Pupus

Pupus
BAB XXIII


__ADS_3

***Assalamualaikum readers. Jangan lupa tinggalkan jejak disini ya.. beri like, vote, komentar dan bintang 5 nya ya 😍


Terimakasih sebelumnya 🙏😍🤩


## happy reading***


Darren melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Maira untuk menghadiri undangan makan malam oleh Fatih. Setelah pulang dari taman bunga dan mengantar Maira, Darren pulang untuk mandi dan berganti baju.


Darren menggunakan kebeja putih lengan panjang yang di gulung sesiku dan bawahan jeans panjang warna biru di lengkapi dengan snackers dengan warna senada. Tampilan Darren begitu sederhana namun tetap menampilkan kewibawaannya.


Tok..Tok..


Tak lama Darren mengetuk pintu, kemudian pintu itu terbuka, dan menampakkan sosok Fatih di balik pintu itu.


" Malam om". Sapa Darren dengan mencium pundak tangan Fatih.


" Ayo masuk dulu Ren". Ajak Fatih dengan suara yang begitu hangat.


Fatih dan Darren duduk berdua di ruang tamu.


" Giman cafe nya Ren? Om dengar kemarin baru pembukaan cabang baru.". Tanya Fatih basa basi.


" Ah iya om, itu juga bukan cafe Darren, tapi peninggalan papa, jadi Darren cuma bantu mama buat ngurusinnya". Jawab Darren merendah.


" Peninggalan papa kamu? maksud kamu.......". Ucap Fatih terpotong.


" Iya om, papa Darren meninggal dua tahun yang lalu, jadi di rumah cuma Darren sama mama".


" Maafkan om Darren, om gak ngerti". Ucap Fatih merasa bersalah.


" Gak papa kok om". Ucap Darren sambil melebarkan senyumannya.


" Ya sudah yuk kita ke meja makan, om ngundang kamu kesini mau ngajak kamu makan malam". Ucap Fatih yang di balas anggukan oleh Darren.


Darren dan Fatih duduk di meja makan bersama. Dengan Darren yang berada di sebelah kanan Fatih.


" Bi Inah". Panggil Fatih.


" Iya tuan". Jawab Bi Inah sambil menundukkan kepalanya.


" Tolong panggilin Maira ya buat makan malam, dan bilang sudah ada Darren disini". Titah Fatih, dan di balas anggukan oleh BI Inah.


Tak lama, Maira menuruni tangga dan langsung duduk di sebelah kiri Fatih dan tepat di depan Darren.


" Kamu Ra, Darren udah dari tadi disini kamu malah gak turun-turun". Ucap Fatih.


" Maira kan gak tau pa".


" Ya sudah ayo kita makan, di enakin aja ya Ren". Ajak Fatih.


Suasana di meja makan begitu hening, hanya dentingan sendok yang berbenturan dengan piring.

__ADS_1


Setelah acara makan malam selesai, Darren dan Maira menuju taman di samping rumah Maira, yang sebelumnya Fatih sudah pamit menuju ruang kerjanya.


Hatcing


" Kamu sakit Ra?". Tanya Darren sambil menyentuh kening Maira.


" Gak kok Ren, paling cuma sedikit flu". Jawab Maira.


" Kamu istirahat aja ya, aku pulang"


" Duduk lah disini Ren". Maira menarik lengan Darren supaya duduk di bangku taman bersamanya.


" Biarkan aku separti ini seperti ini, sebentar aja". Maira menyandarkan kepalanya di bahu Darren.


" Ren, kalau terjadi sesuatu sama hubungan kita gimana?". Tanya Maira.


" Aku akan terus berjuang supaya sama-sama kamu terus". Jawab Darren mantab.


" Kamu gak usah tanya macam-macam Ra". Tambah Darren yang hanya di balas anggukan oleh Maira.


" Sampai kapanpun dan bagaimanapun, aku akan tetep cinta sama kamu Ra".


Setelah sekian menit tak ada jawaban dari Maira, Darren merasa ada yang aneh. Darren memutar posisi duduknya supaya dapat menatap gadisnya.


" Ra kamu tidur?". Tanya Darren sambil menepuk pipi Maira.


" Maaf Ren". Jawab Maira sambil mengucek matanya.


" Ngantuk aku Darren, sumpah enak banget tidur di pundak kamu, hehehehe". Ucap Maira yang di sertai cengiran di akhir kalimatnya.


" Udah ah jangan ngambek, ntar aku tambah cinta lho". Goda Maira sambil mencolek ujung dagu Darren.


Darren menatap lekat-lekat mata Maira dan memajukan wajahnya, dan kini jarak wajah mereka hanya beberapa centi. Wajah Maira sudah memerah dengan keadaan seperti itu.


Namun Darren tetap menjalankan aksinya, Darren mencium bibir Maira dengan hangat, namun tetap mendapat balasan oleh Maira, hingga ciuman mereka semakin memanas.


" I love you Ra". Ucap Darren sambil melepas ciumannya.


" I love you too Darren". Balas Maira dan Maira pun menyambar tubuh Darren untuk ia peluk dengan erat.


" Makasih untuk semuanya Ren". Tambah Maira, Daren hanya membalas dengan anggukkannya.


Malam semakin larut, seakan keheningan malam menjadi saksi bisu akan cinta kedua insan yang tengah di mabukkan oleh cinta itu.


" Ra sudah malam, aku pulang ya". Pamit Darren


" Ya sudah kamu pulang gih, papa kayaknya juga sudah tidur". Ucap Maira.


Maira mengantar Darren hingga halaman rumah Maira, Darren menginjak pedal gas mobilnya meninggalkan kediaman Siregar.


Maira masuk dan menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Bruk


Maira melempar tubuhnya di atas kasur ternyamannya. Ia begitu merasa lelah hari itu, hingga tak butuh waktu lama, Maira memejkan matanya untuk mengukir mimpi, ya mungkin mimpi bersama Darren yang ia inginkan.


###


Darren memarkirkan mobilnya di dalam garasi rumahnya, dan kemudian masuk ke rumahnya.


" Dari mana kamu Ren?". Tanya Ana yang keluar dari ruang kerjanya.


" Dari rumah Maira ma, papanya ngundang makan malam tadi. Mama kok belum tidur?". Ucap Darren sambil mendekati Ana.


" Mama masih ngurusin beberapa dokumen Ren". Jawab Ana.


" Ren papa Maira sudah sering ketemu sama kamu?". Tanya Ana sambil menuju sofa di ruang santai


" Iya ma, kan Darren sering jemput Maira".


" Wah kayaknya hubungan calon menantu dengan calon mertua akan terjalin baik nih". Goda Ana sambil mencolek ujung dagu Darren.


" Apaan sih mama. Bukannya mama juga suka sama Maira".


" Iya juga ya Ren, dia itu manis sekali". Ucap Ana sambil membayangkan sosok Maira.


" Ren, Minggu depan ajak Maira kesini, ganti mama yang ngundang dia".


" Oke ma. Darren ke kamar dulu ya ma, Darren mau istirahat". Ucap Darren.


" Baikklah sayang". Ucap Ana sambil mengusap lengan anak semata wayangnya.


Darren menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya. Darren membuka balkon yang berada di dekat kamar Darren. Darren merasa enggan untuk tidur, ia memilih menikmati udara malam dan duduk di kursi yang terdapat di atas balkon.


" Terimakasih Tuhan, Engkau kirimkan orang yang sayang kepadaku, Maira, mama, papa Maira dan sahabat-sahabatku". Ucap Darren sambil menatap langit yang nampak gelap pekat dan hanya dibtaburi Sinaran bintang seraya ia bersyukur.


Mengingat setiap detik bersama Maira, merupakan aktifitas baru untuk Darren sebelum memejamkan matanya. Perempuan itu benar-benar membuat Darren banyak berubah, perempuan itu yang selalu mengisi pikirannya dan juga hatinya, perempuan yang menjadikan hari-hari Darren begitu penuh warna.


Maira datang tanpa permisi di hati dan pikiran Darren, namun selalu memberikan kebahagiaan kepada Darren, sampai-sampai Darren sering merasa gila karena Maira.


" Aku akan terus berusaha menjagamu Ra, apapun yang terjadi". Batin Darren sambil mengukir senyum manis di bibir merah Darren.


💦


💦


💦


Spam like


Spam komentar


Spam vote

__ADS_1


__ADS_2