Pupus

Pupus
Bab XXXIV


__ADS_3

Maira sibuk dengan persiapan pindahnya, berbagai keperluan sudah ia packing rapi pada koper berukuran besarnya. Setelah semua berkas pindah studinya selesai, ia lebih memilih untuk dirumah saja hingga saat terbangnya tiba. Maira tak ingin lagi oergi ke kampus yang menurutnya banyak luka yang digoreskan di tempat itu. Ia sangat enggan untuk bertemu mantan kekasihnya dan sahabatnya itu.


Tok..tok..


"Masuk," ucap Maira yang masih berada dalam kamarnya untuk mengemas keperluannya.


"Belum selesai Ra?" tanya Fatih yang kemudian duduk di ujung kasur Maira.


"Bentar lagi Pa, ringgal dikit yang bekum masuk koper," jawab Maira antusias. Walau Fatih masih melihat pancaran kesedihan masih terkungkung diwajahnya.


"Ra..." panggil Fatih lesu.


"Iya pa," jawab Maira yang kemudian duduk di sebelah Fatih.


"Kamu udah yakin dengan keputusan kamu?" tanya Fatih memastikan.


"Iya pa. Mungkin itu memang terbaik buat Maira," jawab Maira yang kemudian menundukkan kepalanya.


"Berjanjilah sama papa Ra, untuk kembali ceria dan gak sedih lagi," pinta Fatih.


"Maira janji pa, Maira akan kemabali seperti dulu," jawab Maira yang kemudian memeluk Fatih dengan erat.


"Ini untuk kamu Ra," ucap Fatih menyerahkan selembar kertas yang ia keluarkan dari saku celananya.


"Apa ini pa?" tanya Maira setelah melepaskan pelukannya dari Fatih.


"Buka lah, papa keluar dulu ya," ucap Fatih kemudian meninggalkan Maira. Fatih memberikan ruang untuk Maira membacanya.


Maira memandangi kertas berwarna ungu muda yang berada di tangannya. Perlahan ia membuka dan mulai membacanya, terpampang jelas nama Darren Sebastian dan Shalsabilla, undangan pernikahan mereka yang akan digelar duahari lagi, tepat sehari sebelum Maira terbang ke Ausie. Tanpa ia sadari ia meremas ujung undang itu dengan bulir bening yang mulai membasahi pipi mulusnya. Sakit, kecewa, marah semua melebur menjadi satu, namun ia sama sekali tak dapat menilak semua itu terjadi pada dirinya. Maira mencoba menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, berharap dapat mengurangi beban dihatinya, ia pun mencoba untuk menyunggingkan senyuman tipisnya dan mengusap air matanya dengan kasar.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Sementara di rumah Sebstian, laki-laki berbadan tegap berdiri di balkon dekat kamarnya, ia menatapi langit yang nampak begitu mendung, sama dengan hatinya. Cinta yang tumbuhkan, harus pupus di telan oleh kejamnya kata perhodohan, harus pupus oleh keegoisan orang tuanya. Ia berusaha menerima semua, namun hatinya begitu sakit ketika mengingat sosok gadis yang ia sangat ia sayangi, yakni Maira.


"Calon pengantin murung aja," ucap Ana yang sudah berdiri tepat disanping Darren, entah sejak kapan perempuan itu berada disana.


"Mama," jawab singkat Darren setelah meliriknya sekilas ke arah Ana.


"Maafin mama harus lakukan ini Darren, mama tahu ini begitu egois untukmu," ucap Ana setelah menghembuskan napasnya yang terdengar begitu berat.


"Darren gak pernah tau keputusan mama yang sepihak ini, mama gak pernah meberi alasan akan semua ini," ucap Darren penuh penekanan.


"Semua tentang masalalu mama Darren, Fatih dulu kekasih mama yang sangat mama cintai, tapi ia meninggalkan mama dengan perempuan yang merupakan sahabat mama sendiri. Maya, yang menjadi ibu dari Maira telah merenggut semua kebahagiaan mama," jelas Ana dengan pancaran penuh dendam pada sorot matanya.


"Terus mama berusaha balas dendam dengan manfaatin Darren dan Maira? Jahat sekali mama," ucap sinis Darren.


"Semua sudah terlambat ma," sinis Darren, dan kemudian meninggalkan Ana yang masih berdiri di balkon. Darren melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya, entah kemana ia akan melampiaskan beban hidupnya.


🍁🍁🍁🍁


Hari yang dinanti akhirnya tiba, hari yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan untuk Darren dan Billa, namun apalah daya bagi mereka yang harus menikah tanpa didasari cinta, walupun cinta dapat tubuh dengan berjalannya waktu. Perasaan bersalah masih saja menjadi teman baik bagi mereka. Namun mungkin mereka akan bersahabat lebih lama dengan rasa bersalah. Setelah ijab qobul yang di ucapkan Darren begitu indah dan mampu membuat suasana haru dan bahagia melebur jadi satu di hati orang tua dan kerabat yang berada di tempat acara sakral itu dilaksanakan. Namun isak tangis mendominasi seorang Shalsabilla, bukan tangis kebahagiaan, melainkan tangis sakit hati dan kekecewaan. Acara akad berlangsung lancar, setelah usai seluruh keluarga menghamburkan diri meninggalkan acara, karena harus bersiap pada acara resepsi yang akan dilaksanakan malam harinya. Darren dan Billa beristirahat didalam kamar yang sudah disiapkan oleh pihak WO.


"Lo kenapa nangis?" tanya Darren sinis.


"Gue keinget Maira," ucapnya singkat dalam tangisannya, mendengar itu membuat Darren merasa iba dengan perempuan yang kini menjadi istrinya. Darren duduk disebelah Billa dan memeluknya.


"Kita memang gak bisa menghindari rasa bersalah kita, tapi kita juga harus bisa menerima semua ini, aku berusaha nerima lo sebagai istri, dan gue harap juga sebaliknya. Dan mulai sekarang, gak ada gue-lo lagi," jelas Darren. Billa merasa aneh denagn sikap Darren, namun ia hanya mematung di pelukan Darren.


Hari sudah semakin gelap, senja mulai meninggalkan bumi dengan keindahannya, Darren dan Billa sudah bersiap untuk melangsungkan resepsi pernikahan mereka. Senyum mereka tampilkan dengan keterpaksaan. Mereka melangkahkan kaki di atas redcarpet menuju singgah sana tempat pengantin yang sudah dipenuhi dengan bunga yang sangat cantik. Mereka duduk berdampingan, mulai menyalami para tamu yang datang untuk memberikan selamat pada mereka.

__ADS_1


Di tempat lain, Maira masih bergulat dengan perasaannya, hatinya bimbang antara ingin menghadiri, atau melewatkan saja acara pernikahan mantan kekasihnya dengan sahabatnya itu. Setelah lama ia memikirkannya, akgirnya Maira memutuskan untuk datang pada acara tersebut. Ia bersiap dengan menggunakan dress selutut warna hitam, dengan heels tinggi, membiarkan rambut panjangnya terurai namun tetap rapi, dengan polesan tipis di wajah cantiknya membuatnya semakin anggun.


Maira menuruni anak tangga, ia melangkah dengan mantap, dengan tas selempang yang menggantung dan kotak kecik warna biru yang dulu pernah di berikan oleh Darren, ia bermaksud untuk mengembalikan galung cantik pemberian Darren.


"Kamu akan datang ke acara itu Ra?" tanya Fatih yang sudah berdiri di ujung tangga.


"Iya pa, sekalian pamit dengan teman Maira," ucap Maira lesu.


"Kamu harus sabar ya Ra," pinta Fatih dengan menepuk pundak anaknya.


"Pasti pa, Maira berangkat ya," pamit Maira dengan senyum yang ia buat sehangat mungkin, lalu mencium pundak tangan Fatih.


Maira melajukan mobilnya dengan perasaan yang tak menentu, hatinya ia paksa untuk terus bersabar dan menerima semua ini, kini orang yang ia cintai harus duduk di pelaminan bersama sahabatnya. Namun ia akan berusaha tenang dengan rasa sakit yang masih menghinggapi hatinya.


🍁


🍁


🍁


Jamgan lupa like, vote dan komentar ya, kasih ritting ⭐⭐⭐⭐⭐ juga ya


mampir juga di cerita yang lainnya juga


🔖 hijab pertama Na


🔖 the pellows


tinggalkan jejak disana juga ya 💐

__ADS_1


__ADS_2