
***Assalamualaikum readers. Tinggalkan jejak disini ya, bantu vote, like dan komentar ya. Makasih sebelumnya 🙏🤩
# Happy reading***
Hari ini begitu cerah, sinar matahari yang begitu terang seakan tersenyum untuk dunia. Maira membuka jendela kamarnya dan menghirup udara pagi yang masih segar, dan tak lupa senyumnya ia kembangkan.
" Pagi dunia. Berpihaklah padaku hari ini". Ucap Maira.
Setelah puas menghirup oksigen dari luar jendela, Maira beranjak menuju kamar mandi untuk bersih diri. Cukup 20 menit Maira menghabiskan waktu di kamar mandi, Maira menuju lemari yang berada di ujung tempat tidurnya untuk memilih pakaian yang sekiranya cocok untuk ia kenakan.
Maira tertuju pada kaos lengan panjang warna merah dengan gambar hati kecil di bagian dada sebelah kiri dan celana panjang berbahan jeans. Untuk tampilan santai tapi tetap sopan untuk di pandang. Setelah selesai berganti pakaian Maira memoles wajahnya dengan make-up tipis namun tetap anggun untuk Maira. Ia berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan untuk sarapan, dan sudah ada Fatih yang setia menunggu dengan pakaian santainya.
" Mau kemana Ra?". Tanya Fatih sambil membolak balik koran yang ada di tangannya.
" Mau ke rumah Darren pa, mamanya minta Maira buat main kesana di hari Minggu ini". Jawab Maira sambil mengoleskan selai coklat di atas rotinya.
" Wah kayaknya hubungan kamu dengan Darren gak main-main ya Ra". Goda Fatih.
" Kalau bisa di seriusin, kenapa Maira harus main-main pa". Jawab Maira.
" Bulan depan kamu kan ulang tahun Ra, undang Darren dan mamanya juga aja Ra, siapa tau akan buat kita lebih akrab dengan keluarga Darren". Usul Fatih.
" Ide papa boleh juga pa, kita bikin acaranya di taman samping rumah aja ya pa". Jawab Maira antusias.
" Terserah kamu Ra". Jawab Fatih.
Tok... tok...
Ketika Maira dan Fatih tengah berbincang, suara ketukan pintu menghentikan aktivitas mereka.
" Siapa yang datang pagi gini Ra?". Tanya Fatih kepada Maira yang masih menyantap sarapannya.
" Darren paling pa, jemput Maira". Jawab Maira
" Selamat pagi om, Ra". Sapa Darren dari arah belakang punggung Fatih.
" Pagi Darren". Jawab Maira dan Fatih bersamaan.
Darren yang langsung duduk tepat di depan kursi Maira sambil mengembangkan senyum merekahnya, Darren sudah tak merasa canggung ketika berhadapan dengan Fatih.
" Sarapan dulu Ren". Titah Fatih.
" Darren udah sarapan om. Tinggal nunggu Maira ini". Jawab Darren dengan sopan.
" Kamu lama sekali Ra, Darren sampai jamuren nunggu kamu". Ucap Fatih dengan senyum tipisnya.
" Maira lagi siapin tenaga pa, buat ketemu calon mertua. Ntar kalau Maira gugup seenggaknya Maira gak pingsan kalau Maira makan banyak". Jawab Maira yang di balas kekehan Fatih dan Darren.
" Darren, bulan depan Maira ulang tahun, kami mengundang kamu dan mamamu". Ucap Fatih.
" Kamu bulan depan ulang tahun Ra?". Tanya Darren namun tak dapat jawaban dari Maira.
" Pa, itu kan masih lama". Ucap Maira sambil memegang lengan Fatih.
" Gak papa Ra, jadi biar Darren dan mamanya bisa mengatur jadwal mereka, mereka kan orang sibuk, bukan begitu Darren?". Ucap Fatih dengan senyum manis khas Fatih.
" Ah om bisa saja, walaupun sibuk kalau untuk Maira akan saya usahakan om". Ucap Darren meyakinkan.
" Pagi-pagi dapat gombalan, langsung kenyan aku". Ucap Maira sambil memandang Darren dengan ekor matanya.
" hahahaha, kalian anak muda bener-bener buncit". Kekeh Fatih.
Seketika Maira dan Dareen mengerutkan keningnya.
" BUCIN PAPA". Teriak Maira yang kemudian mereka tertawa bersama.
Maira menyelesaikan sarapannya dan langsung menyambar tas selempang kecil lalu memakainya.
" Maira sama Darren berangkat ya pa". Pamit Maira dan Darren dengan mencium pundak tangan Fatih secara bergantian.
" Darren, jaga Maira baik-baik". Pinta Fatih.
__ADS_1
" Baik om, nanti Maira akan pulang dengan utuh". Jawab Darren sambil tersenyum. Lalu meninggalkan Fatih.
" Semoga cinta kalian gak serumit urusan cinta papa saat masih muda Ra". Batin Fatih dengan mengusap wajahnya dengan halus.
Darren melajukan mobilnya dengan Maira yang duduk di bangku sebelahnya.
" Ra kamu bulan depan ulang tahun kenapa gak bilang sih?". Tanya Darren dengan memandang Maira sekilas.
" Kan masih lama juga Darren". Jawab Maira.
" Ya tapi kan aku pengen siapin yang special buat kamu Ra". Ucap Darren dengan wajah sedikit di tekuk.
" Darren, kamu selalu ada di dekat aku saja itu udah special buat aku, cowok cuek yang luluh karena Maira". Jelas Maira.
" Makasih ya Ra". Ucap Darren dengan senyum tipisnya.
" Darren aku gugup". Ucap Maira
" Kenapa harus gugup, ini kan bukan pertama kamu ketemu mama Ra". Jawab Darren.
" Entah lah". Ucap Maira sambil menautkan kedua tangannya.
" Semua akan baik-baik saja Ra, kan ada aku". Ucap Darren menenangkan sambil meraih tangan Maira untuk ia cium.
Darren dan Maira sampai di kediaman Sebastian. Darren memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Rumah mewah dan sangat besar, lebih besar dari rumah Maira.
Darren membukakan pintu dan kemudian mereka masuk.
" Kamu duduk dulu disini Ra, aku panggil mama dulu". Titah Darren yang hanya di balas anggukan tanda mengerti oleh Maira.
Darren menaiki anak tangga menuju kamar Ana. Dan tak butuh waktu lama, Darren kembali turun dan diikuti oleh Ana di belakangnya.
" Hai cantik, gimana kabarnya". Sapa Ana sambil memeluk Maira.
" Alhamdulillah baik Tante, Tante gimana?". Balas Maira.
" Seperti yang kamu lihat Ra, Tante sangat baik. Apalagi ada kamu disini". Ucap Ana dengan wajah yang berseri.
" Darren, hari ini kan libur, kita jalan-jalan untuk belanja bulanan yuk, ajak Maira juga. Kamu yang sopirin, lama kan kita gak jalan-jalan buat belanja Ren". Ajak Ana yang di balas dengan anggukan.
" Darren mandi dulu ya". Ucpa Darren.
" Kamu udah jemput Maira, tapi belum mandi. Jorok sekali kamu Darren". Ucap Ana dengan kesal, namun hanya di balas kekehan oleh Darren.
Darren meninggalkan 2 wanita yang kini mengisi hatinya. Sementara Ana dan Maira masih melanjutkan perbincangan yang entah kemana arah dan tujuannya. Ya memang begitu lah para perempuan, ketika sudah bertemu dan mengobrol, seakan waktu sehari semalam terasa cuma satu jam.
" Maira, Tante masuk dulu ya ganti baju. kamu tunggu sini dulu. Nanti kalau Darren sudah turun tapi Tante belum siap, tanduk di kepalanya bisa keluar". Ucap Ana sambil yang beranjak dari duduknya dan hanya di balas anggukan ringan oleh Maira.
Maira merasa bosan, karena harus menunggu dua orang yang tengah bersiap-siap. Maira memutuskan untuk pergi ke taman depan rumah Darren.
" Rumah segini luasnya cuma di huni Darren dan mamanya, dan hanya ada dua orang pembantu. pasti sepi banget rumah ini, sama kayak rumah gue". Gumam Maira sambil memandangi tumbuhan yang tertata rapi di taman.
Maira duduk di sebuah ayunan yang berada di tengah taman itu, sambil terus memandangi sekitar taman rumah Darren, sedangkan entah pikirannya berkelana kemana.
" Kenapa kamu di luar Ra?". Tanya Darren yang mengagetkan Maira karena Maira tak tahu sejak kapan Darren berada di taman.
" Aku bosan Ren, mangkanya aku keluar ketaman, lihat bunga-bunga bikin seger di mata". Ucap Maira yang tak beranjak dari tempat duduknya.
" Mama suka macam-macam bunga, setiap pergi, pulang selalu bawa bunga". Jelas Darren.
" Eh kalian disini rupanya". Ucap Ana yang keluar dari pintu utama. Seketika Darren dan Maira menoleh ke arah sumber suara.
" Ayo kita berangkat, bentar lagi waktu makan siang". Ajak Ana.
Darren masuk di bangku kemudi, sementara Maira dan Ana masuk di bangku penumpang. Ya. Maira di minta untuk duduk di samping Ana untuk menemaninya berbincang. Ana begitu senang akan kehadiran Maira, sehingga tak jarang mereka menampakkan deretan gigi putih mereka secara bersama.
Darren fokus dengan tugasnya, hari ini ia gunakan untuk menemani dua perempuan yang mengisi hatinya itu, kemana pun mereka inginkan, Darren siap untuk mengantarnya. Sesekali Darren memandangi kaca sepion yang mengarah ke bangku penumpang, Darren pun merasa sangat bahagia melihat Ana dan kekasihnya itu nampak akrab dan dapat tertawa bersama. Darren merasa sangat bersyukur dengan pemandangan yang jarang sekali di tampakkan oleh Ana.
Darren memarkirkan mobilnya di salah satu swalayan terbesar di kota J. Mereka turun dari mobil dan menuju salah satu food court yang berada di swalayan tersebut karena sudah memasuki waktu makan siang.
" Kita makan dulu ya". Ajak Ana yang di balas anggukan oleh Darren dan Maira.
__ADS_1
Mereka memesan makanan, sembari menunggu mereka masih berbincang ringan, hingga pandangan Ana tertuju pada sosok perempuan yang berada tak jauh dari meja mereka.
" Itu kayak teman mama Ren". Ucap Ana sambil menunjuk seseorang uang berada taknjauh dari meja mereka.
" siapa ma?". Tanya Darren.
" Tante Dewi, rekan bisnis mama. Yang mama bilang anaknya kuliah di kampus Medika juga". Ucap Ana.
" Bentar ya, mama samperin dulu, kita ajak gabung saja".
Ana meninggalkan Maira dan Darren menuju meja Dewi.
" Jeng Dewi". Sapa Ana.
" Eh jeng Ana, apa kabar?". Balas Dewi sambil memeluk Ana.
" Jeng saya makan bareng anak saya lho, kita makan bareng saja disana yuk". Ajak Ana sambil menunjuk meja Darren dan Maira.
Ana dan Dewi bergabung di meja Darren dan Maira.
" Jeng, ini Darren dan ini Maira". Tunjuk Ana memperkenalkan, Darren dan Maira mengulurkan tangannya untuk bersalaman secara gantian.
" Ini Tante Dewi, yang mama ceritain punya anak yang kuliah juga di kampus Medika. Siapa jeng namanya? siapa tahu mereka kenal". Ucap Ana.
" Oya, kalian di kampus Medika juga? Anak saya namanya Salsha, kalian kenal?". Ucap Dewi.
Namun Maira dan Darren hanya menggeleng.
" Ntar saya tanya ke Salsha siapa tau dia kenal kalian". Tamabah Dewi dengan senyum tipis.
" Jeng Ana, setahu saya anak jeng Ana cuma satu". Ucap Dewi
" Iya, ini Maira calonnya Darren". Jawab Ana dengan senyim merekahnya.
Makanan pun datang, mereka menyantap makanannya dengan tenang, dan hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring yang menemani kesunyian di meja tersebut.
Setelah selesai makan siang dan membayarnya, mereka beranjak dari meja mereka dan meninggalkan tempat makan itu.
" Jeng Dewi, mau ikut kita berbelanja?". Tanya Ana.
" Maaf jeng Ana, saya masih ada urusan di kantor, lain kali kita kumpul lagi". Tolak Dewi dan memeluk Ana.
Dawi pun pergi meninggalkan Ana, Darren dan Maira.
Ana dan Maira tengah asik berbelanja, Darren yang sedari tadi hanya mengekor, tiba-tiba matanya tertuju di sebuah toko perhiasan di ujung tempatnya berada.
" Ma, Darren jalan kesana dulu ya". Pamit Darren.
" Iya Ren, jangan lama-lama ya bentar lagi kita selesai". Ucap Ana.
Darren menuju toko perhiasan yang berada ujung swalayan. Darren melihat-lihat koleksi kalung yang berada di etalase, hingga matanya tertuju pada kalung dengan liontin hati dengan hiasan Berlin di pinggirnya.
Darren langsung membelinya, setelah mendapatkan barang yang ia cari, Darren segera kembali ke tempat Maira dan Ana.
" Dari mana kamu Ren?". Tanya Ana
" Dari lihat-lihat ma". Ucap Darren sekenanya.
" Udah yuk kita pulang, keburu gelap. Maira juga kayaknya udah capek". Ucap Ana yang di balas anggukan oleh Maira dan Darren.
Mereka menuju parkiran, dengan kecepatan sedang Darren melajukan mobilnya.
💦
💦
💦
spam like
spam komentar
__ADS_1
spam vote