
Sebulan acara perjodohan Darren dan Billa berlangsung, keluarga mereka sangat antusias akan hal itu, terutama Ana dan Maya. Sementara anak mereka masih terus memutar otak supaya perjodohan mereka di batalkan. Billa yang selalu tak enak hati dengan sahabatnya yang kini tengah berjuang bersama Darren untuk mendapatkan restu dari orang tua mereka. Hubungan Darren dan Maira kembali menghangat, walau Darren tak begitu tenang dengan hubungan mereka yang entah sampai kapan. Darren selalu tak tega untuk menjelaskan pada Maira, ia bahagia ketika melihat Maira kembali tersenyum, namun hati dan pikirannya selalu dihantui dengan perjodohan yang sangat sulit untuk ia tolak karena ancaman Ana yang sangat mujarab bagi Darren.
Hari ini Darren kembali berencana untuk menemui Billa tanpa sepengetahuan Maira, mereka bertemu di perpustakaan kampus mereka yang berada lantai dua kampus mereka.
"Gimana Ren, ini sudah sebulan tapi kita masih belum bisa membatalkan perjodohan ini. Mama gue semakin bersemangat dengan perjodohan ini," ucap Billa dengan penuh kekhawatiran.
"Gue juga gak ngerti Bill, mama gue juga selalu ngancam gue jika harus batalin perjodohan ini," jawab Darren dengan frustasi.
"Gue semakin gak enak hati sama Maira, Ren. Apalagi dia begitu ingin berjuang untuk bisa dapat restu dari mama Lo, dia pengen ngajak Lo berjuang bareng. Tapi apa gak ini terlalu jahat jika Lo malah sama gue?"
"Gue juga gak tega buat jelasin semuanya sama Maira." Singkat Darren.
"Masa iya aku harus korbanin persahabatan gue sama Maira?" keluh Billa yang semakin frustasi.
Darren dan Billa benar-benar pening di buatnya. Perjodohan yang tak pernah ia inginkan, perjodohan yang membuat mereka harus memilih, walaupun pilihan itu sangat berat bagi mereka. Akan ada banyak hati yang sakit jika pilihan yang tidak tepat lah yang mereka ambil.
🍁🍁
Maira sampai di kampus dengan mobil pribadinya. Semenjak hubungannya bersama Darren sempat tegang, ia tak pernah lagi di antar jemput Darren, ia lebih memilih berangkat ke kampus sendiri, mengingat hubungan mereka yang kini di tentang oleh orang tua mereka.
Maira sengaja berangkat lebih pagi, karena ia ingin mengembalikan buku yang seminggu yang lalu ia pinjam di perpustakaan. Ia melangkah dengan senyum yang mengembang menaiki anak tangga, sampai ia bertemu dengan Romi yang tepat berada di ujung tangga lantai dua.
"Hai Ra," sapa Romi ramah.
"Hai, mau ke perpus?" tanya Maira.
"Iya ini, mau balikin buku," jawab Romi
"Sama dong, barengan yuk," ajak Maira dengan terus mengembangkan senyum manisnya.
__ADS_1
Maira dan Romi berjalan beriringan dengan obrolan ringan mereka, sampai mereka sampai di loket pengembalian buku yang di jaga oleh petugas perpustakaan.
"Bu, mau balikin buku," ucap Maira sopan.
"Eh mbak Maira. Baik mbak. Lo mbak, kok gak sama mas Darren? malah mas Darren udah ada di dalam sama perempuan pakai hijab," ucap petigas perpustakaan setelah mengetahui Maira datang bersama Romi. Hubungan Maira dan Darren memang cukup terkenal di wilayah kampus, bagaimana tidak, Maira yang datang sebagai mahasiswa baru dapat meluluhkan Darren yang terkenal dengan sikap acuhnya, bisa luluh dengan seorang Maira.
"Darren di dalam, Bu?" tanya Maira memastikan.
"Iya mbak, baru juga sepuluh menitan," jawabpenjaga perpustakaan itu.
Mendengar jawaban petugas perpustakaan membuat Maira mengembangkan senyumnya. Sementara Romi sudah tahu siapa wanita yang bersama Darren. Hati Romi semakin cemas, akan nasib sahabat-sahabatnya ini.
"Rom, masuk yuk," ajak Maira semangat.
"Gak usah lah, aku mau balik ke kelas aja," jawab Romi seakan tak ingin ikut campur urusan mereka.
Maira dan Romi masuk ke perpustakaan, melihat setiap sudut ruangan. Mata Maira pun menemukan sosok yang ia cari, tepat di bangku tempat para mahasiswa membaca, Darren dan Billa duduk berhadapan, tak ada buku di hadapan mereka, hanya raut wajah penuh kecemasan yang terpampang diantara keduanya. Maira sangat bersemangat menghampiri Darren dan Billa, namun langkahnya terhenti ketika obrolan mereka yang begitu intens, Maira mencoba mendengarkan baik-baik obrolan mereka tepat di lorong rak buku yang berada di belakang meja Darren dan Billa, di temani oleh Romi yang kini sudah berdiri disamping Maira, mereka berdua mendengarkan dengan seksama obrolan yang terjadi antara Darren dan Billa.
Bagai di sambar petir, tubuh Maira menegang mendengar obrolan Darren dan Billa yang sangat menyakitkan, harapannya seketika luruh tak berjeda. Romi menatapnya iba, sesekali ia mengusap punggung Maira berusaha menenangkan walaupun tak ada kata yang terucap dari bibir Romi. Romi seakan paham dengan apa yang Maira rasakan.
Maira melangkah meninggalkan Romi yang masih berdiri di sampingnya, ia berusaha mendekat ke arah Darren dan Billa.
"Kalian," ucap Maira lirih namun masih dapat terdengar oleh Billa dan Darren, air matanya tumpah seketika. Sontak membuat Billa dan Darren menoleh ke sumber suara.
"Maira," ucap Billa yang tak percaya sahabatnya berada di tempat yang sama.
"Ra.." ucap Darren dan bangkit dari kursinya berusaha mendekat ke arah Maira, namun Maira lebih dulu berlari meninggalkan perpustakaan.
Darren mengusap wajahnya kasar, dan beberapa detik ia pun berlari untuk mengejar Maira. Sementara Billa masih duduk di tempatnya, menenggelamkan wajahnya di ujung meja dengan derai air mata yang tak terhenti. Perasaan bersalah menyelimuti dirinya, tak henti-hentinya ia merutuki dirinya sendiri. Romi yang sejak tadi berdiri di tempatnya, kini ia melangkahkan kakinya mendekati Billa yang juga sangat terpuruk.
__ADS_1
"Jangan nangis lagi," ucap Romi datar.
Sekilas Billa mengangkat kepalanya, memastikan suara itu memang untuknya.
"Gue teman yang jahat."
"Kalian semua itu korban, Lo gak perlu nyalahin diri Lo sendiri." jelas Romi dengan ekspresi yang masih datar.
"Maksud Lo?" tanya Billa tak mengerti, yang kemudian mengangkat kepalanya dan memperbaiki posisi duduknya.
"Gue udah tau semua, gue juga udah tau sebelum Maira tau. Sekarang tugas Lo sama Darren jelasin ke Maira." jelas Romi tegas.
Billa hanya menatap kosong, Billa begitu frustasi dengan kejadian yang terjadi beberapa menit lalu. Hatinya hancur, sudah di pastikan persahabatannya pun kini hancur juga, dan semua terjadi karena perjodohan yang tak pernah ia banyangkan dan ia inginkan. Billa seakan terus merutuki dirinya sendiri, ia ingin lari sekencang-kencangnya pergi dari kehidupannya yang seakan kelabu secara tiba-tiba. Namun apalah daya, nasib baik belum berpihak kepadanya.
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa vote, like, dan komentar serta ritting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya 💐
baca juga cerita ku yang lainnya,
🔖 hijab pertama Na
🔖 the Pellows
tinggalkan jejak disana juga ya 💐
__ADS_1