
Aku menyesal, membiarkan seorang penyusup datang, melukai rumah yang aku jaga setiap harinya.
-Amora, Temanggung 2019
__________________________
" Kamu kenapa sih? Aku kan udah nurutin kemauan kamu buat nebeng Vanya"
Saat ini hanya ada dentingan jam yang terdengar. Amora melipatkan tangan di depan dada sambil memperhatikan tayangan televisi. Tidak cukup menarik, apalagi Amora tidak pernah menoton televisi, jarang. Ini hanya alibinya saja agar tidak terlalu fokus dengan kehadiran sosok di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Dafa.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, dan Dafa masih saja betah di sini. Berceloteh ria seolah menjelaskan serinci-rincinya kejadian tadi bersama Vanya. Seperti seseorang yang takut pacarnya marah. Tidak jelas memang Dafa ini. Amora kan bukan siapa-siapanya.
" Mor, kamu kalo cemburu jangan kebangetan dong"
" Siapa sih yang cemburu? Memangnya aku berhak? Aku siapa kamu sih?" cerca Amora yang kini tersulut emosi. Ia membanting remot yang dipegangnya. Sedikit membuat Dafa terhenyak. Apa Amora mempermasalahkan kepastian mereka?
" Kamu kok begitu?"
" Udah ah, aku pusing. Aku nggak cemburu. Lagian kamu pede banget sampai bela-belain kesini"
Amora bangkit. Wajahnya dingin, ia membuka pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga. Semua orang yang tengah di sana menoleh. Melongokkan kepala memastikan Dafa sudah pulang atau belum.
" Kamu kok ninggalin Dafa?" tanya Ibunya heran. Amora hanya melengos kemudian menutup pintu sedikit kencang. Meninggalkan Dafa dengan perasaan gundah. Ia kira Amora tidak akan mempermasalahkan status, tapi apa Dafa terlalu berlebihan menyikapi Amora yang selama ini hanya sebatas teman dekat?
" Siapa sih yang cemburu? Memangnya aku berhak? Aku siapa kamu sih?"
Dafa menghela napas. Ia bangkit kemudian pamit untuk pulang. Sia-sia perjuangannya melawan arus angin yang dingin. Nyatanya Amora malah berkata menusuk.
*******
" Kak Egie!" pekik Amora memecah keramaian di area parkir sekolah. Ia melebarkan matanya sambil merentangkan tangan. Memeluk kakak kelasnya yang baru saja pulang dari Praktik Industri. Makin tampan. Padahal mereka baru dekat belum ada sebulan, tapi sudah akrab.
Dafa yang tadinya sibuk mengunci stang motor Amora kini menoleh. Menyaksikan tawa riang Amora yang jelas berbeda saat bersama dengan dirinya. Sedikit ada rasa terusik, tapi Dafa menampiknya. Mereka hanya teman. Kata Amora tadi malam sudah cukup membatasi ruang gerak Dafa. Ia tak ingin kelewatan. Lagipula, ia bersyukur Amora masih mau mampir sekedar menebengi dirinya ke sekolah seperti biasa.
" Kak Egie udah selesai ya PI-nya?" tanya Amora. Egie terkekeh. Menatap wajah adik kelas yang sangat jauh berbeda dari terakhir kali dilihat sebelum ia berangkat PI. Sebelum mereka kenal, atau sebelum Egie nekat mengenalkan diri pada Amora lewat Instagram.
" Udah, sekarang tinggal fokus EBTA" jawab Egie lembut. Amora terkesiap mendengarnya. Lututnya mendadak lemas.
Dafa mengangguk sambil tersenyum sopan pada Egie. Ia tahu wajah ini, salah satu personil klub basket sekolah pada masanya.
" Eh, Dafa kan?" tanya Egie agak ragu. Takut salah orang. Dafa mengangguk sebagai jawaban sementara Amora mengernyitkan kening bingung.
" Udah kenal?" Kini Amora yang penasaran. Mereka berdua mengangguk. Ya memang benar, mereka sempat bertemu saat ada sparing di SMA Negeri 1. Saat itu Egie masih sangat aktif, selalu aktif sih, berhenti hanya karena terhambat PI.
" Dia satu klub sama aku lah. Aku kan ikut basket juga" jelas Egie. Amora mengangguk paham. Dafa menelisik pandang ke arah Amora seperti mengode. Amora mengangguk kemudian pamit.
" Kak, kita ke kelas dulu ya"
Egie mengangguk. Membiarkan Amora menarik tangan Dafa menjauh dari parkiran. Egie tersenyum penuh arti memandang kedua tubuh adik kelasnya yang hilang ditelan belokan sebelum berhadapan dengan tangga.
" Kamu kok nggak bilang kalo kenal Kak Egie?" cerca Amora seperti mencari sesuatu yang begitu penting. Dafa memainkan matanya malas, Amora jadi tambah cerewet.
" Nggak penting ah,"
" Ish, nyebelin!" rutuk Amora. Dafa hanya mengedikkan dagu ketika sudah sampai di depan kelas Amora. Mengisyaratkan agar gadis itu masuk sekarang.
" Masuk!"
" Iya, bawel"
*****
Amora duduk di bangku pojok. Memainkan ponselnya dengan begitu kesal. Bel istirahat kedua sudah berbunyi, dan Dafa belum juga datang. Biasanya ia akan menjemput mengajaknya pergi ke kantin bersama, tapi entah kemana pergi laki-laki itu sampai sekarang pun belum ada tanda-tanda akan ke kelas. Tadi istirahat pertama pun ia hanya memakan bekal yang sebgaja diporsikan sedikit. Ia kira Dafa akan mengajaknya. Tahu begini, bawa banyak kalau bisa dua wadah makan sekalian.
Bukan Amora nggak mau sama teman kelasnya, hanya saja kurang enak apalagi kalau yang kebanyakan pilih. Bikin lama, tidak diputuskan sejak sebelum berangkat. Sering santai, tau-tau di sana hanya memakan waktu untuk bingung mau makan apa.
__ADS_1
" Mor, nggak ke kantin?" Tanya Vera. Chairmate-nya itu baru saja selesai sholat bersama teman gengnya yang lain. Amora menggeleng, tapi badannya keluar mencari teman atau paling tidak kalau bertemu Dafa.
" Woy, Satria!" panggil Amora. Ia melambaikan tangan pada Satria dan Aldi yang hendak menuruni tangga ke lantai satu. Mereka tidak sholat, jadi pasti ke kantin.
" Ke kantin? Ikut ya" pinta Amora. Mereka mendelik kemudian mengangguk. Aldi sedikit menarik lengan Amora agar gadis itu mempercepat langkah.
" Pertanyaanmu tadi retoris deh, Mor" ujar Satria ketika mereka bertiga berjalan beriringan. Amora mengedikkan bahu acuh. Sementara Aldi mulai memainkan ponselnya. Kebiasaan buruk menunduk ini nih, yang membuat kebanyakan orang tidak sadar dengan keadaan jalan, fokus pada benda berlayar itu, bahkan tak sedikit yang menabrak orang, ujung-ujungnya marah sendiri.
" Nunduk aja terus, Di" sindir Amora. Satria hanya terkekeh. Sebelum sampai di kantin, Aldi menyimpan ponselnya kemudian masuk ke gazebo.
" Kamu apa? Aku yang pesenin" tawar Aldi. Satria bernapas lega, kali ini bukan dirinya yang disuruh.
" Aku siomay," jawab Amora. Satria mengangkat tangannya di depan wajah Aldi meminta request.
" Aku soto ya, jus jeruk"
Aldi mengangguk. Ia berjalan keluar gazebo kemudian memesan siomay dan Soto. Meski ada pada ruangan berbeda, Aldi tak keberatan. Hanya tinggal memesan kemudian penjualnya yang akan mengantar. Di sekolah ini ada banyak kantin. Kantin utama ini ada lima stand. Pertama stand jajanan dan makanan ringan, kedua bakso goreng, ketiga bakso dan mie ayam, keempat siomay, dan yang terakhir ini yang selalu ramai pengunjung terutama laki-laki. Menyediakan soto, jajanan, minuman komplit bahkan nasi. Ada juga lagi kantin darurat, di sebelah kelas gedung Sawit, hanya ada satu. Biasanya ada soto dan gorengan. Kantin ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan murid yang malas membeli jajanan di kantin utama yang letaknya memang jauh dari jangkauan kelas.
Aldi kembali. Memposisikan duduk di samping Amora di hadapan Satria. Raut muka Amora berbeda. Ia memandang Satria meminta penjelasan. Yang dipandang malah mengedikkan dagu ke arah belakang punggungnya. Ada Dafa dan Vanya. Hanya berdua. Mesra amat, batin Aldi
" Itu kok bisa nangkring di sana? Nggak ngeblur kan matanya sampai nggak bisa bedain mana Amora mana orang asing?" cerca Aldi. Sedikit percikan api datang memenuhi hatinya. Amora mendongak. Mengelus lengan Aldi kemudian menggeleng, berkata bahwa ia baik-baik saja.
Memang Vanya belum berkenalan dengan Satria, Rion, Aldi, dan Yoyo waktu di Pengayoman. Keempatnya sibuk bermain game, dan Vanya sendiri tidak ada niatan mencoba berbaur dengan mereka. Hanya pada Gama dan Amora. Jadi sah saja jika Aldi masih menganggap Vanya orang asing.
" Udah ah, biarin. Sans aja dong" ujar Amora. Ia memainkan ponselnya mengedit foto selfie yang diambil sebelum ia memutuskan untuk menguntit kedua teman Dafa. Temannya juga, karena Amora sadar mereka pasti menyayanginya.
" Udah deh, tambah laper nanti situ nambah lagi" goda Satria menimbulkan gelak tawa antara dirinya dan Amora. Aldi hanya diam menoyor kepala keduanya.
" Oalah, njenengan niki kok ngajak tawur" Aldi mengeluarkan logat Jawanya yang khas. Sementara Satria makin terkekeh saja.
" Eh, kalian?" seseorang menghampiri ketiganya yang asik bercengkrama. Dafa, laki-laki itu baru saja menggandeng Vanya untuk keluar gazebo, tapi dikejutkan dengan suara familiar milik Satria sehingga mau tak mau menahan langkah. Sekedar menyapa atau berbasa-basi.
Yang menjadi bagian paling mengejutkan adalah keberadaan Amora. Dafa jadi tak enak sendiri.
" Loh, kamu sama mereka?" tanya Dafa mencoba biasa, meski dalam hati ada rasa gugup hinggap. Apalagi Amora tersenyum lembut.
" Hai, Kak. Barusan makan?" tanya Amora pada Vanya. Tak mengindahkan perkataan Dafa. Ia menampilkan senyum lebarnya sementara Vanya mengangguk keki.
" Iya, Mor"
" Mor, pergi yuk. Aku habis ini pelajaran Bu Ela, takut telat" ajak Aldi. Satria ikut bangkit kemudian menarik pergelangan tangan Amora yang terhempas di atas meja.
" Yaudah, nih aku bayar, Di" ucap Amora menyodorkan uang lima ribu di hadapan Aldi. Aldi menerimanya dengan senang.
" Makasih, cantik"
Mereka bertiga berjalan beriringan setelah sebelumnya berpamitan pada Dafa dan Vanya. Hanya Amora yang berpamitan pada Vanya. Yang lain berbicara pada Dafa. Tidak lupa kan kalau mereka masih menganggap Vanya orang asing?
" Aku habis sholat langsung kesini soalnya laper kalau kamu mau tau, nggak ada niat buat makan bareng. Cuma kebetulan papasan" ujar Dafa tiba-tiba. Amora menghentikan langkah, ia membalikkan badan kemudian tersenyum ke arah Dafa.
" Apasih, Daf? Biasa aja kali. Aku nggak papa. Masa gitu doang marah"
******
Amora duduk di tangga. Keadaan sekolah masih ramai meski bel berbunyi sepuluh menit yang lalu. Baru saja ia ditemani oleh keempat teman Dafa sambil menunggu laki-laki itu, tapi karena mendadak ada urusan terpaksa meninggalkan Amora.
Baru saja, Amora mendapat pesan jika Dafa menyuruhnya pulang terlebih dahulu. Ia ada latihan basket untuk Kejurkab minggu depan. Memang, minggu-minggu ini Dafa disibukkan dengan kegiatan Kejurkab sehingga sulit untuk mereka bisa bersama. Paling saat berangkat sekolah saja.
Amora menghela napas. Ponselnya kembali bergetar hebat. Lima menit lalu ia memposting foto Gama hasil editan dan jepretannya. Memberitahukan pada pelanggan bahwa ia akan membuka jasa foto lagi. Sudah lama juga ia meninggalkan rutinitasnya. Amora jadi kangen sendiri.
" Sendirian?" tanya seseorang. Amora mendongak, mendapati Egie yang tengah tersenyum padanya.
__ADS_1
" Kakak nggak basket?" bukannya menjawab, Amora malah balik bertanya. Egie ikut duduk satu tangga di bawah Amora.
" Nggak, aku kan udah kelas empat. Biarin lah giliran adik kelas aku"
" Yakali aja Kak Egie ngelatih" elak Amora menimbulkan kekehan dari mulut Egie.
" Ada coach buat apa, Mor?"
Amora meringis. Ia memandang Egie dengan perasaan bersalah. Sok tau.
" Jalan yuk? Lagi free kan?"
Mendadak Amora antusias. Ia reflek bertepuk tangan. " Yeay! Ayo, Kak!"
*******
Amora berjalan menyusuri rak demi rak buku di hadapannya. Sementara Egie memilih melesat ke bagian Ensiklopedia. Memang meski ia tak ada kaitannya dengan jurusan IPA, tapi ia tertarik dengan hal-hal berbau Ilmu pengetahuan serta fakta fakta mendunia lainnya. Di rumah, Egie mengoleksi banyak buku ensiklopedia, sampai Ibunya sendiri kadang jengah ketika tiba-tiba Egie memborong banyak buku itu.
" Kamu suka baca buku?" tanya Egie. Amora hanya melirik kemudian kembali fokus pada buku di tangannya.
" Nggak, cuma pas waktu luang aja" Amora menjawab. Mengelus salah satu buku Dilan karya Pidi Baiq yang memang sedang populer. Film yang diperankan salah satu artis favorit para remaja termasuk Amora.
Mereka sedang ada di perpustakaan kota. Orang Temanggung biasa menyebutnya Perpusda. Perpustakaan ini berdiri menjulang di Jalan Kartini, tepat di samping Taman Kartini dan Kowangan Water park. Perpustakaan ini biasanya dikunjungi baik dari kalangan anak-anak sampai tua. Buka dari pagi sampai sore. Bukunya lengkap dan menarik. Apalagi posisi ruang bacanya yang ada di lantai dua, mampu membuat otak menjadi fresh memandang ramainya taman dan indahnya Temanggung dari atas.
" Mau pinjem?" tawar Egie bersiap meraih kartu perpustakaan dari dompetnya. Amora menggeleng. Mengembalikan bukunya tepat di tempat semula.
" Ke prekju yuk, Kak. Aku lagi pengen"
******
" Kamu kalo pedes jangan dipaksain. Aku pesenin yang nggak pedes ya" ucap Egie khawatir.
Beberapa kali laki-laki itu menyodorkan minumnya pada Amora yang dibalas kekehan singkat. Wajah Amora memang merah, tapi siapa yang berani munafik kalau makanan di sini tidak enak.
" Kak, disini itu yang dicari pedesnya. Nggak usah khawatir ah" balas Amora sambil menyendokkan nasi dengan ayam geprek level 7 berbalir keju mozarela. Egie jadi bergidik sendiri kemudian melanjutkan makannya.
Geprek Keju. Sering disingkat Prekju. Makanan populer juga yang digemari anak milenial seluruh sudut Temanggung. Siapa yang tidak mengenal tempat makan ini? Dengan nuansa kuning yang melekat serta menu yang semuanya geprek. Mulai dari geprek cheddar, saus barbeque, sampai keju mozarella. Disini sering dibuat tantangan anak muda untuk mencoba dengan level tertinggi. Dan memang tidak diragukan lagi kalau pedasnya setan.
" Ayo ah! Dafa cemen!"
" Pedes banget ini, Mor!"
Amora tertawa. Melihat Dafa yang berulang kali menyeruput lemon ice nya sampai habis. Wajahnya memerah. Membuat keringat membasahi sekitar kening dan pelipisnya.
" Ah, aku diare nih habis ini!"
" Makanya, Amora dilawan"
Ah, Amora lemah. Begini saja sudah nostalgia. Malah sekarang jadi rindu tawa menggelegar itu. Kekonyolan yang dilakukan Dafa. Gelesotan seperti anak ayam sekarat, beruntung saja tempatnya sepi.
" Kenapa, Mor?" tanya Egie membuyarkan. Amora kaget. Ia ketahuan melamun.
" Nggak, Kak. Kebakar mulut aku" alibinya cepat. Ia mengambil tisu kemudian mengelap matanya yang panas.
" Tuh kan, kakak bilang juga apa"
" Jadi kangen,"
" Hah?"
******
__ADS_1