
Gerbang rumah Sebstian, Darren memarkirkan mobilnya tepat di garasi rumahnya. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya dengan malas. Ia memperhatikan Ana sekilas yang tengah sibuk mempersiapkan makanan.
"Kamu sudah pulang," ucap Ana senang.
Darren hanya diam, ia merasa malas bertemu dengan mamanya. Darren memilih meninggalkan Ana menuju kamarnya. Baru ia akan menaiki anak tangga, suara Ana terdengar kemabali.
"Kamu langsung siap-siap ya, kita ke rumah teman mama," ucap Ana, membuat Darren menghentikan langkahnya.
"Ngapain?" tanya sinis Darren.
"Mama kan sudah bilang, kamu akan mama kenalkan dengan anak teman mama," ucap Ana semangat. Darren yang mendengar itu membalikkan badannya untuk mendekat ke tempat Ana.
"Maksud mama, mama mau jodohin Darren gitu?" tanya Darren sinis.
"Tepat!" ucap Ana singkat, namun terpancar ronah bahagia di matanya.
"Jangan harap, Ma. Darren gak akan pernah mau dengan perjodohan mama. Sampai kapanpun cuma Maira yang Darren mau." jawab sinis Darren dengan tatapan nanar penuh ketidaksukaan.
"Tak ada penolakan! Samapai kapanpun mama gak akan pernah setuju dengan hubungan kamu sama anak perempuan murahan itu Darren." ucap Ana yang penuh penekanan disetiap ucapannya.
"Ma, tolong jangan berucap seperti itu," ucap Darren memohon.
"Turuti maunya mama. Kalo tidak, jangan harap kamu bakal ketemu dengan mama lagi!" Sinis Ana kebudian meninggalkan Darren yang masih mematung dengan ucapan Ana.
🍁🍁🍁
Billa melangkahkan kakinya menuju masuk rumah.
"Assalamualaikum, Ma" ucap Billa ketika masuk rumah.
"Waalaikumusalam, kamu sudah pulasang Sa?" tanya mamanya dengan penuh kebahagiaan. Shalsa, itu lah panggilan sewaktu kecil Billa.
"Mama ngapain masak banyak banget?" tanya Billa yang mengamati mamanya tengah menyiapkan makanan.
"Mau ada teman mama Sa. Dia akan kesini dengan anak laki-lakinya yang akan di kenalin ke kamu," jelas Maya.
"Maksud mama, mau jodohin aku gitu?" tanya Billa yang seakan mengetahui maksud ucapan mamanya.
"Kalo memang cocok, kenapa gak di lanjutin Sa," ucap Maya santai.
"Ma, emangnya aku gak laku sampai di jodohkan segala," gerutu Billa.
"Shalsa, pria ini ganteng, mapan, dan pastinya baik, cobalah mengenalnya. Gak ada salahnya kan," bujuk Maya lembut.
"Terserah lah!" jawab Billa pasrah, dan kemudian meninggalkan mamanya yang masih sibuk menata makanan untuk tamunya.
"Kamu siap-siap Sa," teriak Maya pada putrinya.
Tak ada jawaban lagi dari Billa, ia hanya berlalu menuju kamarnya. Billa merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, ia sedikit malas dengan niat mamanya mengenalkan pada pria yang entah siapa. Sekilas Billa mengingat akan sahabatnya Maira, ia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya yang tengah terluka. Billa meraih ponselnya yang masih berada di tasnya, ia ingin menanyakan keadaan sahabatnya itu.
Me
__ADS_1
Hai Ra, apa kamu baik-baik saja?
Setelah mengirim pesan ke sahabatnya, tanpa menunggu lama, Billa menerima balasannya.
Maira
Gue gak papa Bill.
Setelah membaca pesan yang dikirim oleh Maira, bisa tersenyum tipis.
tok..tok
"Sa, buruan siap-siap! tamunya sebentar lagi datang," teriak Maya di luar kamar Billa.
"Iya ma," jawabnya singkat dengan berteriak.
Billa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia membersihkan diri dan bersiap menyambut teman mamanya. Dengan mengenakan rok plisket warna biru muda dan kaos panjang berwarna hitam, lengkap dengan hijab pasmina warna yang senada dengan bawahannya. Billa sudah siap dengan riasan tipis di wajahnya, ia keluar dari kamarnya dan bergabung bersama orang tuanya yang sudah siap menunggu di ruang tamu.
Setelah menunggu sekitar 30 menit, Billa dan keluarganya menyambut kedatangan tamu Maya.
Tok..tok
"Hai Ana, apa kabar?" sapa Maya dengan ruang setelah membukakan pintunya. Mereka berpelukan dan suami Maya berganti menyalaminya.
"Aku baik, gimana kamu? Wah, ini Shalsa?" tanya Ana yang kemudian menyalami Billa, Billa tersenyum dan mengangguk sopan.
"Mana anakmu?" tanya Maya setelah mengajak tamunya masuk ke dalam rumah.
Setelah mereka mengobrol ringan, seseorang pria masuk dengan mengenakan celana jeans panjang dan kemeja warna hitam denagn lengan yang di pingkis 3/4, membuat ia nampak mempesona, namun tidak dengan raut mukanya dengan mode cueknya.
"Assalamualaikum," ucapnya sopan.
"Waalaikumusalam," jawab serentak penghuni rumah itu.
Billa cengang melihat sosok yang ia kenal, tak beda dengan pria cuek itu.
"Darren"
"Billa"
Sontak membuat orang tua mereka terkejut, karena anak mereka sudah saling mengenal.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Maya.
"Wah, kelihatannya rencana kita semakin mudah, Maya" ucap Ana dengan rasa yang penuh kebahagiaan.
"Maksudnya?" tanya Billa dengan suara yang meninggi.
"Ya perjodohan kamu dengan Darren sayang," ucap Ana santai dengan senyum khasnya.
"Tapi Tante...."
__ADS_1
"Ayo kita makan dulu, ke buru dingin gak enak Lo," ajak Maya seraya memotong ucapan anaknya.
"Jangan ribut sekarang Sa, jangan bikin malu keluarga!" ucap Maya dengan berbisik kepada Billa.
Dimeja makan mereka makan dengan penuh kebahagiaan, namun tidak dengan Billa dan Darren, pikiran mereka benar-benar kalut, pikiran mereka terfokus pada Maira, bagimana jika Maira mengetahui semua ini, perjodohan yang sulit mereka hindari. Walupun mereka tak menyerah untuk membatalkannya.
"Anak kita kan sudah pada saling kenal, gimana kalo disegerkan?" ucap Ana penuh antusias.
"Kalo saya, terserah Shalsa. Gimanapun dia yang akan menjalaninya," ucap Guntur, papa Billa.
"Gimana kalo tiga bulan lagi?" ucap Maya yang tak kalah antusias.
Mendengar pembicaraan orang tuanya, Billa dan Darren saling pandang, ada raut penuh marah dan kekecewaan yang terpancar dari keduanya.
"Gimana Darren?" tanya Ana pada anak semata wayangnya.
"Gak, saya gak mau dengan perjodohan ini! sampai kapanpun saya gak akan pernah mau dengan Darren," ucap Billa penuh penekanan setelah ia menggebak meja makan mereka, dan pergi meningglkan acara makan malam mereka.
Guntur dan Maya nampak marah akan kelakuan anaknya yang dianggap tak sopan.
Sementara Darren memeilih mengakhiri makannya dengan pamit meninggalkan acara makan tersebut.
"Maafkan Shalsa ya, Ana" ucap Maya melas.
"Gak papa, maafkan Darren juga yang pergi begitu saja," ucap Ana. Ada raut kecewa di wajah Ana, namun ia berusaha untuk menyembunyikannya.
"Gimana rencana kita selanjutnya?" tanya Maya.
"Kita akan tetap lanjutkan rencana kita, nanti biar aku ngomong sama Darren," ucap Ana meyakinkan.
"Baik lah, aku juga akan ngomong sama Shalsa," jawab Maya.
"Ya sudah, saya pamit ya Maya. Terimakasih jamuannya," pamit Ana setelah menyelesaikan makan malam yang penuh dengan amarah dan kecanggungan.
"Hati-hati ya Ana," jawab Maya sambil memeluk sahabatnya itu.
Ana melangkahkan kakinya untuk keluar dari kediaman Maya, ia nampak begitu emosi dengan Darren, namun ia harus tetap memikirkan cara untuk membujuk anak semata wayangnya ini.
🍁
🍁
🍁
**Jangan lupa like, vote dan komentara dan juga ritting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya 🤭
mampir juga di ceritaku lainnya..
🔖 hijab pertama Na
🔖 The pellows
__ADS_1
Follow juga akun ig author @rinayuna73, kita meet up disana juga kuyy 💜**