
Pertarungan yang awalnya bisa di menangkan dengan mudah oleh Han Ze Xin malah menjadi kekalahannya. Dia mengetahui jika pria itu pasti akan mengeluarkan racun dalam jumlah yang banyak untuk mengalahkan para prajurit dari keluarga Sima.
Racun kalajengking merah, yang sering Han Ze Xin pakai untuk melumpuhkan musuh-musuhnya. Qin Yi Yi mengeluarkan bubuk lotus langit yang sudah dia persiapkan sebelum menemui Han Ze Xin. Begitu racun kalejengking merah di sebarkan ke udara, Qin Yi Yi melempar serbuk lotus langit ke arah Han Ze Xin.
"Brukkk!"
Tubuh pria itu langsung terjatuh ke bawah. Dia merasa seluruh tubuhnya kaku dan tidak bertenaga.
Han Ze Xin lagi-lagi kalah di tangan Qin Yi Yi yang juga seorang ahli racun. Di dalam teh yang dia minum sebenarnya hanya berisi teh biasa yang di seduh dengan bunga lotus langit.
Bunga lotus langit hanya tumbuh setahun sekali dan akan mati begitu bunganya mekar dengan sempurna. Namun, bunga ini memiliki kegunaan tersendiri. Kelopak bunga lotus langit akan menjadi obat bius apabila bertemu dengan racun kalajengking merah.
Han Ze Xin yang selalu memegang racun kaljengking merah tentunya akan langsung ambruk begitu menyentuh lotus langit yang langka. Pria itu bahkan tidak menyangka jika Qin Yi Yi memiliki bunga langka tersebut.
Qin Yi Yi menyeringai puas ketika melihat Han Ze Xin jatuh pingsan di hadapannya. Dia merasa lega karena berhasil mengalahkan Han Ze Xin yang selalu meremehkannya.
Namun, tiba-tiba dia merasa sesak napas dan pusing. Qin Yi Yi menyadari bahwa dirinya sendiri telah terkena efek racun yang dia gunakan untuk menaklukkan Han Ze Xin.
Dalam keadaan yang semakin parah, Qin Yi Yi berusaha untuk mengambil obat penawar racun dari sakunya. Namun, tangannya terlalu lemah untuk melakukan hal tersebut. Dia tersungkur di lantai, merasakan tubuhnya terasa semakin lemah dan tidak berdaya.
Namun, tiba-tiba Qin Yi Yi merasakan ada seseorang yang mengangkat tubuhnya dan memberikannya obat penawar racun. Dia mengenal aroma itu, dan tahu bahwa orang yang membantunya adalah Sima Liu Zhi yang diam-diam jatuh cinta kepadanya.
Di saat itu juga, Yu terbangun karena suara efek bius di tubuhnya mulai menghilang. Dia menarik pedangnya lalu berlari ke arah Han Ze Xin dengan langkah kaki yang tidak beraturan. Penglihatannya masih sedikit kabur karena efek dari obat bius yang masih mempengaruhi tubuhnya.
Yu berdiri menghadang di depan tubuh Han Ze Xin agar tidak ada yang bisa menyentuh Tuan Mudanya. Dengan kedua tangan, dia memegang erat pedang panjang yang selalu berada di sisinya ke mana pun dia pergi. Dia mengarahkan ujung pedang ke depan lalu menatap tajam kedua orang yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Jangan mendekat! Aku akan membunuh siapapun yang berani mendekat!"
Liu Zhi dan Qin Yi Yi berdiri diam tanpa bergerak sedikitpun.
"Zhu Bao, bawa keluar kereta kuda!" Yu berteriak memanggil rekannya yang bertugas sebagai kusir kereta.
Zhu Bao berlari ke tempat dia mengikat kudanya, buru-buru pria itu membawa kereta kuda menuju ke bawah jendela kamar tempat Han Ze Xin berada. Setelah mendengar suara langkah kaki kuda, Yu mengangkat tubuh Han Ze Xin lalu melangkah ke jendela kamar.
"Zhu Bao!" teriak Yu lalu melemparkan tubuh Tuan Mudanya ke bawah.
Zhu Bao menangkap tubuh Han Ze Xin yang di lempar oleh Yu. Dia membawa masuk Han Ze Xin ke dalam kereta kuda lalu menunggu Yu untuk melompat dari atas. Tetapi sayangnya Yu telah di sergap oleh Liu Zhi ketika dia melemparkan tubuh Han Ze Xin lewat jendela.
Ujung pedang Liu Zhi saat ini mengarah di leher Yu, namun tidak ada sedikitpun rasa takut yang terlihat di wajah pria itu.
Zhu Bao merasa bersalah dan menyesal harus meninggalkan Yu seorang diri. Tetapi dia tidak memiliki pilihan lain karena nyawa Tuan Muda mereka adalah yang paling utama.
"Ciaaa....!"
Zhu Bao menjalankan kereta kuda dengan kecepatan maksimal, dia menerobos prajurit yang berjaga di sekitar penginapan tanpa sedikitpun keraguan. Sima Liu Zhi memberi perintah untuk melepaskan anak panah, dia harus memastikan kematian Han Ze Xin agar tidak ada yang mengetahui kejadian ini.
Anak panah dilepaskan oleh prajurit keluarga Sima. Zhu Bao terus melajukan kereta kudanya tanpa memperlambat kecepatan kudanya meskipun di depannya saat ini berdiri puluhan prajurit yang sedang bersiap menembakkan anak panah.
"Tuan Muda, ini mungkin hari terakhir Zhu Bao bisa mengawal anda. Tolong kembalilah ke kediaman dengan selamat!" ucap Zhu Bao dengan keringat yang bercucuran.
Zhu Bao menarik pedang dari sarung, dia melilitkan kain panjang ke tangan dan pedang yang merupakan satu-satunya senjata miliknya agar tidak terlepas saat bertahan dari serangan para prajurit.
__ADS_1
"Syuttt! Syuttt! Syuttt!"
Puluhan anak panah melesat cepat ke arah kereta kuda, Zhu Bao hanya bisa bertahan sekuat tenaga. Dia menghantam anak panah yang melesat datang dari depan dan terjatuh dari atas.
"Jlebbb!"
Bahu kiri Zhu Bao tertembak anak panah, dia menahan rasa sakit itu tanpa sedikitpun rintihan. Zhu Bao terus melanjutkan laju kudanya tanpa berniat untuk menyerah. Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik Zhu Bao untuk masuk ke dalam kereta kuda.
"Tu... Tuan Muda!" sebutnya saat melihat Han Ze Xin pemilik tangan yang menariknya masuk ke dalam.
"Berhenti! Mereka akan mrmbunuh kita jika kau terus melarikan diri. Aku tidak memiliki tenaga untuk melawan sekarang. Sebaiknya kita menyerah dan menunggu waktu untuk membalas mereka!" ucap Han Ze Xin dengan suara lemah.
Zhu Bao mengerti. Dia bersiul tiga kali, kuda yang menarik kereta kuda berhenti melangkah begitu mendengar suara siulan dari Zhu Bao.
Prajurit yang mengejar kereta kuda perlahan mendekat, mereka membawa kedua pria itu kembali ke penginapan.
Sebelum itu, Zhu Bao sudah menulis surat peringatan dan untuk Dou Dou yang masih belum kembali. Dia berharap Dou Dou akan membawa bala bantuan dari kediaman untuk datang menyelamatkan mereka.
Saat Dou Dou kembali, dia melihat kereta kuda mereka yang sudah tertancap puluhan anak panah, diam-diam dia masuk ke dalam kereta kuda untuk mencari keberadaan Zhu Bao. Di saat itulah dia menemukan surat peringatan dari rekannya.
Dou Dou berlari menuju ke kediaman. Dalam perjalanan, Dou Dou terjatuh beberapa kali hingga melukai lutut dan siku tangannya. Namun Dou Dou tidak menyerah dengan luka-luka itu. Dia berdiri kemudian melanjutkan langkah kakinya. Dia berlari dengan kecepatan yang sanggup dia lakukan sekuat tenaga.
Begitu tiba di kediaman, Dou Dou segera menuju ke paviliun utama yang merupakan tempat berkumpulnya keluarga Han.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1