
Aku mencintai kebersamaan, sebuah perkumpulan, tapi kalau itu bisa merenggut sesuatu kebahagiaan yang aku punya, aku intoleran.
-Amora, Temanggung 2019
_________________________
Hari ini Amora datang agak sedikit siang. Sama seperti hari Senin yang lalu. Bekas sakit yang dirasakan saat mendaki di Prau kemarin benar-benar tidak bisa hilang dari kakinya. Ia memilih menjaga kelas bersama Anita. Teman sekelasnya dulu, ya mereka satu kelas lagi. Anak pecinta Korea dan Anime itu sibuk berceloteh sendiri. Sepertinya mengirim pesan suara pada teman role-play nya.
Sudah tidak asing sih, ketika sosok KPOPers bermain role play mereka akan mengaku menjadi artis kemudian berdekatan dengan teman-teman di penjuru dunia. Bahkan Anita ini sudah memiliki teman di daerah Bekasi, Tangerang, bahkan Surabaya pun ada. Katanya hasil kenalan di grup.
" Pssstttt," panggil seseorang.
Bukan hanya Amora yang menoleh, tapi Anita juga. Gerakan tangan Anita yang menekan tombol record pada ponselnya jadi terhenti sesaat. Melihat siapa dalang di balik ini semua, ia kemudian memilih acuh. Tak ada kaitannya dengan dia.
Dafa meringis. Mendapati tatapan malas dari Amora yang jelas memberi sinyal bahwa laki-laki itu mengganggu. Ada tatapan sama seperti yang ditujukan pada Bimo kemarin. Seperti ngapain kesini?
Dafa memilih duduk di samping Amora. Menyodorkan sebungkus kantung plastik hitam yang sedari tadi digenggam. Stelan seragam Dafa lengkap, tapi Amora yakin Dafa niat berjaga di kelas. Tadi malam laki-laki itu bilang kalau tugasnya belum selesai. Licik kan.
Dan sekarang malah nangkring di sini.
" Diminum ya, Sayang. Biar semangat buat belajarnya" ucap Dafa penuh penekanan. Senyumnya kelewat lebar, bahkan mampu membuat Amora memutar bola matanya jengah.
Suasana hening seperti ini, tidak ada keributan, Amora yakin jika kalimat Dafa terdengar ke seluruh penjuru kelas. Tak menutup kemungkinan Anita pun mendengar. Amora sadar karena gerakan Anita terhenti ketika hendak mengetik sesuatu di ponselnya begitu ucapan Dafa keluar.
Semua akan salah paham.
" Apaan sih, Daf? Halu" jawab Amora kesal. Dafa hanya merengut. Meraih benda pipih miliknya kemudian berselancar pada instagram yang sedikit sepi.
" Halu halu gini situ juga betah sama saya" cibir Dafa. Yang diajak berbicara malah sibuk membuka kantung kresek di hadapannya kemudiam mengambil roti sobek di sana.
" Kepaksa,"
" WHAT?!! Uhuk uhuk"
Amora terbahak menyaksikan ekspresi Dafa yang tengah kesakitan. Siapa suruh berteriak macam di hutan begitu. Kan Amora jadi pengang sendiri. Jangan salahkan Amora kalau baru saja menyumpal roti sobek ke mulut Dafa. Biar diam nggak berceloteh. Eh, malah kesedak. Jauh dari ekspetasi Amora sih, bukan begini. Ini lebih lucu dan memuaskan.
" Uhuk uhuk panas!"
Amora panik. Ia menepuk tengkuk Dafa dengan keras sambil menyodorkan minum.
" Eh eh jangan mati dulu! Kamu kan belum liat aku dicium Jefri Nichol" pekik Amora. Dafa meraih minuman botol milik Amora kemudian menegaknya. Ada rasa tenang dan sejuk mengalir setelah sebelumnya merasa nyawanya tidak akan bertahan lama lagi.
" Ngaco," respon Dafa begitu ketus. Tidak ingat saja Dafa paling tidak suka Amora menyebut nama artis bintang film populer di kalangan remaja itu. Cemburu eh?
" Kamu kok bisa beli ini?" tanya Amora. Dafa yang memperhatikan ponsel kini menoleh pada Amora yang menyodorkan potongan roti sobek dihadapan mukanya membuat mulut tipis itu tertutup rapat.
Amora berdecak. Memutar bola mata ketika Dafa mendelik seperti mengatakan lo mau bunuh gue lagi?
" Ck, nggak usah suudzon deh, buruan pegel" protes Amora kemudian menoyor kening mulus itu. Dafa tersenyum menerima suapan dari Amora.
" Nah, gini kan enak. Lembut. Jadi makin sayang" ucap Dafa. Lagi-lagi mendapat hadiah toyoran di kepalanya.
" Sekarang situ yang ngaco!"
" Tumben jagain kelas?" tanya Dafa mengabaikan perihal kalimat Amora yang makin lama makin sarkas. Ia menoleh sesekali membuka mulut ketika merasa ada sepotong roti di hadapannya. Dafa kira hanya sekali, ternyata berkali-kali. Sepertinya gadis itu memilih untuk memakan makanan bawaannya berdua.
" Kakinya masih sakit tau, kalo dibuat upacara malah lumer" jawab Amora asal. Dafa mengacak kepala yang selalu terbungkus rapi dengan hijab itu. Menggantung sebenarnya, tak sampai menyentuh. Karena jika itu terjadi, Dafa tak bisa memastikan lengannya mulus tanpa bekas biru.
__ADS_1
" Salah siapa muncak" ejek Dafa. Kali ini ia menerima suapan terakhir dari Amora. Sedetik kemudian gadis itu melipat bungkus roti tadi dan dimasukkan ke dalam kantung kresek. Ia akan membuangnya nanti.
" Ih, bilang aja masih kesel soal aku yang nggak jadi ke Posong sama kamu" balas Amora.
Dafa diam. Sibuk memainkan hironya pada game mobile legend. Persis seperti yang dimainkan Rafa dan Saron waktu itu. Bedanya Dafa diam, matanya fokus. Tidak banyak berteriak seperti mereka berdua. Bikin malu saja.
" Ilih, sok-sokan ngambek lagi. Najis"
Dafa berdecak kesal. Bukan karena ucapan Amora, tapi karena ia malas bermain game saat ini. Sinyal di kelas ini tidak mendukung, berbeda dengan kelasnya yang lancar.
" Nanti kita mampir ke Taman Pengayoman ya, aku ngidam es buah" pinta Dafa. Amora mengangguk menyeruput susu kotak cokelat yang dibelikan Dafa. Mendongak ketika laki-laki itu beranjak dari duduknya.
" Mau kemana?" tanya Amora. Sedikit ada nada menahan di sana.
" Ke kelas, udah selesai upacara. Nanti pulang bareng aku samperin" pamit Dafa. Amora menatap jam bundar yang melingkar di tangan kirinya. Benar saja, jam delapan kurang lima belas menit. Upacara sudah bubar. Bahkan riuh tepuk tangan terdengar dari sini. Celotehan anak-anak itu juga perlahan mendekat. Amora mengangguk membiarkan Dafa mengusap kepalanya dan pintu yang menelan habis tubuh Dafa dari pandangannya.
Amora menghela napas. Ia malas pelajaran.
******
" Aku ki sumpek ki lho, koe ngomong terus"
" Aku luwih sumpek weruh raimu"
" Sopo iki sek ameh mesen?"
" Aku wegah lho ya, mager"
" Oalah, pancen anane aku ae sek keno"
Amora terbahak melihat wajah kesal milik Satria. Laki-laki itu bangkit dari duduknya kemudian memesan pesanan untuk teman-temannya. Mereka tengah berada di Taman Kuliner Pengayoman. Tepat di belakang Pendopo Pengayoman, dekat dengan Alun-alun Kota Temanggung dan supermarket terbesar disini.
" Es buah duweke aku ra nganggo es akeh yo, Sat!"
" Aku batagor ora nganggo kentang!"
" Aku bakso wae lah, Sat!"
" Koe ning kantin sekolah wae ono bakso ngopo menyang kene"
Lagi-lagi semua tertawa. Satria mencibir. Ia mendekati semua gerobak di taman ini untuk memesan. Sedikit mengumpat juga kala kakinya merasakan pegal. Memang ketika ada kumpul seperti ini yang jadi sasaran selalu saja Satria.
" Gama kok belum dateng?" tanya Amora pada Dafa. Bukan mengharapkan manusia laknat itu, tapi Amora merasa ada yang kurang saja jika tidak ada Gama.
" Bentar lagi paling"
Satria kembali. Yoyo, Aldi, Rion, dan Dafa terkekeh berhasil mengerjai laki-laki tampan yang menjadi rebutan adik kelas. Kapten basket sekolah yang juga merupakan tetangga kelas Amora. Tidak ada yang menyangka jika sosok royal ini juga teman SMPnya.
" Woy! Gama yang ganteng datang! Ciayooooo" seru Gama sambil melambaikan tangan bak artis terkenal. Dafa memcibir sementara anak yang lain memilih diam pura-pura tidak mendengar.
" Lama amat, muter Mekkah dulu?" sindir Amora dengan nada sinis. Gama yang menyadari keberadaan teman dekatnya itu kemudian bersimpuh. Duduk didekat Amora dan mengelus dagunya seperti menggoda anak bayi.
" Ututututu yang kangen abang Gama" goda Gama dengan nada khasnya. Semua tertawa termasuk Dafa. Sudah biasa pemandangan seperti ini terjadi. Amora jadi makin kesal.
" Apaan sih! Pede!" Amora memeletkan lidahnya mengejek. Dafa hanya mengelus kepala Amora. Sedetik kemudian tangannya turun untuk menepuk bahu kanan Amora. Membisikkan sesuatu pada temannya.
" Abang Gama bawa temen nih, tapi janji jangan heboh"
Amora mencibir. Menolehkan kepala berlawanan dengan tempat bibir Dafa berada;menghindar. Alasannya mencari sosok teman yang dibilang Gama, tapi tak kunjung dapat.
__ADS_1
" Siapa?"
" Anjir! Gama bikin kesel aja" seseorang menggerutu dari arah belakang. Sosok gadis bertubuh bongsor datang sambil merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan akibat Gama yang ngebut. Amora melongo. Antara sadar dan tidak sadar, antara kenal dan tidak kenal karena sosok yang biasanya memakai hijab kini dilepas.
" Kak Vanya?" tanya Amora pelan. Jauh dari ekspetasi Gama perihal sambutan yang akan Amora berikan untuk teman komunitasnya ini. Gama kira akan heboh makanya mewanti agar tidak berteriak. Tapi kok?
Vanya Aldera. Sosok anak jurusan sebelah yang kini tengah tersenyum manis. Teman seperjuangannya di organisasi, juga teman yang sekalu mendampinginya, menjadi gandengannya ketika ada kumpul-kumpul atau sekedar bermain di tempat mereka. Mereka sebut basecamp. Namanya juga anak pecinta alam, jadi ya sebutannya sama seperti tempat transit di area pendakian.
" Eh, Amora" sapa Vanya kikuk. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memandang Gama meminta penjelasan.
" Gam, suruh duduk dong, kasian dia berdiri" suruh Dafa cepat-cepat membuat Amora menoleh sambil mengerutkan kening.
Hatinya tak nyaman.
" Eh iya, ayo duduk Van. Malah lirik-lirikan sama Amora" ajak Gama. Vanya mengangguk kemudian duduk berlesehan di samping Gama. Ia memandang satu persatu dari banyaknya anak di sini. Semua asing kecuali Amora dan Dafa.
" Ketemu Gama dimana, Kak?" Amora membuka percakapan. Ia memandang Vanya yang tersenyum. Meski satu angkatan, tapi Amora lebih nyaman memanggil Vanya dengan embel-embel 'Kak' dan Vanya tak mempermasalahkan itu semua.
" Tadi di parkiran. Katanya sekalian aku pulang" jawab Vanya. Amora mengangguk. Tak lama, pesanan keenam anak tadi-tidak termasuk Gama dan Vanya-datang. Tanpa babibu, mereka segera menyerbunya. Daripada harus membingungkan sikap Amora yang mendadak tak enak dipandang juga sambutan yang terkesan tak mengharapkan, lebih baik mereka makan.
" Kamu kenapa sih?" tanya Gama sedikit menggerutu. Kali ini Dafa entah mengapa banyak diamnya.
" Apanya yang kenapa? Pesenin Kak Vanya makan. Kasian pasti laper" balas Amora santai. Ia sibuk memakan batagornya.
" Daf, makan telur aku. Aku nggak suka telur"
Dafa menoleh, memperhatikan Amora yang memasang wajah memelas. Ia mengangguk.
" Sama itunya dong mau" pinta Dafa. Amora bergerak menyuapi teman yang entah mengapa dan sejak kapan menjadi someone special di hati kebanyakan orang. Bukan di hatinya. Tidak mungkin.
" Cielah, suap-suapan kaya pengantin baru ae!"
" Duhai senangnya pengantin baru"
" Asem! Aku isih jomblo"
******
" Kamu balik sama aku aja Mor. Aku nggak bawa motor soalnya" ajak Gama ketika mereka sudah berada di pintu keluar Taman ini. Mereka berderet di parkiran sambil memakai jaket. Amora yang semula mencari uang receh untuk parkir kini menoleh pada Gama.
" Lah? Dafa sama siapa?"
Semua menoleh pada Amora. Gama menggaruk tengkuknya. Di sini, Satria dan Aldi berboncengan ke arah kota. Di daerah kantor polisi belakangnya persis. Satu daerah dengan sekolah Kristen itu. Sementara Yoyo dan Rion kembali pulang ke arah Parakan, tak mungkin menebengi Dafa atau Gama.
Sisa Vanya. Ia menganggur. Opsi yang akan Amora pilih, ribet menyuruh Gama berboncengan dengan Vanya baru setelah sampai Walitelon Gama akan berganti posisi dengan Dafa, atau dengan mudah membiarkan Vanya dan Dafa berboncengan karena mereka searah.
" Sama Vanya. Kamu bisa kan Van? Kalo harus lewat Walitelon?"
" Emmm...bisa sih, tapi" Vanya menjawab ragu sementara Dafa diam.
" Aku nggak maksa kok, aku bisa ngangkot atau-" Gama tersendat. Mengamati pergerakan Amora yang kini tengah nangkring di depan motornya. Menyerahkan helm full face Dafa pada pemiliknya.
" Nggak usah drama, buruan! Keburu hujan"
" Nggak maksud bikin kamu sama Dafa berantem kok, cuma-"
" Buruan Gama!" Amora menyentak. Gama kaget. Ia segera berpamitan kemudian membawa Amora untuk pulang. Kali ini saja Amora membiarkan. Mungkin tidak untuk lain kali.
__ADS_1
******