Pupus

Pupus
Mochi!


__ADS_3

     Kamu itu alasan aku senyum, kalo kamu sedih, nanti aku senyum karena apa?


     -Dafa Garuda, Temanggung 2019


___________________________


      Pagi itu, matahari memancarkan sinarnya begitu baik, hingga tak menutup kemungkinan upacara hari Senin ini diadakan. Tampak di sana, gadis mungil berhijab segi empat berjalan tergesa melewati lorong demi lorong panjang sesekali berhenti mendadak ketika seseorang menghalangi jalan. Tidak seperti biasanya, jam tujuh kurang lima menit mereka sudah tampak rapi dan bersiap menuju lapangan. Menggenggam erat topi abu-abu yang sudah tidak bagus lagi sambil merapikan jas hitam pembungkus seragam osis. Amora berjengit ketika sebuah peluit keras berhasil menusuk lubang telinganya. Ia mendapati Pak Lala berdiri di ujung koridor dengan peci hitam yang melekat di kepala. Pantas saja mereka semua sudah bersiaga, rupanya sudah ada "pawang" yang nangkring di pojokan.


      Amora makin melebarkan langkah. Berlari menaiki tangga menuju lantai dua tempat kelasnya berada. Begitu sampai di sana, gadis itu membungkuk menetralkan napas yang tersengal. Sejurus kemudian, tangan mungil itu bergerak meraih botol minuman di meja, entah milik siapa. Menenggak cairan dingin itu kemudian membongkar tas hijau tuanya.


      " Tumben telat," sosok jangkung sudah berdiri di depan pintu kelasnya yang sepi. Semua penghuni di sini sudah berbondong-bondong pergi semenjak kedatangan Amora. Hanya tinggal dua gadis tulen yang masih berkaca di pintu depan kelas.


       " Kesiangan," jawab Amora seadanya. Ia bergerak dengan cepat untuk menuju lapangan. Sosok itu terkekeh ketika Amora memilih untuk bersikap acuh. Ia mempercepat langkah menyamai kedudukan. Mereka berjalan beriringan.


       " Tadi malem emang sampai larut ya? Kamu motret di mana sih?" tanyanya lembut. Tidak sunkan membenarkan letak jilbab Amora yang sedikit tersingkap.


       " Kira-kira sampai jam sebelasan kali ya," jawab Amora pelan. Dafa, laki-laki itu menghentikan langkah. Membuat Amora mau tak mau ikut berhenti. Gadis itu mengernyitkan kening. Ada yang salah?


       " Kok sampai malem? Nggak ngabarin aku lagi. Lain kali jangan sampai lupa waktu dong" cerocos Dafa dengan nada penuh penekanan. Amora memutar bola mata malas kemudian menarik Dafa agar segera beranjak dari tempatnya.


        " Udah ah, nggak penting ngomongin ini sekarang, mending cepetan ke lapangan!"


        Amora menyeret ujung jas Dafa yang tidak dikancing. Ia memperlebar langkah sambil menarik lelaki tak tahu diri di belakangnya. Sudah tahu badannya berat, malah mempersulit langkah. Tidak melangkahkan kaki barang sedikitpun, kan Amora jadi tidak kuat.


        " Dafa! Kamu ikut jalan dong, berat tauk!"


              ********


       Perjalanan dari lapangan menuju kelas membuat Amora sedikit merasa lelah. Berdesakan dengan ratusan murid yang saling mendorong memperebutkan jalan untuk sampai pada kelasnya. Amora masih sibuk membenarkan jilbab yang tertekuk karena memakai topi. Cuaca tadi benar-benar panas, Amora kira hanya cerah biasa, tapi lama kelamaan membuat kepalanya pusing juga.


        Di Temanggung ini, sudah sekitar satu minggu musim pancaroba terjadi. Pagi sampai siang panas terik lalu menjelang sore sudah mendung. Tak ayal jika banyak di antara mereka mulai mengalami gangguan sakit ringan seperti flu, demam, bahkan ada yang diare.


        Amora melangkah memasuki kelas. Suasana sekarang sedang ribut sekali. Pagi seperti ini, mereka lebih memilih mengerjakan tugas yang belum sempat dikerjakan tadi malam, atau bahkan ribut mencari artikel untuk bahan pembuatan laporan. Ah, Amora ingat, laporan praktikum minggu lepas dikumpulkan besok Kamis. Ia jadi meradang sendiri. Selain karena kepadatan jadwal pemotretan, laporan ini jauh berbeda dari laporan biasanya. Mungkin karena efek pemberian format dari guru baru, makanya hampir mirip dengan anak kuliahan. Harus berdasarkan sanitasi, artikel, dan bla bla bla lainnya.


       " Hari ini kosong sampai jam istirahat kedua, rencananya mau ngapain?" Amora menolehkan kepala ketika sebuah suara merenggut lamunannya. Ia tersenyum. Memandang chairmate-nya dengan pandangan sumringah. Ini merupakan kabar menggembirakan.


       Amora membalikkan badan sedikit, ia merogoh tas di belakang punggungnya tanpa berniat membalas pertanyaan dari Vera. Lengan gadis itu meraih sebuah notebook kecil kemudian diletakannya pada meja. Lumayan, ia tak membawa buku laporan, jadi lebih baik menyicil untuk editing foto tadi malam supaya hari besok lebih banyak waktu luang.


      Vera mendengus, ia melipat kedua lengan pada meja " Kalo udah hobi emang susah ya," cibirnya pelan. Amora terkikik. Ia membuka notebook itu kemudian menyalakannya. Beberapa detik kemudian, layarnya berubah, menampilkan foto dirinya dengan Dafa dan teman SMP di alun-alun kota sekitar satu minggu yang lalu. Vera melongokkan kepala, mencari sesuatu hal yang bisa dijadikan bahan godaan.


       " Ciaatt, rangkul-rangkulan lagi sama ayang mbeb, kapan nih?" lancar juga aksi Vera, keberuntungan memihak kepadanya karena melihat lengan Dafa bertengger manis di bahu Amora pada foto itu.


       Amora yang semula meladeni banyak pesan dari Kak Egie, salah satu kakak kelasnya yang sekarang sedang melaksanakan Praktik Industri kini mendongak. Melirik Vera yang tengah menaim turunkan alisnya. Sok imut banget.


       " Minggu lalu, biasa aja kali, Ver" jawab Amora singkat. Tangannya bergerak meraih mouse yang sudah dipasang pada notebook kemudian mulai sibuk dengan aplikasi editingnya. Beruntung tadi malam fotonya sudah dipindah, jadi ia tak kelabakan.

__ADS_1


       " Eh, dimana tuh?" tanya Vera lagi ketika kembali kepo dengan foto yang ditampilkan pada layar notebook Amora. Itu foto Amora bersama seseorang yang pernah mengisi hari-harinya. Kalian bisa sebut itu mantan.


        " Jogja, Malioboro"


        " Kok kaya asing ya?"


        " Selain karena tempatnya sekarang udah agak beda, angel-nya juga diperhatiin"


        " Gila, emang komplotan fotografer ya gini" decak Vera kagum. Ia beberapa kali menunjukkan rasa terpukaunya ketika melihat Amora berkutat pada beberapa efek warna pada foto itu yang menjadikannya lebih hidup.


        " Tadi malem berarti ya, Mor?"


         " Yoi"


         " Pantes, diWhatsapp centang satu"


         Amora terkekeh geli. Meski pandangannya masih pada foto itu, setidaknya Vera masih merasakan Amora tidak mengabaikannya. Sudah tidak asing lagi, kebiasaan gadis itu duduk di pojokan kelas ketika jam kosong, memanfaatkan waktu sekedar menulis, mengedit foto, atau berchat ria dengan Kak Egie.


          Amora bisa dibilang sangat jarang berinteraksi dengan teman sekelasnya. Semenjak kelas diacak, ia jadi malas jika harus berbaur dengan teman-teman yang tidak bisa satu pemikiran dengannya. Lebih mengarah ke laki-laki, menggoda, atau bahkan sibuk membahas cara mempercantik diri.


        Amora rasa ini bukan ranahnya. Lagipula, ia nyaman dengan kegiatannya sendiri. Biar dikata introvert, ia tak begitu. Masih sesekali bercanda dengan teman lain meski tidak selepas dulu saat bercanda bersama teman kelas yang lama.


         " Amora dicari Dafa,"


              ********


       Amora memanyunkan bibirnya ketika Dafa tak kunjung datang. Ia menyibukkan diri membuka ponsel karena ia tahu tak ada yang dikenalnya di tempat sumpek ini kecuali Dafa. Kalau Dafa itu beda lagi, dia kan anak cukup populer, royal, jadi siapapun pasti bisa jadi teman ngobrolnya.


        Amora belum bilang, ia dan Dafa sudah cukup dekat sedari lama. Semenjak kelas dua semester awal, laki-laki yang sering ikut basket itu sering bertemu dengannya ketika waktu itu Amora sering menjemput Ghana yang notabenya satu ekstra dengan Dafa. Jadilah, gadis yang memiliki hobi tidur di alam bebas bersanding dengan laki-laki pemantul bola hebat. Bukan pendamping sih, teman dekat saja, atau... ah, Amora tidak ingin memperinci.


         " Ngelamun terusss!" ujar Dafa dengan memperpanjang kata akhirnya. Amora mendongak. Menggeser tempat duduk untuk Dafa karena memang gazebo ini dibuat dengan meja yang menempel pada lantai sehingga sulit dipisah serta bangku daru beton yang didesain melingkari ruangan terbuka ini. Dafa duduk meletakkan semangkuk siomay kacang di hadapan Amora.


         " Lama amat," sungut Amora. Dafa hanya terkekeh. Tak lama, pesanan es susu datang diantar oleh penjaga kantin. Mereka berdua tersenyum mengangguk.


          " Antri dong, Mochi"


          Amora reflek menoleh. Ia mengerutkan kening memandang Dafa dengan pandangan bingung. Mochi katanya? Bocah ini sedang tidak mabuk kan?


         Dafa terkekeh. Ekspresi Amora ini benar-benar menggemaskan. Kalau saja gadis itu tidak mengenakan hijab, sudah habis rambutnya diacak oleh tangan kekar itu.


          " Mochi?"


          " Iyalah, pipi kamu kan tembem, kaya mochi yang aku buat pas praktik kemarin" jawab Dafa sambil mengerlingkan matanya. Amora melotot kaget sedikit tak terima, namun sedetik kemudian ia tersenyum melihat tawa Dafa lepas begitu saja.


          " Nah gitu dong senyum"

__ADS_1


          " Emang kenapa?"


          " Kamu itu alasan aku senyum, kalau kamu sedih, nanti aku senyum karena apa?"


          " DAFA GOMBALL!!"


               ******


       " Daf, aku pengen seblak deh"


      Amora meraih ujung tali tas hitam milik Dafa. Mereka berdua tengah berjalan menuju tempat parkir yang lumayan jauh dari kelas mereka. Setengah jam yang lalu bel pulang berbunyi dan mereka baru saja memutuskan untuk pulang. Kata Amora menunggu parkiran sepi, padahal kenyataannya, mau sampai maghrib pun parkiran ini tak akan sepi. Mereka akan pulang ketika langit sudah menggelap. Baik itu karena mendung atau karena malam. Heran juga, sekolah ini bisa membuat muridnya betah berada di sini. Selain karena alasan wifi, mereka yang cuma nongkrong di sini akan merasa sangat nyaman, kadang merasa malas untuk pulang. Jika ada kegiatan yang membuat mereka pulang awal pun mereka tak segera pulang, meski awalnya akan bersorak gembira. Intinya, yang terpenting mereka bebas dari belenggu materi pelajaran.


       Amora berdiri di samping Dafa ketika laki-laki itu meraih stang motor matic miliknya yang terparkir di bawah pohon rimbun. Sengaja supaya joknya tidak terpapar matahari sehingga aman-aman saja jika diduduki;tidak panas. Tadi Dafa berangkat bersama temannya, jadi saat pulang bisa bersama Amora.


       " Di Kandangan masih ada nggak?" tanya Dafa. Amora jadi menerawang tempat seblak enak di depan dealer motor daerah Kandangan, daerah tempatnya tinggal. Dafa pun juga, tapi sekarang lebih memilih tinggal di rumah neneknya di daerah Walitelon.


        " Nggak ada" jawab Amora lesu. Dafa menghela napas panjang kemudian menyerahkan helm bogo cokelat itu pada Amora.


        " Ke pasar?"


        " Nggak usah deh, kamu pasti capek. Besok aja gampang"


        " Kan aku udah bilang, kamu itu alasan aku senyum, kalo kamu sedih gini nanti--"


        " Udah ah, banyak gombal kamu. Pulang aja"


         " Bener?"


         " Iya,"


         " Yakin?"


        Amora mengangguk mantap. Motor itu sudah keluar dari gerbang parkuran. Berjalan pelan menuju gerbang utama. Dafa terkekeh sambil memperhatikan raut wajah kesal Amora lewat kaca spion.


        " Nggak nangis?"


        " Dafa ih mulutnya comel kaya cewek!"


         " Habis mochi-nya Dafa lucu sih,"


         " Dafa diem!"


          *******


       

__ADS_1


__ADS_2