Pupus

Pupus
Bab XXXI


__ADS_3

Maira duduk di depan meja riasnya, ia bersiap untuk berangkat ke kampus. Maira mengingat kotak biru yang di berikan Darren waktu di kampus, ia belum sempat membukanya. Maira membuka laci yang berada di bawa meja riasnya, ia membuka perlahan kotak itu. Maira terpana dengan kalung berliontin hati dengan dihiasi dengan permata yang begitu cantik, bibirnya melengkung membuat senyuman manis, seakan lupa akan sakit hati yang ia rasakan. Maira melingkarkan kalung indah itu di leher jenjang yang putih miliknya.


"cantik," lirihnya dan masih dengan senyum tipis di bibirnya.


Segitu cintanya kah kamu sama aku Darren? Tapi bagaimana dengan orang tua kita..


Apakah harus kita menentang orang tua kita?


Tiba-tiba hati Maira kembali sakit, mengingat yang terjadi dengan hubungannya. Namun Maira pasrah, ia akan berjuang semampunya untuk mendapat restu dari orang tua mereka.


Maira berangkat ke kampus dengan mamakai kalung pemberian Darren, Maira sangat senang, namun lagi-lagi hatinya terasa sakit kala mengingat orang tuanya.


🍁🍁🍁


Darren berangkat ke kampus lebih awal, ia sudah berencana bertemu dengan Billa, untuk merencanakan pembatalan perjodohan mereka. Mereka sengaja berangkat lebih pagi supaya tak ada yang mengetahui perihal perjodohan mereka, terutama Maira.


Darren yang sudah menunggu Billa cukup lama di depan kelasnya merasa cemas, ia mondar-mandir di depan kelas Billa dan Maira. Keterlambatan Billa menjadi sesuatu hal yang sangat fatal, rencana yang ia siapkan bubar seketika.


"Darren,"


Darren sontak membalikkan badannya menuju sumber suara.


"Ma..Maira," ucap Darren gagap.


"Kamu ngapain disini? sepagi ini?" tanya Maira bertubi. Maira hatinya begitu senang melihat laki-laki yang ia cintai, namun ia berusaha terlihat biasa-biasa saja.


"Ah.. aku...nunggu kamu, iya.. nunggu kamu," ucap Darren mencari alasan.


Maira hanya mengernyitkan keningnya melihat Darren yang salah tingkah dan terasa canggung. Sementara Darren menatap sekilas pada Maira dan menundukkan kepalanya, sekilas ia melihat benda berkilau melingkar di leher Maira, Darren kembali mengangkat kepalanya dan memastikan benda itu memang kalung pemberiannya.


"Kamu suka sama kalungnya?" tanya Darren memecah kecanggungan dengan menatap kalung yang Maira kenakan.


"Kamu beneran kesini nunggu aku?" tanya Maira tanpa menjawab pertanyaan Darren. Maira merasa Darren sedang tidak jujur, ada sesuatu yang ia sembunyikan, dengan sikap canggung diantara mereka.


"Apa aku salah? aku kangen kamu Ra. Aku kangen pacar aku," ucap Darren sendu dengan meraih kedua tangan Maira.


Maira menatap lekat kedua mata Darren yang penuh keseriusan disetiap ucapnnya.


"Cieee pegangan tangan pagi-pagi," suara Billa yang datang tiba-tiba memecah ke romantisan yang baru saja di mulai, membuat Darren sontak melepas tangan Maira. Billa sebelumnya sudah melihat keberadaan Darren dan Maira di depan kelas, namun karena mereka berdua lebih dulu bertemu, Billa menghentikan langkahnya dan hanya memperhatikan keduanya dari kejauhan. Ia merasa senang melihat sahabatnya tersenyum manis ketika berhadapan dengan pacarnya. Namun perasaan Billa berkecambuk ketika mengingat Darren adalah seseorang yang di jodohkan dengannya, namun ia berusaha bersikap seperti biasa saja.


Darren menatap Billa yang baru saja datang, sementara Billa menatapnya sekilas dengan tatapan hambar.

__ADS_1


"Kalian udah baikkan? Ah seneng aku liatnya," ucap Billa antusias.


Maira hanya tersenyum melihat sahabatnya sedari tadi memeluknya dari samping, sementara Darren hanya tersenyum hambar.


"Kalung Lo baru ya Ra? bagus banget," ucap Billa penuh ketakjuban.


"Kado dari Darren," ucap Maira dengan tatapan ke arah Darren yang sedari tadi hanya memilih diam.


"Oh.." singkat Billa. Seakan ada belati tak kasat mata yang menancap pada dadanya, ia begitu sakit menatap tatapan penuh arti dari kedua orang yang berada didepannya. Pengkhianatan terhadap sahabatnya yang tak pernah ada dalam pikirannya, namun kini seakan menjadi alur yang harus ia jalani.


"Masuk yuk. Darren kita masuk kelas dulu ya," ucap Maira sambil menarik Billa untuk masuk kekelas.


Darren hanya mengangguk, dan mengusap wajahnya kasar, ia begitu tak mampu membuat Maira kecewa, ia seakan bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Maira.


**


Didalam kelas Maira memperhatikan dosen yang sedang sibuk mengajar, rona bahagia tergambar di wajah cantiknya, sesekali ia menyunggingkan senyum di bibirnya, sementara Billa memperhatikan dengan hati yang hancur, ia benar-benar tak ingin senyum itu pudar karena dirinya. Sesekali Billa membuang nafasnya dengan berat.


"Lo kenapa Bill?" bisik Maira.


"Gue gak papa, gue seneng aja liat Lo bisa senyum lagi," ucap Billa bohong.


"Gue akan berjuang demi apa yang seharusnya gue dapatin," ucap Maira tegas.


"Gue akan perjuangin Darren, sampai dapat restu mamanya Darren," ucap Maira mantab.


"He.. itu yang belakang jangan ngobrol saja," ucap dosen yang sedari tadi memperhatikan Maira dan Billa sedang berbincang di tengah perkuliahan.


"Maaf pak," jawab Maira sopan.


Billa tak menanggapi ucapan Maira, hatinya kembali berkecambuk, ia pun bingung harus menjelaskan bagaimana pada Maira tentang perjodohannya, sementara keputusan mamanya merupakan final, susah untuk dibantah.


Di tempat lain, Darren duduk di samping bangku Romi, wajahnya nampak lesu seakan menanggung beban yang tak berujung.


"Lo kenapa?" tanya Romi dengan menatap wajah sahabatnya yang nampak lesu.


"Gue gak papa," singkat Darren.


"Ck...Gak usah Lo bohong, capek gue liat sandiwara Lo," ucap Romi sinis.


Darren hanya menatap datar pada sahabatnya itu. Romi memang selalu tahu kala Darren memiliki masalah, namun ia hanya memastikan sahabatnya bercerita padanya.

__ADS_1


"Lo cerita sekarang, atau gue gak akan bantu Lo." Ancam Romi ketika ia mengetahui ada sesuatu yang ingin Darren katakan.


"Gue di jodohin," ucap Darren datar.


Deg.


"Enak dong, Lo gak perlu nyari istri lagi," jawab Romi berusaha santai,walau sebenarnya hatinya tak sedemikian.


Darren hanya membuang nafasnya kasar. Ia begitu paham akan reaksi Romi yang kadang ucapnnya tidak pakai saringan.


"Sama siapa?" tanyanya tegas.


"Billa," jawab Darren singkat.


Jawaban Darren membuat jantung Romi ingin lompat dari tempatnya saking terkejutnya, ia memandang sahabatnya yang masih memasang wajah tak pedulinya.


"Maira tahu?" tanyanya penuh penekanan.


"Itu yang bikin gue sama Billa bingung jelasinnya. Gue cinta sama Maira, tapi keputusan mama dan orang tua Billa final, tak ada bantahan lagi. Bahkan mereka sudah menentukan hari pernikahan gue," ucap Darren menjelaskan.


"Gimana ceritanya sih kalian bisa di jodohkan?" tanya Romi yang seketika ikut puyeng dengan masalah sahabatnya.


"Mamanya Billa, sahabat mama gue," jawab singkat Darren.


"Kalo Lo cinta sama Maira, perjuangin! Sampai kalian dapat restu. kalo Lo pilih perjodohan ini, mau gak mau Lo sama Billa harus jelasin ke dia," jelas Romi tegas.


Darren mencerna ucapan Romi, ia mengusap wajahnya kasar, nafasnya terdengar sangat berat. Bagai buah simalakama, keputusan yang harus ia buat tanpa harus salah sasaran. Hatinya memilih Maira, logikanya masih berkecambuk akan Ana yang selalu mengancamny.


🍁


🍁


🍁


**Jangan lupa vote, like dan komentar ya, ratiing ⭐⭐⭐⭐⭐ juga jangan lupa ya.


Mampir ke cerita yang lainnya juga


🔖 Hijab pertama Na


🔖 The Pellows

__ADS_1


Follow akun ig author juga ya @rinayuna73, kita meet up disana juga ya 💜**


__ADS_2