
Ada yang aneh di pagi ini. Mama yang biasanya ga peduli dengan sarapan, sekarang tiba-tiba sibuk ngatur makanan di meja makan. Gue yakin ini lebih buruk dari berita kemarin? Apa sekarang gue bakal ditinggal sendiri? Ditelantarin?
Gue narik salah satu kursi dan duduk sambil memperhatikan Mama yang dengan telatennya nuangin nasi goreng ke piring dan nyerahin ke gue sambil senyum. Mama kenapa, sih? Sumpah, perasaan gue ga enak.
"Makan, Lis," ucap Mama ke gue yang cengo.
Pelan-pelan gue mulai makan, sambil tetep perhatiin tingkah Mama. Dengan senyum lebarnya dia ikut duduk dan juga makan. Kenapa ini rasanya aneh? Padahal, ini emang udah seharusnya terjadi.
"Kita ga jadi pindah."
Degh!
Nasi yang belum sempat gue kunyah harus gue telan begitu aja. Dengan cepat gue langsung minum air putih yang ada di depan gue.
"Hah!?"
Mama lagi-lagi senyum. Dan buat gue itu mengerikan.
"Kita ga jadi pindah, Papa kamu yang bakal ikut kita disini,"
Demi apa? Papa yang bakal pindah kesini? Gue natap mama curiga.
"No pura-pura?"
"Apa mama pernah bohong?"
Oke, gue percaya. Senyum gue terbit. Semuanya bakal baik-baik aja, gue ga bakal ninggalin sekolah gue disini, serta Faiz dan Rajaf.
•••
__ADS_1
"Lempar bolanya, Iz."
"Udahan, deh. Nanti kita keciduk guru, mau lo?"
Rajaf menggaruk tengkuknya. Gue ketawa pelan ngeliat tingkah mereka. Faiz sama Rajaf lagi main basket di dalam kelas. Temen-temen gue ga ada yang negur mereka karena emang udah kebiasaan. Kadang gue juga ikut, tapi sekarang gue males. Mereka berdua akhirnya jalan mendekati gue.
"Lo udah makan?" tanya Rajaf ke gue.
"Udah, kok."
Faiz yang baru aja lempar bola basketnya ke sudut belakang noleh ke gue. "Gue sama Rajaf mau ke kantin, nih. Mumpung kelas masih jamkos."
"He'eh. Kalo gitu kita duluan."
Eh, gue ditinggal gitu? Baru aja mereka jalan gue langsung teriak. Mereka noleh sambil naikin alis.
"Ayo."
Yes. Gue langsung lari dan ngambil tempat di antara mereka. Kita bertiga jalan dengan tangan Rajaf ngerangkul gue.
"Jaf, tangan lo dikondisiin dong, berat ya ampun." Gue langsung lepasin tangan Rajaf. Faiz terkekeh.
"Gitu banget, lo, sama gue."
Gue narik hidung mancung Rajaf. "Lebay."
Faiz ketawa.
"Kalian bertiga!"
__ADS_1
OMG! bulu kuduk gue merinding. Kita bertiga tiba-tiba berubah menjadi patung. Masalah datang!
Kita mutar badan sambil cengengesan. Lima meter di depan sana ada Pak Broto dengan kumis tebal dan kepala botaknya natap tajam kita bertiga.
Pak Broto jalan mendekat. Perut buncitnya tercetak jelas dibalik kemeja birunya. Jantung gue berpacu, ini bukan jatuh cinta asal lo tau.
"Kabur, yuk, kabur," bisik Rajaf di sebelah kiri gue.
"Jangan, ****," balas gue berbisik juga.
Gue gigit bibir. Pak Broto berhenti tepat di depan gue.
"Mau kemana kalian?" Suara Pak Broto menggelegar.
Kita bertiga saling pandang. Tatapan tajam Pak Broto mengarah ke gue.
"Ini, kita mau ke toilet pak," jawab Rajaf.
Gue sama Faiz diem-diem nepuk kening. Dasar ****.
"Mau ke toilet? Kamu," Dia nunjuk gue. "Kamu cowok?" Heh? Pertanyaan macam apa itu? Gue menggeleng.
"Bener-bener kalian ini. Kalian bertiga ikut saya!" Pak Broto berbalik badan.
"Kemana, Pak?" Kita bertiga ngeluarin pertanyaan yang sama.
"Jemput hadiah kalian," jawab Pak Broto dan jalan lagi.
Kita bertiga saling pandang lagi. Mati gue!
__ADS_1