Putri Jenderal Yang S2

Putri Jenderal Yang S2
Episode 9


__ADS_3

"Tidak ada gunanya kau berteriak, karena ini adalah tempat yang aku ciptakan dari kebencian dan kekecewaan yang kau berikan selama 99 kehidupan."


Han Ze Xin berjalan mendekati Qing Xia, wanita itu menatap kedua bola mata pria yang berdiri di hadapannya. Tatapan yang menyiratkan kebencian namun juga cinta yang mendalam terhadap wanita di depannya.


"Apa kau tahu, aku selalu mencari mu di semua kehidupan yang kita jalani. Selama itu pula, aku yang awalnya ingin membalas dendam akhirnya kalah dengan rasa cintaku terhadapmu."


Han Ze Xin menyentuh wajah Qing Xia dengan tangannya yang terasa dingin seperti salju. Pria itu tersenyum miris dengan wajah yang tampak bersedih.


"Aku selalu mencintaimu di 99 kehidupan itu. Aku selalu memberimu satu kesempatan lagi dan lagi sampai akhirnya kau kembali menikam jantungku."


Qing Xia merasa bingung dan frustasi, dia tidak mengingat apapun tentang kehidupan yang di bicarakan oleh Han Ze Xin.


"Apa kau benar-benar Han Ze Xin? Xin suamiku?" tanya Qing Xia dengan suara yang bergetar.


"Sekarang kau bahkan tidak bisa mengenaliku lagi? Atau kau hanya mencoba untuk melupakan semua masa lalu kita? Perlukah aku menunjukkannya kepadamu satu persatu?"


Han Ze Xin mengibaskan tangannya, hutan yang di penuhi pohon akhirnya menghilang. Kini mereka berada di atas sebuah kapal pesiar yang tengah berlayar di tengah lautan.


Qing Xia merasa takut, dia langsung memejamkan mata agar tidak lagi melihat kejadian di mana dirinya membunuh Han Ze Xin dengan tangannya sendiri.


"Buka matamu!" perintah pria itu yang kemudian membuat Qing Xia bisa melihat semua kejadian di depan matanya meskipun masih terpejam erat.


Qing Xia mengerutkan alis, dia menunggu dengan perasaan cemas dan takut, membayangkan kejadian mengerikan yang akan terjadi di depan matanya.


Seorang pria keluar dari pintu besi, pria itu mengenakan kemeja putih polos dan celana hitam panjang dengan sebuah kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Dia berjalan ke depan kapal layar lalu berdiri di tepi kapal, menatap lautan yang luas dengan mata yang sehitam langit malam.


Setelah beberapa saat, pintu kembali terbuka. Tampak seorang wanita keluar dari balik pintu, wanita itu memakai baju bikini berwarna merah muda dengan baju luar tipis transparan yang berwarna putih.

__ADS_1


Wanita itu mendekati pria yang sedang berdiri di tepi kapal. Dia memeluk pinggang pria tersebut lalu menyandarkan kepalanya di punggung lebar milik pria di dekapannya.


Merasakan tangan lembut yang sedang melingkar di pinggangnya, pria itu tersenyum dengan wajah yang bahagia. Dia berbalik lalu mengecup kening wanita di depannya.


"Kenapa kau keluar? Di sini terlalu banyak angin, kau bisa masuk angin nanti. Ayo masuk ke dalam!" kata pria itu dengan suara yang lembut.


Wanita itu tersenyum sambil mengangguk, dia memandang wajah pria di hadapannya lalu menyambut uluran tangan yang mengarah kepadanya.


Setelah pria itu menggenggam tangan wanita, dia merasakan ada keanehan yang terjadi pada jari-jarinya. Pria itu membeku sesaat, dia menatap wajah wanita di hadapannya dengan tatapan seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dia rasakan.


"Qing Xia... Kau... Tanganmu...!"


Pria itu ragu untuk bertanya, dia merasa sulit mengatakan kata-kata tuduhan di depan wanita yang ia cintai dengan setulus hati.


Rasa kaku yang awalnya hanya di jari kini merambat hingga ke seluruh tubuh. Pria itu terlihat sangat kecewa, ekspresi wajah yang tadinya bahagia telah lenyap begitu saja. Hanya menyisakan secercah harapan jika apa yang dialaminya saat ini bukanlah perbuatan dari sang kekasih.


"Pergilah ke neraka!" ucap wanita itu dengan eajah yang tampak puas.


"Byurrr!"


Tubuh pria itu di dorong jatuh dari tepi kapal, dia meluncur ke bawah lalu menghantam air yang tidak diketahui berapa kedalamannya.


Qing Xia menatap semua kejadian itu dengan tubuh yang bergetar, dia menahan semua ketakutan dan emosi yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.


"Ini adalah ke 99 kalinya aku memberimu kesempatan. Aku mengira kali ini akan berakhir bahagia, tetapi... Lagi-lagi kau mengecewakan ku." ucap Han Ze Xin dengan sorot mata yang menyedihkan.


"Ma... Maaf... Aku... Aku benar-benar minta maaf." ucap Qing Xia secara tak sadar. Dia tidak mengingat satupun peristiwa itu, tetapi di dalam hatinya, Qing Xia merasa sangat bersalah.

__ADS_1


"Tidak ada lagi yang perlu di maafkan karena semuanya sudah berlalu. Di kehidupan yang ke 100, aku tidak akan mengingat kenangan masa lalu yang sudah kita habiskan bersama di 99 kehidupan. Baik itu kenangan indah maupun kenangan buruk. Semoga kita tidak bertemu lagi di kehidupan yang ke 100."


Han Ze Xin memasang wajah datar, dia lalu melayang di udara. Perlahan-lahan, tubuhnya semakin tinggi ke atas hingga akhirnya menghilang di langit.


Kaki Qing Xia terasa lemah, dia terjatuh dan terduduk di lantai kapal yang terbuat dari besi. Langit yang cerah mulai gelap. Qing Xia menatap ke langit menunggu dunia selanjutnya yang akan di datangi.


Setelah sekelilingnya penuh dengan kegelapan, Qing Xia menatap lurus ke depan. Dia berharap dan menunggu sebuah cahaya yang akan datang. Tetapi selama apapun ia menunggu, tidak ada sinar yang menerangi tempat itu.


Qing Xia duduk merenung di ruangan hampa yang gelap dan sunyi. Entah berapa lama waktu berlalu, Qing Xia tidak bisa mengetahuinya karena di tempatnya berada hanya ada kegelapan yang abadi.


Sementara itu, di dunia nyata. Han Ze Xin mengeringkan tubuh Qing Xia yang basah oleh air hangat. Dia baru saja memandikan raga istrinya yang saat ini kosong tanpa jiwa.


"Xia... Sampai kapan kamu akan tertidur seperti ini?" tanya Han Ze Xin yang tengah menggenggam telapak tangan Qing Xia.


Dia menatap wajah Qing Xia yang semakin hari semakin kurus, dadanya sesak dan sakit karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membangunkan istrinya dari tidur panjang.


"Sudah tiga hari, aku merindukan senyuman dan wajah kesalmu. Kau tahu, aku sangat menyesal! Seharusnya aku tidak meninggalkan mu sendirian di malam itu. Aku benar-benar menyesalinya. Maafkan aku!" ucap Han Ze Xin mengeluarkan semua kata-kata hatinya.


Han Ze Xin menatap kening Qing Xia yang memiliki tanda merah berbentuk burung phoenix. Dia merasa heran dan bingung sebab sebelumnya Qing Xia tidak memiliki tanda itu.


"Apa ini?" gumamnya sambil menyentuh tanda merah di kening Qing Xia.


Sebuah cahaya tiba-tiba saja keluar dari tanda phoenix di kening Qing Xia. Han Ze Xin terkejut hingga membelalakkan kedua mata. Dia menatap cahaya terang yang berwarna emas lalu mencoba menyentuhnya dengan tangan.


Brukkk!


Tubuh Han Ze Xin langsung ambruk begitu menyentuh cahaya emas di depannya.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2