
Hari bahagia Maira tiba, segala persiapan pesta sudah tersedia, dengan dress hitam dengan rambut terurai lengkap dengan heels tingginya Maira turun dari tangga menuju ke tamas samping rumahnya, namun di ujung tangga sudah ada Fatih yang menunggunya.
"Wah yang ulang tahun sudah cantik nih," goda Fatih pada anak semata wayangnya.
"Ah papa. Oya pa, nanti Darren datang sama mamanya pa," ucap Maira santai.
"Bagus dong Ra, jadi kita kan saling mengenal," jawab Fatih dengan berbina bahagia.
"Makasih ya pa," jawabnya sambil memeluk Fatih sekilas.
"Sudah, temui tamu kamu dulu, itu sudah pada datang." titah Fatih dan di balas dengan anggukan lalu meninggalkan Fatih.
Maira menemui para tamu yang sudah mulai berdatangan.
"Selamat mulang tahun ya Ra," ucap Billa yang datang dengan tiba-tiba dan menghamburkan diri untuk memeluk Maira.
"makasih ya Bill," jawab Maira pada sahabatnya itu.
Tak lama dari itu, Romi datang mendekat dengan menggandeng Angel, sontak membuat Maira dan Billa saling pandang.
"Selamat ulang tahun ya Ra," ucap Romi memberi ucapan bergantian dengan Angel.
"Makasih kalian udah mau dateng, tapi maaf nih ya sebelumnya, kalian......" ucap Maira menggantung.
"Iya Ra, kami udah jadian." jawab Angel dengan sedikit malu-malu.
"Wah selamat ya," ucap Maira dan Billa bersamaan.
Mereka mengobrol panjang lebar, entah apa saja yang di bahas, dan tak berselang lama datang lah Darren dengan Ana yang berjalan beriringan, mereka nampak serasi antara anak dan ibu, paras mereka sangat mirip.
"Selamat ulang tahun ya Ra," ucap Ana sambil memeluk Maira hangat. Teman-teman Maira kagum dengan hubungan hangat antara keduanya.
"Makasih ya Ma," jawabku membalas pelukan Ana.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Darren setelah Maira melepaskan pelukan Ana. Darren mencium kening Maira yang sontak mendapat sorakan dari sahabatnya dan Ana.
"Makasih ya," jawab Maira dengan malu-malu.
Mereka kembali melanjutkan obrolan santai mereka, dan tanpa mereka sadari Fatih datang datang dari arah belakang mereka setelah mencari keberadaan Maira di seluruh sudut taman.
"Ra.." panggil Fatih.
"Iya pa," jawab Maira sambil membalikkan badannya dan di ikuti oleh Ana, Darren dan sahabat-sahabatnya.
"Ana!" ucap Fatih terkejut ketika melihat Ana berada di tempat yang sama.
"Fatih," jawab Ana lirih. Membuat orang yang berada di tempat yang sama merasa heran, tak ada yang mengetahui bahwa Ana dan Fatih saling mengenal. Maira dan Darren menatap orang tua mereka dengan tatapan penuh tanya.
"Jadi dia anak kamu?" ucap Ana denga sinis dan menunjuk ke arah Maira.
"Dia anak perempuan murahan itu? jangan harap aku menyetujui hubangan anak kamu dengan anakku." ucap Ana dengan suara meninggi, membuat seluruh tamu mengalihkan pandangan mereka menuju satu titik, sementara Maira dan Darren hanya menatap dengan bingung.
"Ana.." ucap Fatih lirih.
Acara harus bubar lebih awal, para tamu undangan berpamitan untuk pulang. Sementara Maira hanya duduk di bangku yang ada di ujung taman, hatinya hancur, banyak pertanyaan yang belum mendapat jawaban yang jelas, terutama dari Fatih. Air matanya enggan untuk berhenti.
"Ra, Lo gak papa?" tanya Billa yang duduk di samping Maira.
"Gue masih bingung Bill," jawabnya lirih.
"Lo yang sabar ya, pasti ada penjelasan dari semua ini," ucap Billa mencoba menenangkan. Sementara Maira hanya mengangguk lesu.
"Udah malam Ra, gue pamit ya," pamit Billa dan di balas anggukan oleh Maira tanpa mengalihkan pandangannya.
Sementara di dalam mobil, Darren masih bingung dengan sikap Ana yang memaki-maki Maira setelah bertemu Fatih.
"Sebenarnya apa yang terjadi ma?" tanya Darren penuh selidik.
__ADS_1
"Mulai detik ini, putuskan hubunganmu dengan Maira, mama gak akan pernah restui kalian." tegasnya.
"Ada alasan untuk itu ma, tolong jelaskan sama Darren ma! mama tahu Darren mau melamar Maira dan mama menyetujui itu, namun sekarang mama nyuruh putus. Sebenarnya ada apa ma?" ucap Darren penuh kekalutan. Dan kemudian menepikan mobilnya di tepi jalan.
"Lupakan semua itu, dan sekarang jangan pernah temui Maira apa lagi masih berhubungan dengannya. Kalo kamu masih juga ngotot, jangan harap kamu akan ketemu lagi dengan mama Darren." ancam Ana dengan tegas.
"Ma... Darren cuma minta penjelasan dengan semua ini." sinis Darren.
"Jalan," titah Ana.
"Gak ma, sebelum mama jelasin semuanya." tolak Darren.
"oke, mama akan jalan saja," ucap Ana yang bersiap keluar dari mobil.
"Ma...." ucap Darren sambil menahan tangan Ana, dan akhirnya Darren mengalah dan melajukan mobilnya. Hatinya kalut dengan sikap Ana, perasaannya begitu tak enak dengan Maira, harapannya hancur begitu saja dalam hitungan detik.
Sesampai di rumah, Darren masuk ke dalam kamar tanpa peduli dengan Ana, ia menatap langit-langit kamar dengan menggenggam erat kalung yang ingin ia berikan pada Maira, namun harus gagal dengan masalah yang belum ia ketahui. Hatinya hancur, diselimuti amarah yang belum berujung.
Tak beda dengan Maira, ia mengurung diri di kamarnya, ucapan Ana begitu jelas terngiang di telinga dan pikirannya.
"Ada masalah apa Mama sama Tante Ana, Ma? kenapa ia membenci mama," gumam Maira dengan terus menangis. Hatinya ngilu, dadanya begitu sesak, air mata yang sudah sangat sulit untuk di bendung. Ia bingung harus berbuat apa selain mencari tahu masalah apa yang terjadi antara orang tuanya dan Ana.
🍁
🍁
🍁
**Jangan lupa vote, like dan komentar ya..
mampir juga di ceritaku yang lainnya..
🔖 Naira
__ADS_1
🔖 The Pellows
tinggalkan jejak disana juga ya, follow juga ig ku @rinayuna73, kita meet up juga disana ya 💐**