
"Kau... membenciku?" tanya pria itu dengan tatapan tak percaya.
"Benar, aku membenci mu! Tidak ada satu hari pun di hidupku tanpa memikirkan bagaimana cara untuk membunuhmu! Ingatlah itu! Han Ze Xin, aku selalu membencimu!"
Setelah mengucapkan kalimat yang menyayat hati pria di depannya, Qing Xia menarik pisau yang menancap di jantung Han Ze Xin. Darah menyembur keluar dari luka tusukan, membuat pakaian putih yang kenakan oleh pria itu berubah merah.
Han Ze Xin menatap wajah istrinya dengan mata yang mulai menggelap. Kehilangan banyak darah membuat pandangannya kabur dan tubuhnya mulai lemas.
Brukkk!
Pria itu terjatuh, tubuhnya ambruk ke lantai yang keras dan dingin. Namun dia masih berusaha membuka mata, menatap wajah dingin istri yang baru saja menikam jantungnya dengan sebilah pisau baja.
Han Ze Xin mulai kehilangan kesadaran, dia memejamkan mata dengan perasaan sakit yang luar biasa. Bukan sakit karena tertusuk benda tajam, tetapi sakit yang di rasakan dari penghianatan seorang wanita yang dengan tulus dia cintai. Di tambah dengan kata-kata terakhir dari sang istri yang membuat hatinya serasa tercabik-cabik.
Sementara itu, Han Ze Xin yang berada di dunia nyata kini membuka mata. Dia bangkit dari lantai lalu menatap wajah Qing Xia yang masih berbaring di tempat tidur.
"Tadi itu apa? Mimpi? Tidak, terlalu nyata untuk di anggap sebagai mimpi!" batin Han Ze Xin.
"Qing Xia, apakah kau benar-benar sebenci itu terhadapku?" tanyanya dengan mata yang memerah.
Seekor burung phoenix terbang melintasi angkasa, phoenix itu meluncur ke bawah lalu masuk ke dalam kamar Qing Xia.
Burung phoenix berubah menjadi sosok seorang pria tampan, dia mendekat ke tempat tidur untuk melihat kondisi manusia yang menjalin ikatan kontrak dengannya.
"Siapa kau?" tanya Han Ze Xin yang langsung menghadang jalan phoenix.
"Aku datang untuk menyelamatkan nyawa wanita ini, jadi sebaiknya kau menyingkir!" ketus pria itu dengan wajah dingin.
"Kau bisa menyelamatkan Qing Xia?" tanya Han Ze Xin dengan sangat berharap.
"Benar, jadi biarkan aku lewat!" tegas manusia burung dengan wajah serius.
__ADS_1
Han Ze Xin menyingkir dari depan pria itu, dia berharap orang asing di depannya benar-benar bisa membangunkan Qing Xia dari tidur panjangnya yang entah sampai kapan.
"Kau...!"
Han Ze Xin berniat bertanya siapa dan bagaimana dia bisa mengetahui keadaan Qing Xia, tetapi dia mengurungkan niat itu. Pria di depannya kini tampak fokus menatap Qing Xia yang berbaring di atas tempat tidur dengan wajah yang terlihat gelisah.
"Aku hanya membuat kontrak sepihak dengannya. Kenapa dia malah terperangkap di alam ilusi?" pikir sang phoenix yang bingung dan tak mengerti apa yang terjadi kepada majikannya.
Phoenix menarik sehelai rambutnya, rambut yang berada di tangannya berubah menjadi bulu berwarna hijau keemasan dengan ujung yang kemerahan.
"Hei makhluk fana, ikuti bulu ini untuk kembali!" ucapnya di depan Qing Xia lalu memasukkan helaian bulu ke alam ilusi melalui tanda merah berbentuk phoenix di kening Qing Xia.
Bulu yang dikirim oleh phoenix muncul di depan Qing Xia, suara phoenix pun terdengar keljar dari sehelai bulu yang memghampirinya.
"Makhluk fana? Maksudnya aku?" tanya Qing Xia kepada diri sendiri.
Qing Xia yang meringkuk menundukkan wajahnya kini bangkit dan berdiri. Dia mengikuti bulu phoenix yang melayang mengarahkan jalan di depan untuk kembali ke alam nyata.
Setelah berjalan beberapa menit, Qing Xia merasa gaya gravitasi di alam itu semakin berat. Langkah kakinya semakin melambat akibat tekanan berat yang terasa di tubuhnya.
Bulu phoenix yang mengeluarkan cahaya di depan Qing Xia berbalik arah, dia mendekatkan diri dengan wanita itu.
Seakan mengerti jika Qing Xia sedang kesulitan, bulu phoenix mengarah ke kaki Qing Xia yang berada di atas permukaan daratan. Bulu itu membesar dan semakin membesar hingga dirinya kini sebesar dua ukuran tubuh manusia dewasa.
Bulu itu menyentuh kaki Qing Xia, seakan hendak berbicara kepada wanita di depannya. Melihat gerakan bulu phoenix yang seperti sedang mengajaknya berbicara, Qing Xia pun bertanya kepada bulu phoenix.
"Kenapa kau bergerak dan menyentuh kakiku seperti itu? Apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?"
Bulu phoenix kembali menyentuh kaki Qing Xia, dia menoel-noel pelan kaki wanita itu seperti sedang memintanya melakukan sesuatu.
"Kau ingin aku naik ke atas tubuhmu?" tanya Qing Xia memastikan pemikirannya.
__ADS_1
Bulu phoenix mengangguk-angguk.
"Terima kasih! Meski aku tidak tahu kau ini siapa, tapi aku sangat senang melihatmu berada di sini. Aku takut berada di ruangan ini sendirian." ucap Qing Xia dengan wajah tanpa ekspresi.
Qing Xia naik ke atas bulu phoenix yang sedang melayang di dekat telapak kakinya. Dia lalu duduk di atas bulu phoenix yang membawanya melayang menuju keluar dari alam ilusi.
Sebuah titik cahaya terlihat dari kejauhan, cahaya yang tampak seperti bintang di langit malam. Semakin dekat, cahaya itu semakin membesar. Begitu mereka tiba di ujung cahaya, kegelapan di sekitarnya langsung menghilang tanpa jejak.
Qing Xia berbalik ke belakang, dia tidak menemukan ruangan gelap yang sudah mengurungnya selama beberapa hari. Kegelapan yang dia lihat seakan-akan hanyalah sebuah mimpi dan hayalannya semata.
Qing Xia kembali berbalik menatap ke depan, dia melihat sosok seorang pria yang sedang menatapnya dengan deraian air mata darah. Dia memperhatikan wajah pria yang mirip dengan wajah suaminya. Setelah jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah, pria itu menghapus air mata darah di wajahnya.
Sebuah suara terdengar di telinga Qing Xia. Suara yang tidak asing dan sangat jelas jika suara itu merupakan suara dari Han Ze Xin.
"Jika kita bertemu secara tidak sengaja di kehidupan yang ke 100. Aku pasti akan mencintai mu lagi dan lagi sampai kau kembali mengambil nyawaku. Saat itu, aku akan memusnahkan jiwa abadiku untuk memutar roda kehidupan hingga di titik awal pertemuan kita."
"Memutar roda kehidupan?" gumam Qing Xia ambil menatap tajam ke arah Han Ze Xin.
Dia merasa pusing dan sakit kepala, dunia tempatnya berada sekarang ini sedang berputar-putar memperlihatkan semua peristiwa yang dia lalui bersama Han Ze Xin.
Di antara 99 kehidupan mereka, Han Ze Xin selalu mencintai Qing Xia dengan sepenuh hati. Sementara Qing Xia selalu mencari cara untuk menyakiti pria itu. Di akhir 99 kehidupan mereka, Qing Xia selalu membunuh Han Ze Xin dengan berbagai macam cara.
"Qing Xia! Qing Xia!"
Suara Han Ze Xin yang memanggil namanya terus bergema di pikiran Qing Xia. Penglihatannya mulai memudar, jiwanya yang terperangkap sedang di tarik kembali ke alam nyata oleh manusia phoenix yang berada di kamarnya.
Qing Xia membuka mata, nafasnya memburu dengan air mata yang keluar secara terus menerus dari kedua sudut matanya. Dia memperhatikan sekeliling ruangan.
Melihat wajah Han Ze Xin yang sedang berdiri di samping tempat tidur, ingatan Qing Xia yang melihat adegan dia membunuh pria itu sebanyak 99 kali terus menghantui pikirannya.
"Qing Xia, kenapa kau menangis? Kau sakit? Ada yang terluka?" tanya Han Ze Xin dengan wajah cemas dan suara yang panik.
__ADS_1
"Han Ze Xin... Apakah ini kehidupan kita yang ke 100?" tanya Qing Xia dengan wajah yang masih berderai air mata.
^^^BERSAMBUNG...^^^