Putri Jenderal Yang S2

Putri Jenderal Yang S2
Episode 17


__ADS_3

Mendengar teriakan panik dari pelayan yang menuju ke dalam paviliun, semua mata mengarah secara serentak ke arah pelayan tersebut.


"Tuan... Tuan Besar! Tuan Muda... Tuan Muda men... mendapat masalah!" ucap pelayan dengan nada yang terbata bata.


Qing Xia menghampiri pelayan yang sedang berdiri dengan nafas yang tersenggal-senggal di depannya. Dia lalu bertanya kepada pelayan itu. "Apa yang ingin kau sampaikan? Ada apa dengan Tuan Muda?"


"Nyonya Muda! Tolong... Cepat tolong Tuan Muda!" ucap pelayan seraya mengeluarkan sebuah kertas bernoda darah.


Qing Xia melihat kertas yang di pegang oleh pelayan. Tanpa menunggu lama, ia menyambar kertas tersebut lalu membuka dan membaca tulisan yang tertulis di kertas bernoda merah. Wajahnya menegang dengan tangan yang sedikit gemetaran, dia memutar bola mata dan tampak berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan.


"Qing Xia, ada apa?" tanya Se Se yang baru saja berdiri dan berjalan mendekat dengan rasa penasaran.


Qing Xia mengalihkan pandangan ke wajah Ibu mertua yang kini berdiri di hadapannya. Wajahnya yang putih kini tampak pucat dengan ekspresi bingung dan ketakutan.


"Ibu! Xin... Han Ze Xin di tangkap oleh sekelompok pengawal dari Kerajaan Qin!" ucap Qing Xia yang memperlihatkan kecemasan dan kekhawatiran di raut wajahnya.


Se Se memegang tangan yg sedang gemetaran di depan matanya. Dia menepuk-nepuk pelan punggung telapak tangan mungil itu lalu berkata kepada Qing Xia.


"Jangan khawatir, Ibu percaya Ze Xin akan baik baik saja. Dia adalah orang yang cerdik dan licik, tidak banyak orang yang bisa mengalahkan kepintarannya di dunia ini. Jangan takut! Dia pasti akan kembali dengan selamat!" ucap Se Se mencoba menenangkan hati menantunya yang sedang panik.


Han Ze Xuan menatap pelayan di depan Qing Xia yang menarik nafas dengan terburu-buru seakan oksigen di sekitar mulai menghilang.


"Siapa namamu?" tanyanya kepada pelayan.


"Nama saya Dou Dou, Tuan!"


"Dou Dou! Katakanlah dengan jelas, apa yang terjadi kepada Ze Xin!" perintah laki-laki itu dengan tatapan tajam.


Pria berpakaian pelayan itu menarik nafas dalam-dalam, ia kemudian menghembuskan nafasnya dengan perlahan, mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran agar bisa menjelaskan dengan baik kepada Tuan Besar di hadapannya.

__ADS_1


Setelah nafasnya lebih stabil dan detak jantungnya mulai kembali normal, Dou Dou mulai menjelaskan peristiwa buruk yang menimpa mereka selama di perjalanan pulang.


"Pagi tadi, kami menemani Tuan Muda untuk menemui seorang tamu dari Kerajaan Langit. Pria itu membawa seorang wanita cantik bersamanya. Wanita itu bernama ... "


Dou Dou berpikir keras, mencoba untuk mengingat nama dari wanita yang berdiri di samping tamu Tuannya.


"Abaikan namanya, katakan saja apa masalahnya!" perintah Han Ze Xuan yang tidak sabar menunggu Dou Dou memikirkan nama yang tak kunjung muncul di benaknya.


Dou Dou kembali menceritakan kejadian yang terjadi pagi ini.


Di sebuah penginapan yang terletak di luar kota, Han Ze Xin duduk menunggu tamu yang mengundangnya untuk bertemu di tempat itu. Dia pergi bersama Yu dan dua pelayan. Seorang pelayan bertugas sebagai kusir kereta kuda dan yang satunya lagi hanya pelayan biasa yang bertugas untuk melayani kebutuhan selama di perjalanan.


Setelah menantikan kehadirannya selama beberapa waktu, tamu yang dinanti akhirnya tiba. Dengan penuh elegansi, seorang pria bertubuh tinggi dan kekar turun dari kereta kuda yang tampak mewah dan mahal. Wajahnya tampan dengan mata biru yang dalam dan penuh misteri.


Pria itu mengenakan pakaian berbahan sutra yang berkilauan dengan warna hitam yang menawan. Sabuk berwarna emas menghiasi pinggangnya yang kuat, memberikan sentuhan kemewahan yang elegan.


Namun, yang paling mencolok dari penampilannya adalah rambut putih bercampur perak yang panjang terurai hingga ke punggungnya. Rambut yang menjadi ciri khas keluarga bangsawan terkenal dari Kerajaan Langit, Keluarga Sima.


Kedatangan sang bangsawan dengan rambut putih perak ini mencuri perhatian semua orang yang berada di penginapan. Sebagai pewaris keluarga bangsawan terkenal, dia dipandang sebagai sosok yang penuh kemuliaan dan keberanian.


Saat pria bangsawan itu turun dari kereta kuda mewahnya, seorang wanita cantik dengan tubuh yang langsing mengikuti langkahnya. Wajahnya yang anggun dipenuhi dengan pesona yang mengagumkan.


Rambut hitamnya yang panjang diikat sebagian ke atas kepala dengan aksesoris yang indah dan elegan. Dia mengenakan baju hanfu berwarna kuning cerah yang melambangkan kebahagiaan dan keceriaan. Sebuah gantungan giok hijau pekat tergantung di pinggangnya, menambah kesan kemewahan dan keanggunannya.


Dia mengikuti sang bangsawan dengan langkah yang lemah-lembut, seperti angin yang bergerak perlahan-lahan. Namun, dari sorot matanya yang tajam dan penuh kecerdasan, terlihat bahwa dia bukanlah wanita yang lemah dan mudah ditundukkan.


Dengan langkah mantap, pria bangsawan itu memimpin wanita cantik di sampingnya menuju ke meja Han Ze Xin.


Setelah tiba di depan meja, pria itu dengan sopan memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada tamu yang di undangnya. "Saya adalah Liu Zhi, putra bungsu dari keluarga Sima," ujarnya dengan suara yang tenang namun penuh kepercayaan diri.

__ADS_1


Setelah itu, giliran wanita cantik di samping Liu Zhi untuk memperkenalkan diri. "Saya adalah Qiao Hua, teman dekat dari keluarga Sima," kata wanita itu dengan suara yang lembut namun penuh wibawa.


Semua orang tampak terpesona dengan kecantikan Qiao Hua, yang seolah memancarkan keanggunan dan pesona yang luar biasa. Berbeda dengan Han Ze Xin yang bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Qiao Hua, dia tidak peduli dengan keberadaan wanita asing itu.


Dengan tatapan yang tajam dan penuh misteri, Liu Zhi dan Qiao Hua menunggu reaksi dari Han Ze Xin yang hadir di sana.


Pria itu berdiri kemudian memperkenalkan diri dengan memasang wajah dingin. "Saya Han Ze Xin, orang yang di undang oleh Keluarga Sima."


"Han Ze Xin. Saya dan Qiao Hua memiliki pesan penting untuk disampaikan kepada Anda. Namun, karena sifatnya yang sangat rahasia, saya ingin berbicara dengan Anda di tempat yang lebih tenang," kata Liu Zhi dengan suara pelan.


Han Ze Xin merenung sejenak dan menyadari bahwa Liu Zhi benar. Bahkan di tengah keramaian seperti ini, ada banyak telinga yang mungkin dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia merespon dengan cepat, "Saya mengerti. Ayo kita pesan salah satu kamar untuk berbicara berdua. Di sana, kita bisa berbicara dengan lebih tenang dan tanpa gangguan."


Ketiga orang itu berjalan ke lantai atas untuk memesan kamar pribadi. Mereka diberikan kamar yang cukup luas dan nyaman. Di dalam kamar itu, mereka duduk di sekitar meja kayu dan mulai membicarakan pesan penting yang ingin disampaikan oleh Liu Zhi dan Qiao Hua.


Tiba-tiba, Qiao Hua meminta izin untuk keluar dari ruangan dengan alasan akan mengambilkan minuman. Setelah beberapa saat, Qiao Hua kembali dengan tiga cangkir teh di tangannya. Dia menawarkan minuman tersebut pada Han Ze Xin. Meskipun agak ragu, Han Ze Xin tidak mencurigai apa pun karena di dalam teh tidak terasa aroma yang aneh. Teh yang dibawa Qiao Hua bahkan sangat wangi dan terasa enak.


Namun, setelah meneguk teh tersebut, Han Ze Xin langsung jatuh ke lantai. Ternyata teh tersebut telah dicampur dengan zat bius yang sangat kuat.


Mendengar suara keributan dari dalam kamar, Yu segera mendekat. Dia menemukan pintu kamar terkunci dari dalam, tapi dia bisa melihat lewat celah kecil di bawah pintu. Dia membelalakkan mata saat melihat Tuan Mudanya terbaring di lantai dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Tanpa ragu, Yu segera mencoba membuka pintu. Namun, pintu terlalu kuat dan tidak mau terbuka. Akhirnya, dia memutuskan untuk memanjat melalui jendela kamar yang terbuka.


Sesampainya di dalam kamar, Yu segera memeriksa keadaan Tuan Mudanya. Dia tidak menemukan tanda-tanda kekerasan, tetapi sekuat apapun dia memanggil Han Ze Xin, pria itu tak kunjung bangun.


Yu merasa khawatir dan bingung dengan keadaan Han Ze Xin yang tidak sadarkan diri. Dia mencoba memeriksa denyut nadinya, dan menemukan bahwa denyut nadinya lemah dan tidak stabil. Yu segera menyadari bahwa Han Ze Xin mungkin diracuni oleh teh yang diberikan oleh Qiao Hua.


Yu mengalihkan pandangannya kepada kedua orang di depannya, Liu Zhi dan Qiao Hua, dengan raut wajah yang tegas dan tajam. Dia merasa khawatir dan curiga bahwa mereka berdua mungkin terlibat dalam insiden yang menimpa Han Ze Xin.


"Apa yang terjadi dengan tuan muda?" tanya Yu dengan suara serak karena ketegangan yang dirasakannya. "Apa yang kalian lakukan padanya?"

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2