan dengan datangnya sosok laki-laki bertubuh sedang, tak terlalu tinggi sambil matanya mengitari setiap sudut mini market ini. Begitu matanya menangkap bayangan Amora, ia memusatkan retinanya di sana.


       " Sabun di rumah ada, kalo sabun muka ambil di kasir aja deh, udah ah nanti boros, hihi" Amora berceloteh sendiri. Menatap keranjang belanja warna merah yang tergantung di lengan kanannya.


        " Mor," sapa laki-laki tadi. Amora mendongak. Seketika tubuhnya mendadak kaku, salah tingkah. Apalagi saat senyuman yang sudah lama tak ia lihat. Terhitung sejak dua bulan yang lalu, ia jadi jarang bertemu dengannya. Kecuali saat pemotretan di Jogja, ya. Di Malioboro itu.


      


        " Eh, Andra" jawab Amora seadanya. Dalam hati ia mengumpat. Mengapa harus bertemu Andra di sini. Ia juga sedikit merutuk, padahal di Jogja mereka tak secanggung ini.


       " Sendirian, Mor?" tanya Andra pelan. Mata laki-laki itu masih saja menelisik pada retina cokelat tuanya. Amora mengangguk.


       " Mbak, ambilin sabun yang sachet ya. Dua" Amora berujar sambil menyerahkan keranjang belanjanya di atas meja. Sang kasir mengangguk, lalu detik berikutnya terdengar bunyi 'tit' dari sensor di samping komputer kasir. Menampilkan harga tiap barang yang dibeli Amora.


       " Semuanya lima puluh ribu, Mbak"


        Amora menyerahkan uang lima puluh ribu pas. Bunyi gesekan mesin nota itu membuat ketenangan tersendiri di hati Amora. Ia senang mendengarnya, terdengar begitu unik di telinga.


        " Makasih," ucap Amora sambil meraih kantung belanjaan yang cukup besar. Ia berbalik arah menuju pintu keluar, merasakan jika ada tangan yang menahan langkahnya, ia berhenti.


         " Aku anterin ya, Mor. Kebetulan aku pakai motor temen. Sekalian nebeng pulangnya"


        Sebenarnya Amora kaget, tapi setelah melihat salah satu teman Andra yang cukup dikenalnya sedang duduk di jok motor sambil membenarkan rambut jabriknya, mau tak mau Amora mengangguk. Memberikan kunci motor maticnya pada Andra.


        " Cabut dulu, Bro" pamit Andra pada Ilham. Ilham tersenyum ketika melihat Amora yang menampakkan wajah sunkannya. Sedetik kemudian teman Andra itu mengiyakan.

__ADS_1


        " Sinyal mantan emang beda ye," celetuk Ilham diiringi tawa khasnya. Amora hanya tersenyum, sementara Andra ikut tertawa membelokkan stang motor matic milik gadis itu.


         " Duluan, Ilham" ujar Amora ketika keduanya melewati motor yang masih diparkir. Entah mau apa Ilham, karena ia tak mengikuti kepergiannya dengan Andra.


         " Hati-hati, Mor. Nggak sampai rumah nanti!" goda Ilham dengan suara keras. Amora menundukkan kepala malu. Ia memandang wajah dingin Andra lewat kaca spion. Ah, biasanya ia memandang wajah jail Dafa, sekarang berbeda lagi.


         " Mau apa sih, Mor? Kok belanja banyak banget" tanya Andra niat suaranya dipelankan. Amora yang hanya mendengar gumaman itu mau tak mau mendekat meski sebelumnya mendengus kesal. Beruntung ada kantung belanjaan yang menjadi penengah mereka, kalau tidak bisa-bisa Amora ambyar.


         " Muncak besok sama temen"


          " Kemana?"


         " Prau"


             *******


     " Iya, bentar lagi siap kok. Tungguin ya"


    


     " Di rumah Bela? Oke siap"


     Amora berjalan ke arah dapur mengambil minum. Tangannya bergerak menuang air putih dari dalam teko besi sementara kepalanya agak dimiringkan, mengapit ponsel yang berada di antara telinganya. Ia berdecak, ketika sebuah tepukan bahu mendarat secara tiba-tiba. Hampir saja minuman di gelas itu tumpah.


      Ada Bimo di sana, sepupunya yang berjarak empat tahun dengannya itu meringis, menampilkan gigi putih bersih yang kontras dengan kulit hitamnya. Amora mengernyitkan dahi seolah bertanya ngapain ganggu?


     Bimo memposisikan diri untuk duduk di meja makan yang terbilang cukup lebar. Ia menyalakan sebatang rokok di hadapan Amora membuat gadis itu memutar bola matanya malas.


      " Rapi bener mau kemana?" tanya Bimo kemudian. Amora menutup telponnya dengan Saron kemudian meletakkan benda pipih itu di atas meja. Ia ikut duduk.


       " Gama mana?" cerca Amora kesal. Ia memandang Bimo dengan tatapan tajam tanpa menjawab pertanyaan sepupu gilanya itu. Sudah setengah jam ia menunggu dan sekarang waktu menunjukkan pukul dua siang. Ia menyabotase Gama begitu saja padahal sudah tahu jika teman dekatnya itu akan mengantarkan ke rumah Bela. Pasti telat.


        Kakak Amora memang sudah bersuami. Memiliki seorang anak berumur dua tahun yang sangat lincah. Kadang tidur di sini, kadang juga di rumah mertuanya. Maklum, karena masih satu komplek. Bisa dibilang jodoh lima langkah dari rumah.


        " Koe ki piye sih? Mau aja disabotase Bimo. Telat nih" rutuk Amora. Gama yang semula bersantai di jok motornya kini mendelik. Penampilan Amora sudah sangat rapi. Memakai kaos pendek putih dibalut jaket bomber berwarna army disertai celana training hitam dan juga kerudung segi empat hitam. Gadis itu berkacak pinggang dihadapan Gama.


        " Kok aku sik disalahke. Sepupumu kuwi lah" elak Gama ikut menggunakan bahasa daerah mereka. Jawa. Gama berdecak. Ia menegakkan motornya yang distandar kemudian menyodorkan helm di depan Amora.


        " Buruan katanya takut telat" perintah Gama kini melembut. Amora menghela napas panjang. Ia menerima helm pemberian Gama kemudian duduk di jok belakang. Memeluk pinggang Gama erat dan bersandar di sana. Biarkan, tak ada apa-apa. Sudah biasa mereka begini sejak kecil.


         " Jaga ucapan ya kalo muncak. Hati-hati. Suruh Saron jagain kamu" ucap Gama menjalankan motornya. Sepanjang perjalanan, laki-laki itu tak habis berceloteh. Apa saja hal yang dilarang ketika mendaki gunung. Amora hanya menyimak tanpa protes seperti biasa. Ia tak terganggu, ia pendaki pemula. Bisa dibilang ia baru sekali ini pergi ke gunung. Ada rasa takut, tapi tekadnya kuat.


   Biar tidak ada lagi ucapan, anak komunitas pecinta alam kok nggak pernah nanjak.


     Padahal mereka hanya salah persepsi. Pecinta alam itu adalah yang mencintai alam. Tugasnya menjaga dan merawat alam. Mengobati luka yang dialami alam karena bencana. Bukan identik dengan pendakian. Kalau mendaki, banyak orang bisa, tapi kesadaran mencintai alam itu yang hanya dimiliki orang-orang istimewa.


      " Iya Gama. Lagian kenapa nggak ikut aja sih?"


      " Males ah, masa sama bocah manja begini"


      " Gama sialan!"


             ********


     


       Amora menghela napas kemudian meregangkan ototnya yang kaku. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan menggunakan motor dari Temanggung kemudian Dieng, melewati Tambi;basecamp Sindoro, lalu gapura Dieng Plateau hingga membawanya sampai ke tempat ini. Basecamp pendakian gunung Prau via Patak Banteng.


       Ia sedikit mengelus pantatnya yang keram. Lama-lama ambeien menimpa keempat anak remaja itu. Amora mendongak menatap gapura unik dari bambu dihias ijuk dari pohon aren. Sejurus kemudian ia tersenyum. Tak menyangka jika sampai di tempat mengagumkan seperti ini.


       Gerimis datang, bertepatan dengan datangnya Bela yang merangkul bahunya lembut. Ia menoleh mendapati mata kecil teman SMPnya itu menyipit. Seperti merasakan hal yang sama di dalam hatinya.

__ADS_1


        " Masuk basecamp yuk, hujan. Kita registrasi dulu baru naik" ajak Rafa yang notabenya pendaki handal sama seperti Saron. Mereka bertiga mengangguk setuju kemudian duduk di lesehan. Banyak pendaki yang tengah bercengkrama di sana. Amora melepas sepatunya. Mengamati keadaan sekeliling yang begitu ramai mengundang rasa hangat dalam kalbu.


        Saron sedang registrasi. Mereka memilih memainkan ponsel. Hujan semakin lebat saja. Amora jadi menggigil. Suhu di sini benar-benar ekstrem. Cuaca normal saja sudah menusuk tulang apalagi hujan begini.


        " Udah mau maghrib, mending kita sholat habis itu kita istirahat sebentar. Setengah delapan kita baru naik" jelas Saron. Ia membuka tasnya untuk mengambil sarung. Hal yang sama dilakukan oleh Rafa.


        Amora mengenal Saron dengan begitu baik, ia dan Bela teman SMP Amora di salah satu sekolah favorit Temanggung. Kalau Rafa, kata Saron hanya sebagai teman meski Amora tahu Saron kurang begitu suka dengan Rafa. Amora kenal Rafa sudah lama, hanya sekedar tahu namanya. Ini kali pertama ia berinteraksi dengan Rafa. Sedikit canggung dan berusaha mengakrabkan diri. Mau bagaimanapun Rafa ini sosok yang berpengaruh di hidup Bela. Pernah. Mantannya.


       Amora tak pernah lupa dengan nama Rafa. Setiap hari mendengar sahabatnya itu berceloteh tentang Rafa. Kalau bertemu ya sudah, saling curhat soal mantan sampai harus menimbulkan drama menye-menye. Bela soal Rafa, kalau Amora siapa lagi, mantannya cuma Andra.


      


       " Setengah delapan aja lah naiknya" putus Rafa setelah keduanya kembali. Amora dan Bela sudah kembali sebelum keduanya ada. Yang Amora dan Bela lihat, mereka baru saja makan. Saron itu orangnya laperan.


       " Mending main ML," ajak Rafa, sedetik kemudian membuka aplikasi game yang sedang marak di kalangan remaja itu terutama kalangan cowok. Amora dan Bela hanya berpandangan. Karena di sini kartu mereka tidak ada sinyal, jadi ya mereka memilih mengamati kedua laki-laki itu.


       " Woy! Nge-push anjay!" teriak keduanya heboh. Amora hanya menghela napas. Ia jadi malu sendiri. Mereka jadi pusat perhatian.


       " Woy! Om, ke kiri nanti hironya mati tolol! Waduh, kalo mati gimana ini"


      Saron meringis. Amora makin tak paham dengan mereka. Detik berikutnya, ia melihat Bela menenggelamkan kepala di antara tas punggungnya sambil menggeleng keki ketika Rafa berteriak,


       " SARON! BISA MAIN GAME NGGAK SIH?!"


            ******


       " Oke, a true game will begin," lirih Rafa. Keempatnya memandang undakan tinggi menjulang yang ada di hadapan. Amora meneguk ludah susah payah, ia jadi ingin kembali. Tapi kepalang tanggung, masa mau jadi pengecut.


       Rafa dan Bela berjalan dulu. Tinggal Saron yang menanti gerakan kaki dari Amora. Merasa ada sinyal ragu dari Amora, Saron merangkul bahu temannya kemudian memberi senyum semangat.


       " Tenang aja, ada Saron di sini"


        Amora menghembuskan napas, ia mengangguk berjalan pelan tapi penuh tekad. Hingga sampailah ia bisa melewati undakan panjang yang menyiksa. Meski beberapa kali mereka harus berhenti, Rafa dan Saron sabar menghadapi, ia maklum. Amora belum terbiasa.


       Malam semakin gelap, kelap-kelip kota Dieng terlihat. Mereka berdecak kagum. Bahkan sengaja berhenti di pos satu untuk melihat keajaiban ini. Sungguh indah. Amora jadi tambah bersemangat mencapai puncak. Ia harus bisa membuktikan bahwa ia akan baik-baik saja. Lagipun, ia tak ingin pertengkarannya dengan kakaknya tadi berujung sia-sia.


       " Ayo! Kita pasti bisa!" Teriak Saron menyemangati. Amora tersenyum sedikit geli. Ia baru menemukan orang seasik Saron. Seceria Saron. Biasanya sih akan banyak kesalnya jika orang lain menghadapi Amora yang sekarang banyak berhenti di jalan atau warung pinggir jalan.


      Dari pos pertama, mulai dari tangga panjang itu sampai ke pos tiga, warung di sekitar jalan masih ada. Buka dan menyediakan beberapa camilan yang menggoda iman. Kadang menjadi tempat persinggahan para pendaki. Amora tidak merasakan dingin, bahkan banjir keringat. Sejak dari pos dua sampai menuju pos tiga yang lumayan menanjak, ia sudah terbiasa.


       " Perkiraannya meleset, aku kira jam sebelas baru nyampe" ujar Rafa ketika mereka duduk di bangku yang ada. Jalan menanjak yang hampir menuju pos tiga. Disana, mereka banyak berinteraksi. Apalagi bertemu dengan pendaki daru Jogjakarta yang notabenya masih pelajar SMA. Alhasil, mereka memutuskan berjalan bersama rombongan itu. Hingga pukul sepuluh mereka sudah sampai di tempat peristirahatan.


       " Sumpah, tadi pengen nangis aja kaya nggak bisa sampai" gumam Amora duduk di atas rumput yang basah. Sekarang gerimis tengah melanda, membuat mereka khawatir kalau tidak bisa melihat sunrise karena mendung.


       Bela ikut duduk di sampingnya, sejak perjalanan ia dijaga betul oleh Rafa membuat intensitas Amora dan Bela jadi sedikit. Amora tak menyayangkan itu, ia maklum.


       " Iya, tadi kaya mau putar arah" jawab Bela. Mereka tersenyum memandang gestur tubuh Saron dan Rafa yang ribut mendirikan tenda. Benar-benar melelahkan, bahkan sekarang Amora merasa menggigil.


        " Alam bener-bener indah meski malam. Hal yang aku pikirkan dari rumah, alam nggak menerima aku sebagai tamunya, tapi ternyata alam baik, dia mewujudkan harapan aku di bulan ini"


        " Dia berhasil membuat aku mencoret list aku perihal mendaki bersama orang tersayang"


              ******


       Tidak usah mengumpat ketika alam membuat segala sesuatumu tidak terpenuhi. Apakah alam pernah protes atas tindakan tidak baikmu padanya? Kamu memang bisa menyakiti alam, tapi ketika alam marah, habis nyawamu ditelan.


        


       


    

__ADS_1


__ADS_2