
"Bo... Boleh, tentu saja boleh!" jawab pria itu dengan suara gemetar.
Han Ze Xuan melangkah keluar dari pintu, dia mengabaikan keberadaan Liu Zhi yang masih berlutut di bawah lantai.
Ti Chi dan Ti Liu mengangkat Yu yang dudah tak mampu berjalan sendiri. Sedangkan Zhu Bao di angkat oleh Ti San yang memiliki kekuatan besar.
Dua anggota pasukan Elang membantu Han Ze Xin untuk berdiri, mereka membawanya ke dalam kereta kuda lalu membaringkan tubuh Han Ze Xin yang masih kesakitan.
Sementara Qing Xia masih berdiri di dalam ruangan, dia menatap Qin Yi Yi yang masih mengerang dan menjerit kesakitan sambil berguling di lantai. Setelah mematikan wanita itu mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya, Qing Xia berjalan lalu berdiri di depan Liu Zhi yang masih berlutut ketakutan.
"Ku dengar, keluarga Sima adalah keluarga yang terpandang. Tapi melihat kelakuan dan sikap pengecutmu ini, kurasa keluarga Sima tidak ada apa-apanya kecuali nama besar keluarga kalian yang masih terkenal." ucap Qing Xia dengan wajah dingin.
"Dan juga, sepertinya keluarga Sima sudah lama berkuasa di Kerajaan Langit. Sudah waktunya untuk mengganti keluarga yang berkuasa, bukankah begitu?" lanjutnya sambil menyeringai sinis.
Qing Xia berjalan keluar dari ruangan, dia berbalik menatap Liu Zhi yang saat ini mengepalkan kedua tangannya.
"Ckk... Sungguh tak tertolong!" gumam Qing Xia yang lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Jika bukan karena ayah melarang ku untuk membunuhnya, dia pasti sudah menjadi mayat!" batin Qing Xia.
Qing Xia naik ke atas kereta kuda. Dia duduk di sebelah Han Ze Xin yang masih berbaring lemah.
"Kau ini kan ahli racun, kenapa malah kau yang diracuni? Dasar pria bodoh!" ucap Qing Xia sambil membelai pelan wajah Han Ze Xin.
"Maaf, aku terlalu ceroboh!" ucapnya pelan dengan suara lemah yang hampir tak terdengar.
"Ada apa denganmu? Kenapa keringatmu semakin banyak?" tanya Qing Xia dengan wajah cemas dan khawatir.
Han Ze Xin diam tak merespon pertanyaan dari Qing Xia, membuat wanita itu semakin gelisah dan panik.
"Xin, kau tidur?" tanyanya lagi karena melihat Han Ze Xin memejamkan matanya.
Qing Xia merasa ada yang aneh dengan kondisi suaminya, dia mencoba membangunkan pria itu dengan menepuk pelan wajahnya dan memanggil nama Han Ze Xin.
"Xin... Xin bangunlah! Tolong katakan sesuatu!"
Qing Xia mengerutkan alisnya, dia merasa ada yang salah dengan tubuh Han Ze Xin yang terasa semakin dingin. Dia membuka tirai jendela lalu bertanya kepada para pasukan yang mengelilingi kereta kuda.
__ADS_1
"Siapa di antara kalian yang bisa ilmu pengobatan?"
Ti Liu memajukan kudanya ke samping jendela. Dia lalu menjawab pertanyaan dari Nyonya Muda mereka.
"Saya pernah mempelajarinya sedikit dari Nyonya besar. Ada apa Nyonya Muda? Apakah anda merasa tidak enak badan?"
"Hentikan kereta kudanya! Kau, masuk ke dalam dan periksa kondisi Tuan Muda!" perintah Qing Xia dengan wajah panik.
Para pasukan yang melindungi kereta kuda segera berhenti, Ti Liu melompat turun dari kudanya lalu masuk ke dalam kereta kuda. Dia memeriksa denyut nadi di tangan Han Ze Xin.
"Ada apa dengannya?" tanya Qing Xia sambil menyeka keringat di wajah suaminya.
"Tuan Muda terkena racun persik dalam jumlah banyak." jawab Ti Liu dengan wajah yang memerah.
"Racun persik? Apa itu?" tanya Qing Xia penasaran.
"Ehmm... Itu..." Ti Liu merasa ragu, dia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan yang membuat wajahnya panas dan memerah.
"Cepat katakan! Kenapa kau malah jd gagap begitu!" bentak Qing Xia yang tak sabaran.
"Melakukan 10 kali?" tanya Qing Xia tak mengerti.
"Swoossshhhh....!"
Angin kencang menerbangkan tirai jendela. Tian Feng mengepakkan sayapnya dan terbang masuk ke dalam kereta kuda yang dinaiki Qing Xia.
"Jika kau menunggu lebih lama lagi, pria ini akan segera mati!" ucap Tian Feng yang masih bersujud burung kecil.
"Tian Feng! Apa yang harus ku lakukan?" tanya Qing Xia dengan wajah panik.
Melihat Qing Xia yang berbicara dengan seekor burung kecil, Ti Liu menjadi kebingungan sebab dia tidak bisa mendengar suara dari Tian Feng.
"Kau harus mengeluarkan racunnya dengan cara itu!" jawab Tian Feng dengan ragu ragu.
"Cara apa?" tanya Qing Xia lagi karena dia benar-benar tidak mengerti maksud dari kedua pria di sampingnya.
"Proses membuat anak!" sahut burung kecil itu sambil mengepakkan sayapnya.
__ADS_1
Tian Feng terbang keluar dari jendela. "Aku pergi!" ucapnya dengan suara nyaring.
Qing Xia menatap wajah Ti Liu yang masih merona merah.
"Pantas saja pria ini tidak bisa menjelaskan dengan benar! Hahh...!" batin Qing Xia lalu menghela nafas panjang.
"Keluar dan lamjutkan perjalanan! Jangan izinkan siapapun mendekati kereta kuda!" perintah Qing Xia kepada Ti Liu yang membuatnya semakin gugup dan salah tingkah.
:Ba... Baik, Nyonya Muda!" jawab pria itu. Ia segera keluar dengan tergesa-gesa.
"Ayo lanjutkan perjalanan!" perintah Ti Liu kepada para pasukan.
Dia kembali ke atas punggung kuda lalu memacu kudanya untuk menjauh dari lubang jendela.
Qing Xia kebingungan, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat Han Ze Xin merasa lebih baik. Karena kehabisan waktu, ia akhirnya memutuskan untuk mencium bibir suaminya.
Baru saja ia menyentuh bibir Han Ze Xin dengan bibirnya, pria itu sudah membuka matanya lebar-lebar, dia membalas ciuman dari Qing Xia. Kereta yang bergoyang pun semakin berguncang, dengan suara-suara yang mulai mengusik para anggota Prajurit Elang yang mengelilingi kereta kuda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa Hari Kemudian
Qin Yi Ming menerima laporan dari salah satu pengawal yang membawakan surat untuknya. Surat itu tertulis tentang penyakit Qin Yi Yi yang semakin hari semakin parah. Semua dokter sudah di panggil untuk merawat wanita itu, namun tidak ada yang mengetahui apa penyebab Qin Yi Yi kesakitan.
"Kalau di kota ini tidak ada yang bida mengobatinya, aku akan mencari negara lain!" ucap Qin Yi Ming sambil menatap surat dari bawahannya.
Seorang wanita berjalan mendekati Qin Yi Ming. Wanita itu memiliki wajah cantik dengan bentuk tubuh yang sempurna. Gaun panjang mewah yang terbuat dari benang emas membuat penampilan wanita itu semakin mewah dan agung.
"Yang Mulia!" panggilnya ketika jarak mereka hanya tersisa 10 langkah.
Qin Yi Ming melirik sekilas ke arah wanita itu, ia lalu mengalihkan tatapannya ke tempat lain dan berbalik badan. Pria itu berjalan menjauh dari wanita tersebut dengan langkah terburu-buru seakan sedang menghindari wanita cantik itu.
"Selalu saja seperti ini! Yi Ming, sampai kapan aku harus menunggumu?" batin wanita itu.
Sementara Qin Yi Ming yang sudah menjauh berpikir dalam hati, "Wanita menyebalkan! Aku tidak akan pernah menikah dengannya walaupun Ayah Kaisar memaksaku!"
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1