
"Hahaha... Kau membandingkan dirimu dengan Qing Xia? Kau seperti membandingkan langit dan bumi! Oh tidak, kau hanya seonggok sampah yang berada di antara para manusia." ucap Han Ze Xin dengan maksud menghina Qin Yi Yi yang hanya dianggap sebagai sampah di matanya.
Qin Yi Yi semakin berang, dia menarik paksa tubuh Han Ze Xin dan menempelkan bibirnya ke wajah pria itu. Sementara Han Ze Xin terus mendorong dan memalingkan wajahnya untuk menghindar dari bibir Qin Yi Yi yang menargetkan bibirnya.
Karena tidak sanggup mendapatkan keinginannya untuk mencium bibir Han Ze Xin, wanita itu beralih ke leher Han Ze Xin. Namun aksi gilanya dia hentikan saat menatap jejak merah yang di tinggalkan oleh Qing Xia.
Dalam pikirannya, Qin Yi Yi membayangkan Han Ze Xin dan Qing Xia yang sedang bercumbu di atas ranjang. Dia menggigit keras kedua rahangnya, telapak tangannya mengepal erat, dan urat-urat di lehernya tampak bermunculan.
"Wanita jalaang! Akan ku bunuh dia!" umpat Qin Yi Yi dengan kedua bola mata yang melotot.
Qin Yi Yi melampiaskan amarahnya kepada Yu yang masih terikat tak berdaya. Dia mengambil cambuk dari atas meja lalu mencambuki tubuh Yu dengan sekuat tenaga. Meskipun terasa sangat menyakitkan hingga kulitnya terkoyak dan tercabik, tidak ada sedikitpun suara erangan yang keluar dari bibir pria itu.
"Hentikan!" ucap Han Ze Xin dengan mata yang memerah.
Dia menatap wanita di depannya dengan tatapan marah dan penuh dendam. Dalam hati, ia bersumpah akan membunuh wanita itu apabila sudah terbebas dari jeratan racun yang membuatnya menderita.
Mendengar suara Han Ze Xin, membuat Qin Yi Yi semakin bersemangat untuk menyiksa pria di hadapannya. Dia kembali mengangkat tangan yang memegang cambuk, kali ini wanita itu menargetkan wajah Yu yang terlihat halus dan mulus meskipun dia sudah berumur setengah abad.
"Syuttt!"
Sebuah pedang panjang terbang melesat dari arah pintu. Pedang itu menusuk jari telunjuk Qin Yi Yi, membuat wanita itu menjatuhkan cambuk di tangannya.
"Shhh...!" ringis Qin Yi Yi dengan raut wajah kesakitan.
"Brakkk!"
Pintu dibuka secara kasar oleh Ti Liu, dia berlari ke arah Yu yang terikat di kayu lalu membebaskan ikatan tangan dan kakinya. Qing Xia dan Han Ze Xuan turut masuk, di ikuti dengan puluhan anggota Pasukan Elang.
Mereka menatap Qin Yi Yi dengan tatapan jijik, sebab tubuh wanita itu setengah terekspos dengan percikan darah di wajah, leher, pundak bahkan di dadanya yang sebagian tampak keluar dari kain penutupnya.
Qing Xia berlari menghampiri Han Ze Xin, dia duduk di tepi ranjanh lalu memeriksa keadaannya.
"Kau baik baik saja? Ada yang terluka?" tanya Qing Xia dengan wajah cemas.
__ADS_1
Han Ze Xin menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak terluka meskipun tubuhnya sekarang sangat kesakitan.
Qing Xia sebenarnya sudah melihat semua yang dilakukan oleh Qin Yi Yi ketika dia mencambuki Yu. Dia melemparkan pedang yang ditarik dari sarung salah satu pasukan Elang untuk menghentikan Qin Yi Yi yang sudah menargetkan wajah Yu.
"Wanita iblis ini benar-benar perlu diberi pelajaran!" pikir Qing Xia.
Qing Xia berdiri, dia berbalik badan lalu berjalan mendekati Qin Yi Yi.
"Mau apa kau? Wanita jaalang!" umpat Qin Yi Yi dengan suara bergetar ketakutan.
"Plakkk! Plakkk! Plakkk! Plakkk!"
Tanpa banyak berbasa basi, Qing Xia melayangkan telapak tangannya ke wajah Qin Yi Yi yang menatapnya dengan bola mata bergetar. Setelah menamparkan 2 kali di pipi kanan dan 2 kali di pipi kiri, Qing Xia mendorong tubuh wanita itu hingga terjungkil di atas meja.
Tubuh kecil Qin Yi Yi berguling di meja lalu terjatuh ke lantai.
"Brukkk!"
Qing Xia menarik pisau belati yang diberikan oleh Se Se kepadanya, dia mendekati Qin Yi Yi yang masih berada di lantai. Wanita itu merangkak mundur, dia terlihat sangat ketakutan karena tatapan Qing Xia saat ini benar-benar mengerikan.
Qing Xia melangkah maju, mendekati Qin Yi Yi yang terus menyeret tubuhnya ke belakang.
"Krakkk!" Qing Xia menginjak jari Qin Yi Yi dengan sekuat tenaga.
"Aa..."
Belum sempat wanita itu menjerit kesakitan, Qing Xia memasukkan sebutir racun pemberian Xin Le.
"Karena kau sudah bosan hidup di dunia ini, aku akan mengirimmu ke alam baka!" ucap Qing Xia sambil menutup mulut Qin Yi Yi dengan telapak tangan.
Qing Xia melepaskan mulut Qin Yi Yi yang ia tutup, dia lalu berjalan ke arah Han Ze Xin. Dengan tatapan lembut dan suara yang rendah, Qing Xia mengajak suaminya kembali ke rumah.
"Ayo kita pulang!"
__ADS_1
Di saat Qing Xia hendak memapah Han Ze Xin, Liu Zhi muncul dari balik pintu. Pria itu membawa prajuritnya yang masing-masing memegang senjata tajam.
"Aku tidak mengizinkan kalian pergi!" ucap pria itu dengan wajah bengis.
Qing Xia membantu Han Ze Xin untuk duduk di tepi ranjang, dia lalu berdiri hendak berjalan ke depan pintu. Namun Han Ze Xin segera menahan lengan Qing Xia.
Wanita itu berbalik menatap wajah suaminya yang terlihat cemas, dia tersenyum dengan ceria lalu berkata kepada pria itu.
"Jangan khawatir, kau tahu jelas bagaimana kemampuanku!"
Han Ze Xin membalas senyuman dari Qing Xia, dia mengangkat sebelah tangannya lalu mengelus pipi Qing Xia yang putih merona.
"Hati-hati, jangan terluka!" ucap pria itu dengan suara lemah.
Qing Xia mengangguk, ia kemudian berbalik dan bergabung dengan pasukan Elang.
Han Ze Xin menatap Qin Yi Yi yang merintih kesakitan di lantai, wanita itu memegangi wajahnya yang terasa panas karena racun pembakar tulang yang dimasukkan Qing Xia ke dalam mulutnya.
"Sudah berkali-kali aku memaafkan kejahatan yang kau lakukan. Hari ini, adalah batas kesabaranku! Qin Yi Ming, kuharap kau mengerti. Semua ini terjadi karena kegilaan dari adikmu sendiri!" batin Han Ze Xin.
Kedua pasukan mulai berperang, mereka mengangkat senjata dan bertarung dengan lawan yang berdiri di depan. Sementara Han Ze Xuan hanya berdiri diam dengan wajah yang tersenyum sinis. Dia menatap Putra dari keluarga Sima dengan tatapan tajam.
Liu Zhi gemetar ketakutan, dia merasakan amarah dari tatapan Han Ze Xuan terhadapnya. Kaki dan tangan Liu Zhi terus bergetar tanpa bisa dia kendalikan.
Beberapa waktu kemudian, semua prajurit keluarga Sima telah dilumpuhkan. Liu Zhi semakin gemetaran hingga kedua kakinya terasa lemas. Dia berlutut memohon pengampunan di depan Han Ze Xuan.
"Ma... Maaf! To... Tolong ampuni saya!" ucap pria itu sengan suara terbata-bata dan bergetar.
Han Ze Xuan menyeringai tipis, ia mendekat ke tempat Liu Zhi. Sebelah kakinya di angkat hingga ke pundak laki-laki yang sedang berlutut di depannya.
"Apakah kami boleh pergi sekarang?" tanya Han Ze Xuan sambil menatap mata Liu Zhi yang hampir mengeluarkan tangisan.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1