Pupus

Pupus
Bab XXVIII


__ADS_3

Matahari bersinar dengan posisi sudah cukup tinggi, namun kamar Maira masih terkunci rapat, ia enggan membuka pintu kamarnya karena ia masih terpukul dengan kejadian yang tak pernah ada di bayangannya. Fatih berulang kali mengetuk pintu, namun tak ia indahkan.


"Ra, kalo kamu gak buka pintunya, papa akan dobrak pintu ini," ucap Fatih geram.


Maira masih enggan bangkit dari balik selimut tebalnya.


Brak!


Pintu terbuka lebar, Fatih harus mendobrak pintu kamar Maira, karena ia merasa sangat khawatir akan keadaan anak semata wayangnya. Dilihatnya Maira masih meringkuh di balik selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya, Maira tertutup sempurna, hanya suara Isak tangis yang masih terdengar.


"Jangan nangis terus Ra," ucap Fatih dengan duduk di ujung kasur Maira.


Tak ada jawaban dari Maira, hanya Isak tangis yang semakin menjadi yang terdengar.


"Maafin papa Ra, karena papa kamu terkena imbasnya," ucap Fatih lesu.


"Maksud papa apa?" tanya Maira yang membuka selimutnya dengan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Makanlah dulu Ra, dari semalam kamu gak makan, papa gak mau kamu sakit, dan berhentilah menangis," jawab Fatih mengalihkan pembicaraan.


"Ck. Kalo papa bujuk Maira hanya untuk makan, terimakasih pa," jawabnya sinis.


Fatih diam sejenak, memikirkan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada anak semata wayangnya.


"Papa akan jelaskan semua, tapi kamu harus makan dulu," ucapnya tegas.


"Makasih pa," singkat Maira dan kemudian merusotkan tubuhnya dan berniat untuk meringkuh kembali di balik selimut.


"Baik, papa akan jelaskan. Tapi tolong kamu jangan benci papa, dan kamu pasti tau keputusan apa yang akan kamu ambil selanjutnya," ucap Fatih penuh kekhawatiran. Seketika Maira kembali di posisi duduknya.


"Jadi gini sebenarnya Ra.." ucap Fatih menggantung dengan mengingat kejadian 20 tahun silam.


*Flashback on


Pagi yang cerah, semua orang beraktifitas dengan kegiatan masing-masing, tak lain Fatih, ia disibukkan dengan pekerjaan kantornya.


ting.


suara notifikasi ponsel Fatih berbunyi, menandakan ada pesan masuk, ia merogoh saku celananya dengan ponselnya. Ia melihat layar ponselnya, dan benar saja nama wanita yang ia cintai lah yang muncul.


**Lovely Arsyana**


Jam istirahat kita makan siang bersama di cafe tiktok, oke.


Fatih mengembangkan senyumnya, ia pun segera membalas pesan Arsayana.

__ADS_1


Me


Tentu sayang.


Setelah membalas pesan Ana, Fatih kembali melakukan tugas kantornya dengan meletakkan ponselnya tepat di atas meja kerjanya. Namun tak berselang lama, kembali ponselnya berbunyi, ia segera meraih ponselnya yang berada di atas meja. "Mama" nama yang muncul di layar ponselnya, keningnya berkerut tanda tak begitu suka dengan panggilan telepon itu, ia seakan mengerti apa yang ingin mamanya katakan, tentu saja masalah perjodohan yang tak pernah ia inginkan, wanita yang tak pernah ia sukai. Fatih di jodohkan oleh orang tuanya, karena orang tua Fatih tak begitu menyukai Ana. Fatih terus berusaha menolaknya, namun semua sia-sia, keputusan orang tuanya final, tak dapat di bantah lagi. Perjodohan tinggal sebulan lagi, namun Fatih masih tak punya nyali untuk menjelaskan kepada Ana, dan ia lebih memilih bersikap biasa-biasa saja terhadap Ana, wanita yang ia cintai.


" Iya ma," jawab Fatih pada sambungan teleponnya.


"Nanti jam makan siang kamu harus jemput Maya di cafe tiktok untuk pergi fitting baju, Fatih," ucap mama Fatih dari sebrang telepon.


"Fatih gak bisa ma, Fatih ada janji," ucap Fatih berusaha menolaknya.


"Kamu senang sekali buat mama kecewa, gak ada penolakan Fatih!" tegas sang mama yang kemudian mematikan sambungan telepon secar sepihak.


Fatih merasa frustasi dengan perjodohan yang tak pernah ia inginkan, namun ia tak ingin menjadi anak durhaka yang selalu mengecewakan mamanya.


Fatih segera memberi kabar kepada Ana, untuk membatalkan acara makan siang bersama mereka.


Me


Ana, maaf aku tidak bisa makan siang bersamamu, aku ada meeting mendadak. Aku akan menggantinya di hari yang lain.


Lovely Arsyana


Aku kecewa. Tapi oke lah, aku tak masalah, kita makan bersama lain hari.


Tak lama, Fatih sampai di cafe tiktok, ia mencari keberadaan Maya, ia ingin segera menemuinya dan menjalankan tugas mamanya, supaya segera selesai.


"Maya," panggilnya kepada wanita berkulit sawo matang dengan rambut sebahu, nampak manis di pandang, namun tak dapat menggantikan posisi Ana di hati Fatih.


"Mas Fatih," ucapnya yang kemudian bangkit dari kursinya.


"Ayo kita pergi, aku tak banyak waktu," sinis Fatih di hadapan Maya.


"Tapi aku masih makan mas, aku habisin dulu bentar ya," pinta Maya memelas.


Akhirnya mau tidak mau, Fatih harus menunggu hingga Maya menyelesaikan makan siangnya, ia duduk tepat berhadapan dengan Maya. Hatinya gusar, ia tak tenang duduk di berhadapan dengan wanita lain. Tanpa ia sadari sepasang mata mengamati Maya dan Fatih yang duduk semeja.


"Fatih, Maya" panggilnya lirih, namun masih dapat di dengar oleh Fatih dan Maya. Sontak membuat Fatih dan Maya menolah pada sumber suara. Ana sudah berdiri di belakang kursi Fatih dengan ekspresi bingung.


"Ana," jawab Fatih dan Maya bersamaan.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya penasaran.


"Ana aku bisa jelasin," ucap Fatih merasa bersalah.

__ADS_1


"Hai Ana, ini mas Fatih calon suami aku," ucap Maya terlebih dahulu sebelum Fatih memberi penjelasan.


"Calon suami?" tanya Ana tak percaya.


"Ana, aku bisa jelasin," ucap Fatih berusaha menenangkan Ana yang sudah nampak menahan amarah.


"Dia sahabat aku Fatih, dan dia bilang kamu calon suaminya? Apa yang tak pernah aku tahu dari kalian?" ucap Ana menggebu.


"Sahabat?" tanya Fatih heran.


"Tapi sekarang gak lagi setelah aku tahu, dia merebut kamu dari aku," jawab Ana penuh amarah.


"Kami di jodohkan Ana, perjohan yang tak pernah aku inginkan, karena aku cintanya sama kamu, tapi aku gak bisa menolak perjodohan ini Ana," jelas Fatih, sementara Maya hanya menunduk merasa bersalah.


"Kamu perempuan murahan May," cerca Ana.


"Aku gak peduli Ana, aku suka sama mas Fatih, aku cinta sama dia,dan sekarang ia akan jadi milikku," ucap Maya tak kalah sinis.


"Kamu..." ucap Ana menggantung dan pergi meninggalkan Fatih dan Maya.


Fatih enggan menanggapi ucapan Maya, ia hanya menatap Maya dengan tatapan tak bisa diartikan, dan meninggalkan Maya.


Sejak saat itu, Fatih tak pernah bertemu denga Ana lagi hingga pernikahannya dengan Maya berlangsung. Terakhir Fatih mendapat kabar mengenai Ana, Ana berada di luar negeri untuk tinggal disana. Fatih masih selalu berharap bisa bertemu dengan Ana hanya untuk meminta maaf, karena ia selalu di hantui rasa bersalah.


**Flashback off***


Maira mendengarkan penjelasan Fatih dengan seksama.


"Semua keputusan ada di tanganmu Ra, tapi papa gak mau kamu jadi lampiasan kebencian Ana karena kesalahan yang pernah mama dan papa lakukan," ucap Fatih setelah menjelaskan masa lalunya.


Maira masih enggan menjawab, pikirannya di penuhi tentang Darren, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Maira hanya diam, hatinya teriris dengan pisau tak kasat mata, membuat matanya mengembun kembali.


🍁


🍁


🍁


***Jangan lupa like, vote,dan komentar ya,


mampir juga di ceritaku yang lainnya


🔖 Hijab pertama Na


🔖 The pellows

__ADS_1


Tinggalkan jejak disana juga ya 💐


Follow juga akun ig author @rinayuna73, kita meet up disana juga kuy 💜***


__ADS_2