
"Sejak kapan dia berada di depan pintu? Apa dia mendengar semua percakapan kami?" Batin Han Ze Xin.
"Masuklah!" Ucap Han Ze Xuan sambil menatap ke arah pintu.
Qing Xia membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia melirik suaminya sesaat lalu mengalihkan pandangannya ke ayah mertua.
"Apa benar Kaisar yang telah merencanakan pemusnahan keluarga Yang?" Tanya Qing Xia sambil menatap tajam mata Han Ze Xuan.
Pria itu menoleh ke arah Han Ze Xin, dia bermaksud untuk memberi tahu putranya itu. "Karena istrimu yang bertanya terlebih dulu, aku tidak punya pilihan lain."
Han Ze Xuan kembali menatap Qing Xia.
"Benar, semua adalah rencana dari Yang Mulia Kaisar ." Jawab pria itu dengan jujur.
Qing Xia mengepal kedua tangannya, bola mata hitam yang biasanya tenang kini tampak berapi-api.
"Qing Xia..." panggil Han Ze Xin dari samping.
Han Ze Xin berjalan mendekat, dia memegang tangan Qing Xia yang mengepal keras.
"Tolong redakan emosimu. Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya karena emosi."
Qing Xia menatap mata Han Ze Xin yang tampak gelisah dan cemas.
"Aku tahu kau berniat menyembunyikan hal ini dariku. Aku tahu kau peduli dan khawatir padaku. Tetapi... dendam keluarga Yang, aku pasti akan membalasnya!" Ucap Qing Xia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terima kasih telah memberitahuku kebenarannya. Qing Xia pamit dulu, Ayah!" Ucapnya lalu berbalik dan beranjak pergi.
"Qing Xia! Qing Xia..."
Han Ze Xin memanggil nama istrinya dan mengejar dari belakang.
"Haaaa..."
__ADS_1
Sang ayah hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak ingin ikut campur dalam masalah perselisihan Yang Mulia Kaisar dan menantunya.
"Meskipun dia ayahku, aku tidak akan membelanya. Karena dia memang sudah berbuat kesalahan fatal." Gumam Han Ze Xuan.
"Qing Xia!"
"Qing Xia! Tolong berhenti dan dengarkan aku dulu!"
Han Ze Xin masih mengejar Qing Xia, sedangkan wanita itu terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari suaminya.
Brakkk!
Qing Xia membuka pintu kamar secara kasar. Dia masuk ke dalam dan mengambil senjata rahasia di dalam sebuah kotak kayu, senjata yang sudah dipersiapkan untuk kebutuhan mendesak.
Han Ze Xin menahan lengan Qing Xia saat wanita itu hendak beranjak keluar.
"Lepaskan aku!" Ucap Qing Xia dengan nada kesal.
"Kumohon, tolong jangan bertindak gegabah." Pinta Han Ze Xin sambil menarik lengan Qing Xia, menahannya agar tidak keluar dari kamar.
"Tidak! Bukan ..."
"Kalau begitu tolong lepaskan aku!" Pinta Qing Xia memotong perkataan Han Ze Xin.
Han Ze Xin masih menahan lengan istrinya.
"Jika aku melepaskan tanganmu, kau pasti akan segera masuk ke istana untuk membunuh Yang Mulia. Jika itu terjadi, kau akan dijatuhi hukuman mati atas tuduhan penghianatan karena membunuh Kaisar. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu. Apa yang harus ku lakukan untuk melindungimu?" Batin Han Ze Xin.
Han Ze Xin mempererat genggaman tangannya. Qing Xia menatap kesal suaminya itu.
Takkk!
Qing Xia menghempaskan tangannya dengan kuat, melepaskan diri dari cengkraman Han Ze Xin. Dia berbalik dan berlari keluar dari kamar.
__ADS_1
Han Ze Xin berlari mengejar, saat jarak mereka semakin dekat, seekor burung besar menyambar tubuh Qing Xia dan membawanya terbang ke atas.
"Qing Xia...! Qing Xia...!" Teriaknya dengan wajah panik.
Qing Xia mendongakan kepalanya ke atas, melihat burung besar yang membawanya terbang di langit.
"Ini aku!" Ucap burung itu melalui telepati.
"Tian Feng?"
Qing Xia mengenali suara yang bergema di dalam kepalanya.
"Ya. Aku akan membawamu ke istana!"
"Kenapa kau membantuku?"
Qing Xia mencurigai niat tersembunyi dari burung phoenix itu.
"Dengar, aku tahu kau tidak percaya padaku. Tetapi sekarang kau dan aku terikat kontrak hidup dan mati. Jika kau mati, aku juga akan mati. Jadi sebaiknya kau menjaga nyawamu itu karena aku masih belum mau mati!"
"Kontrak? Aku tidak pernah melakukan kontrak apapun denganmu!"
Qing Xia mencoba berpikir apa yang telah dia lewatkan, namun ia tetap tidak mengingat jika dirinya pernah membuat kontrak dengan Tian Feng.
"Tidak perlu dipikirkan karena kau tidak akan mengingatnya. Aku membuat kontrak satu pihak saat kau tertidur!" Jelas Tian Feng mengakui perbuatannya.
"Jika kontrak sepihak, itu artinya kau yang terikat denganku bukan? Jika kau mati, aku tetap hidup dan baik-baik saja."
"Ckk... Kenapa manusia yang satu ini pintar sekali!" Gumam Tian Feng melupakan jika Qing Xia bisa mendengar isi hatinya.
"Aku sudah pintar sejak dulu. Ada masalah?" Ketus Qing Xia dengan nada kesal.
"Tidak. Terserah kau saja mau pintar atau bodoh!" Sahut Tian Feng sambil menungkik turun dengan cepat ke daratan.
__ADS_1
"Kita sudah sampai di Istana."
^^^BERSAMBUNG...^^^