Putri Jenderal Yang S2

Putri Jenderal Yang S2
Episode 12


__ADS_3

Han Ze Xin menatap istri tercintanya dengan penuh kasih sayang. Dia bisa melihat bahwa Qing Xia sedang dalam keadaan bingung dan takut. "Maaf, apa maksudmu dengan kehidupan ke-100?" tanyanya.


Qing Xia menelan ludah sejenak sebelum akhirnya menjelaskan semua pengalamannya di alam ilusi, termasuk bagaimana dia melihat 99 kehidupan di mana dia membunuh suaminya sendiri.


Qing Xia menarik napas panjang, mencoba meredakan perasaannya. "Aku... aku terperangkap di alam ilusi, Han Ze Xin. Aku melihat 99 kali kehidupan di mana aku membunuhmu dengan tanganku sendiri."


Han Ze Xin terkejut mendengar cerita tersebut, sebab dia juga merasakan pengalaman saat dibunuh oleh Qing Xia di tempat asing yang baru pertama kali dia lihat. Namun, dengan cepat ia menyadari bahwa istrinya membutuhkan dukungan dan ketenangan dalam situasi ini.


Han Ze Xin tersenyum kecil, "Itu hanya ilusi. Kita harus fokus pada kehidupan yang sebenarnya, yang saat ini kita jalani."


Qing Xia mengangguk, tetapi dia masih terguncang. Dia merasa seolah-olah dia masih berada di alam ilusi, dan ketakutan itu sulit untuk dihilangkan. Han Ze Xin merangkulnya dan menghiburnya.


"Tidak ada yang akan terjadi pada kita, Qing Xia. Kita akan hidup bahagia dan sehat selamanya."


Qing Xia menatap suaminya dengan pandangan yang penuh rasa syukur. Dia tahu bahwa dia sangat beruntung bisa menikah dengan pria yang begitu sabar dan pengertian.


Manusia phoenix mengganggu kedua pasangan itu, dia sengaja menjatuhkan cangkir yang berada di atas meja sehingga membuat suara keributan.


Han Ze Xin dan Qing Xia menoleh ke arah manusia phoenix. Pria itu melangkah maju ke tempat tidur.


"Ini adalah hadiah untukmu, untuk membantumu keluar dari alam ilusi," kata pria phoenix tersebut seraya menyerahkan sebuah kotak kepada Qing Xia.


Qing Xia membuka kotak itu dan menemukan sebuah kalung yang indah dengan sebuah batu permata di tengahnya. Pria phoenix tersebut menjelaskan bahwa batu tersebut memiliki kekuatan untuk melindungi pemakainya dari alam ilusi dan membuatnya tetap berada di dunia nyata.


"Terima kasih!" ucapnya lalu termenung dalam pikirannya yang sedang rumit.


Qing Xia bertanya-tanya dalam hati tetapi tanpa sadar ia mengucapkan pertanyaan itu melalui bibirnya. "Apakah yang tadi itu benar-benar hanya sekedar ilusi?"


Han Ze Xin merasa bahwa pertanyaan Qing Xia adalah wajar, dan dia merenung sejenak sebelum memberikan jawaban yang tidak akan membuat Qing Xia khawatir.

__ADS_1


"Hidup itu sendiri mungkin bisa dianggap sebagai sebuah ilusi, Qing Xia. Namun, yang penting adalah bagaimana kita menghadapi ilusi itu dan menjalani kehidupan kita dengan bijaksana dan penuh arti," kata Han Ze Xin.


"Seperti saat ini, kita hidup di dunia nyata. Kita memiliki keluarga, teman, dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Itulah yang harus kita fokuskan dan pikirkan, bukan hal-hal yang mungkin hanya sebuah ilusi," sambungnya.


Qing Xia merenung sesaat tentang kata-kata suaminya. Dia merasa sedikit lega, karena dia merasa bahwa suaminya adalah seseorang yang selalu memberikan dukungan dan menghiburnya dalam setiap situasi.


Dia tersenyum pada suaminya dan mengambil tangan Han Ze Xin. "Aku mengerti. Terima kasih telah membuatku merasa aman dan tenang," ujarnya.


Han Ze Xin tersenyum dan mencium kening Qing Xia. "Aku akan selalu ada untukmu, Qing Xia. Kita akan menghadapi segala rintangan bersama-sama," ucapnya dengan penuh kasih sayang.


Burung phoenix yang membantu Qing Xia keluar dari alam ilusi merasa kesal dan sedikit marah. Dia merasa telah memberikan bantuan yang besar, namun tidak diperhatikan oleh Qing Xia dan Han Ze Xin yang sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri.


Burung phoenix itu memandang keduanya dengan tatapan tajam, namun dia mengendalikan emosinya dan memilih untuk tidak memperlihatkan ketidakpuasan kepada manusia.


Setelah beberapa saat, Han Ze Xin dan Qing Xia sadar akan keberadaan burung phoenix itu. "Aku tidak tahu siapa dan dari mana asalmu, tetapi aku sangat ber-Terima kasih atas bantuanmu," ucap Han Ze Xin dengan senyuman ramah.


Burung Phoenix tidak memerlukan kata terima kasih dari seorang manusia. Tetapi dia mengharapkan sesuatu dari majikannya. Sesuatu yang bisa membuat sang phoenix di akui di alam nirwana.


Pria yang tampak gagah dengan pakaian merahnya yang dihiasi dengan sedikit les hitam di bagian pinggirnya, menambahkan kesan elegan pada penampilannya.


Rambut putih panjangnya diikat rapi di belakang, mengungkapkan leher jenjang yang menambah daya tariknya. Wajahnya yang tampan, dengan kulitnya yang mulus dan mata yang semerah darah, membuat wajahnya terlihat sedikit menakutkan.


Namun, di balik penampilannya yang menawan, dia adalah seorang manusia phoenix yang memiliki kemampuan luar biasa.


Kekuatan fisiknya melebihi manusia biasa, ia mampu melompat tinggi dan berlari dengan kecepatan yang seperti cahaya. Kemampuan terbangnya juga tak kalah menakjubkan, mengendalikan api yang mengelilinginya dengan kemampuan luar biasa saat ia melayang di atas kepala orang-orang.


Dengan senyumnya yang hangat, ia menatap dengan pandangan tajam dan mengambil nafas dalam-dalam, membiarkan energi phoenix yang dimilikinya memancar keluar dari tubuhnya. Ia adalah makhluk yang abadi, selalu hidup kembali setelah mati dan memulai kembali kehidupan barunya.


Dan kali ini, sang phoenix telah hidup kembali setelah perpindahan jiwa Qing Xia ke dinasti Han. Kehidupan yang baru dia dapatkan kembali setelah ribuan tahun berlalu.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu!" ucap Manusia phoenix dengan nada memerintah.


"Boleh aku tahu siapa orang ini?" tanya Qing Xia kepada Han Ze Xin.


"Aku juga tidak mengenalnya, dia datang secara tiba-tiba dan masuk ke kamar ini lalu berkata dia bisa membangunkan kamu yang tertidur panjang." jelas Han Ze Xin yang juga sedikit penasaran tentang manusia phoenix.


Qing Xia menatap manusia phoenix dengan tatapan menyelidik. Dia mencoba melihat manusia burung itu dengan kekuatan matanya yang istimewa.


"Kau, burung jelek itu!" seru Qing Xia setelah mengetahui wujud asli dari manusia phoenix.


"Aku ini phoenix, bukan burung! Dasar manusia!" ketus pria itu dengan nada kesal.


"Phoenix juga termasuk burung! Dasar burung bodoh!" ucap Qing Xia dengan senyuman sinis.


"Namaku Tian Feng bukan burung! Kau ini manusia yang tidak punya sopan santun!" ucap pria itu dengan wajah penuh emosi.


"Ooo... Jadi ternyata burung punya nama juga!" ucap Qing Xia menyindir manusia burung di depannya.


Wajah Tian Feng menegang dan mengerut kesal, alisnya berkerut dalam-dalam dan sorot matanya terlihat penuh amarah. Rahangnya mengeras, dan bibirnya mengatup rapat, seolah-olah ia berusaha menahan kemarahannya. Urat-urat di dahinya menonjol, dan hidungnya berdenyut ketika ia menghirup napas dalam-dalam.


Seluruh sikapnya memancarkan kemarahan yang memuncak, namun jelas dia tidak bisa melakukan apapun terhadap Qing Xia yang saat ini berstatus sebagai majikannya. Sebab phoenix yang mengikat kontrak dengan manusia akan berbagi dengan nyawa dan takdir dengan manusia tersebut.


Han Ze Xin merasakan amarah dari Tian Feng, dia segera menghadang di depan Qing Xia agar pria misterius di depannya tidak bisa menyakiti sang istri.


"Apa maksud dari sikapmu ini? Kau pikir aku akan memukul seorang wanita?" tanya Tian Feng kepada Han Ze Xin.


"Aku hanya ingin melindungi istriku!" jawab Han Ze Xin dengan nada datar.


"Manusia lemah seperti kalian memangnya bisa melawanku?" cibir Tian Feng dengan wajah sombong.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2