
Han Ze Xin terbangun di sebuah ruangan yang terlihat asing. Dia melihat banyak benda yang belum pernah dia lihat selama hidupnya.
"Tempat apa ini?" gumam pria itu sambil memperhatikan sekeliling ruangan.
Ruangan dengan suasana nyaman dan hangat, lantai ruangan terbuat dari bahan marmer yang elegan. Di tengah ruangan terdapat sebuah tempat tidur besar yang dilengkapi dengan sprei berwarna putih yang belun pernah dilihat olehnya.
Di sekitar tempat tidur, terdapat beberapa bantal dan guling yang juga dilengkapi dengan sprei yang sama.
Di sisi lain, terdapat sebuah sofa besar dengan warna yang serasi dengan warna sprei tempat tidur. Sofa ini dilengkapi dengan beberapa bantal dan tirai tipis yang menggantung di sekelilingnya. Di sebelah sofa, terdapat sebuah meja kopi dari kaca yang dilengkapi dengan buku-buku dan majalah-majalah.
Di sisi lain kamar, terdapat sebuah meja kerja yang luas dan nyaman dengan kursi yang empuk berwarna hitam. Meja kerja ini dilengkapi dengan lampu meja berukuran kecil. Di sekelilingnya, terdapat beberapa rak buku dan peralatan kantor yang rapi.
Han Ze Xin berjalan mengitari ruangan yang berada di dalam kamar.
Terdapat sebuah lemari besar yang terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi dan di dalamnya terdapat banyak rak dan gantungan untuk menyimpan pakaian dan aksesori. Di sebelah lemari, terdapat sebuah televisi layar datar yang besar yang dilengkapi dengan sound system yang berkualitas tinggi.
Ruangan didesain dengan baik dan dihiasi dengan ornamen-ornamen mewah, dari lukisan, vas bunga, hingga karpet tebal yang empuk.
Setelah memperhatikan banyak barang dan benda asing yang tidak dia ketahui apa kegunaannya, Han Ze Xin mencoba mencari pintu keluar.
Han Ze Xin berjalan ke sebuah ruangan lain yang pintunya terkunci. Dia mencoba membuka pintu namun tidak berhasil. Akhirnya dia memutuskan untuk mendobrak pintu itu.
__ADS_1
Brakkk! Brakkk! Brakkk!
Bammm!
Setelah mencoba beberapa kali, pintu pun terbuka. Han Ze Xin lantas masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dia menatap sebuah foto berukuran besar yang tergantung di dinding ruangan. Pupil matanya langsung membesar begitu menyadari jika wajahnya dan Qing Xia berada di dalam foto tersebut.
Di dalam foto, Han Ze Xin mengenakan tuxedo hitam, sementara Qing Xia memakai baju pengantin berwarna putih yang menjuntai panjang hingga ke lantai.
"Tempat apa ini? Kenapa pakaian kami begitu bsrbeda?" gumam Han Ze Xin bertanya-tanya keheranan dan bingung dengan semua hal asing di sekitarnya.
Han Ze Xin meneruskan langkahnya, dia menatap sebuah cermin besar yang berada di salah satu sisi ruangan.
"Ceklek!"
Suara pintu terbuka mengagetkan Han Ze Xin. Dia menatap ke arah pintu dengan memasang sikap waspada.
Seoeang wanita cantik masuk ke dalam ruangan, dia memakai baju merah yang semerah darah lalu berjalan mendekati Han Ze Xin.
"Qing Xia?" panggilnya dengan wajah kebingungan. Sebab penampilan wanita itu begitu berbeda dengan Qing Xia yang ia kenal meskipun wajah mereka sama persis.
__ADS_1
Wanita di hadapannya terlihat dingin, dia terus melangkah maju dengan sepatu high heels berwarna perak. Setelah berada di depan Han Ze Xin, wajah wanita itu mulai memucat. Setelah beberapa saat, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar yang pekat.
Han Ze Xin terkejut melihat keadaan Qing Xia yang mengkhawatirkan. Dia memegang wajah Qing Xia lalu bertanya dengan wajah panik dan kebingungan. "Ada apa denganmu?"
Han Ze Xin menarik lengan Qing Xia, dia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan wanita itu. Setelah memeriksa berkali-kali, wajah Han Ze Xin tampak lebih terkejut lagi.
"Kenapa seperti ini? Kenapa aku tidak bisa merasakan denyut nadinya? Jelas-jelas dia masih hidup dan berdiri di depanku!" batin Han Ze Xin.
"Xin... Ku mohon, maafkan aku!" ucap Qing Xia dengan wajah yang berlinang air mata.
Han Ze Xin merasa kebingungan, dia juga khawatir melihat wajah Qing Xia yang semakin memutih pucat.
"Apa yang kau katakan? Kenapa kau meminta maaf?" tanya Han Ze Xin kebingungan.
Qing Xia mengayunkan lengannya, sebuah pisau tajam tiba-tiba muncul begitu saja di genggaman tangan Qing Xia.
"Jlebbb!"
Pisau menancap tepat di jantung Han Ze Xin, dia menatap Qing Xia dengan wajah yang memperlihatkan keterkejutannya atas serangan dari wanita yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?" tanya pria itu dengan sorot mata yang tampak kecewa.
__ADS_1
"Karena aku membencimu!" jawab Qing Xia dengan senyuman sinis dan tatapan yang dingin.
^^^BERSAMBUNG...^^^