
"Swossshhhh!"
Angin kencang mulai bertiup begitu Niao Wang mengepakkan sayapnya. Daun-daun kering beterbangan dan ranting pohon bergoyang-goyang.
"Hei burung jelek! Jika kau masih mengepakkan sayapmu, dalam hitungan ke 3 aku akan mematahkan kedua sayapmu itu!" Ancam Qing Xia dengan wajah serius.
Niao Wang segera menghentikan kepakan sayapnya. Ia menatap Qing Xia dengan raut wajah kesal dan marah.
"Kembalilah ke tempatmu! Aku tidak bisa menampung raksasa di tempat ini!" Ucap Qing Xia sambil melempar satu buah berbintang delapan kepada Niao Wang.
Niao Wang segera menangkap buah dengan paruhnya.
"Terima kasih Manusia lancang! Aku pergi!" Ucap burung itu sambil terbang ke atas langit lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Qing Xia menatap semua penjaga dan pelayan yang terlihat terkejut dengan penampakan burung raksasa. Dia berjalan ke tengah-tengah halaman, dengan suara tegas dan wajah dingin, Qing Xia memberi perintah dan ancaman kepada mereka semua.
"Apa yang kalian lihat hari ini, tidak ada satupun yang boleh tersebar ke luar! Jika ada orang yang menyebarkan berita tentang burung raksasa yang bisa berbicara di kediaman Han, kalian semua akan ku jadikan makanan untuk burung raksasa itu! Kalian mengerti?"
"Baik, Nyonya Muda!" Ucap para pelayan serentak.
Qing Xia berbalik ke belakang, menatap keluarga yang telah menunggunya sejak tadi. Wajahnya yang dingin mulai memudar, senyuman tipis dengan ekspresi bahagia membuat kecantikannya semakin mempesona.
Han Ze Xin tersenyum bangga melihat istrinya yang tampak begitu mempesona dengan wibawa yang tidak kalah dari seorang panglima perang. Begitu pula dengan Xin Le yang senang memiliki seorang ibu pemberani yang bisa menaklukkan hewan raksasa.
Keluarga Han berkumpul di dalam ruang paviliun utama, Han Ze Xin bertanya kepada putranya.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?"
Xin Le mengangguk lalu menggelengkan kepala. Dia bermaksud berkata jika dia baik baik saja dan tidak ada yang terluka.
"Apa yang ingin kau lakukan dengan kabur dari rumah? Apa kau tidak tahu jika dunia luar itu sangat berbahaya?" Tanya Han Ze Xin lagi dengan nada tegas.
"Maaf..." Ucap bocah itu dengan wajah menyesal.
__ADS_1
"Xin Le, tidak semua hal bisa diselesaikan dengan satu kata maaf. Apa kau tahu bagaimana kami semua mencarimu seharian ini? Kau tahu betapa cemasnya kami ketika tidak bisa menemukan Xin Le yang sangat berharga bagi hidup kami?" Ucap pria itu lagi dengan suara meninggi.
Xin Le menundukkan wajahnya, dia kembali meminta maaf dengan wajah menyesal.
"Xin Le! Ayah bukan sedang memarahimu. Ayah khawatir, itu sebabnya Ayah berkata seperti ini."
Han Ze Xin menurunkan nada bicaranya, dia sedikit kasihan melihat wajah Xin Le yang terlihat menyesal setelah berbuat kesalahan. Dia mendekati Xin Le lalu memeluknya sambil mengelus pelan rambut bocah itu.
"Jika dikemudian hari kau memerlukan sesuatu, kau boleh datang mencari Ayah, Ibu, Kakek dan Nenek. Kami pasti akan dengan senang hati memberikannya kepada Xin Le. Kau mengerti?"
Xin Le mengangguk sambil membalas pelukan dari Han Ze Xin.
"Semua ini memang salahku! Jika tadi Ibu tidak datang menyelamatkan aku, pasti aku sudah menjadi makanan harimau dan tidak bisa bertemu lagi dengan keluargaku. Aku memang bersalah dan telah ceroboh. Lain kali aku harus membawa penjaga bersamaku. Atau menyiapkan racun dalam skala besar untuk melindungi diri." batin Xin Le.
Se Se berjalan mendekati ayah dan anak yang masih berpelukan.
"Jika kau sudah selesai, bisakah kau memberi waktu sebentar untuk Ibu?" Ucap wanita itu seraya mengeluarkan sebotol obat dari balik lengan pakaian.
Han Ze Xin melirik sekilas, dia tertegun begitu melihat obat di tangan ibunya. Pria itu melepaskan pelukannya dan buru-buru bertanya dengan wajah cemas.
Bocah itu kembali menggelengkan kepala.
Han Ze Xin kebingungan, sebab ibunya tidak pernah salah dalam melihat pasiennya meskipun hanya melirik sekilas saja.
"Ibu!" panggil pria itu sambil menatap wajah Se Se.
"Siku tangannya terluka! Oleskan obat ini!" Ucap Se Se sambil menyerahkan botol obat di tangannya kepada Han Ze Xin.
Han Ze Xin menerima obat dari tangan obunya, dia menarik pelan tangan Xin Le dan menggulung lengan bajunya ke atas.
"Bukan Xin Le, tapi menantuku!" Ucap Se Se memperjelas perintahnya.
Wajah pria itu lansung mengarah ke Qing Xia. Dia berdiri dan berjalan ke tempat istrinya yang masih berdiri dengan senyuman hangat yang di wajahnya.
__ADS_1
"Berikan tanganmu!" Pinta Han Ze Xin sambil mengulurkan telapak tangan.
Qing Xia menjulurkan tangannya ke depan, Han Ze Xin segera menggulung lengan baju istrinya hingga memperlihatkan sebuah luka yang menganga lebar di bagian siku tangannya.
Raut wajah Han Ze Xin terlihat sedih, dia merasa sakit hati melihat luka di tubuh Qing Xia.
"Maaf, seharusnya aku menemanimu untuk mencari Xin Le." Ucap Han Ze Xin dengan perasaan bersalah.
"Aku baik-baik saja, luka ini bahkan tidak terasa sakit." Jawab Qing Xia sambil tersenyum.
Senyuman di wajah Qing Xia membuat hati pria itu semakin sakit dan perih. Dia merasa telah lalai dalam melindungi anak dan istrinya.
Sementara itu, Se Se sedang menggulung celana Xin Le hingga memperlihatkan luka di kedua lututnya. Bocah itu terluka saat terjatuh ketika dikejar oleh harimau.
Dia menutupi luka itu agar orang tuanya tidak khawatir, namun penciuman Se Se yang tajam membuat wanita itu langsung menyadari jika menantu dan cucunya memiliki luka yang masih terbuka.
Se Se mengeluarkan botol obat yang sama dengan yang ia berikan kepada Han Ze Xin. Dia membuka tutup botol dan mengoleskan sedikit cairan kental berwarna bening ke luka Xin Le.
Luka di kedua lutut bocah itu menutup seketika. Kulit yang menganga kini terlihat mulus kembali seakan luka yang tadi hanya sebuah rekayasa.
"Waaah... Obat apa ini nenek? Bolehlah Xin Le meminta sedikit untuk diteliti?" Ucap Bocah itu dengan mata berbinar cerah.
"Ini, ambillah!"
Se Se memberikan sisa obat di dalam botol kepada Xin Le. Bocah itu sangat senang sampai melompat kegirangan.
Han Ze Xin ikut mengoleskan obat ke luka di siku Qing Xia. Lukanya menutup secara sempurna. Tidak ada sedikitpun goresan atau bekas luka yang tersisa. Qing Xia menatap botol obat di tangan suaminya, dia merasa takjub dengan obat ajaib itu.
"Aku sangat penasaran dengan obat ajaib ini. Bolehkah aku meminta resep rahasia dari obat ini? Tapi... Apakah ibu akan memberitahukan resepnya kepadaku?" batin Qing Xia.
Se Se berjalan menghampiri anak dan menantunya. Dia menepuk pelan pundak Qing Xia sambil berkata kepadanya. "Kau sudah bekerja keras! Ibu sangat bangga memiliki menantu yang pemberani."
Qing Xia tersenyum dengan tatapan licik. Dia memberanikan diri untuk meminta resep dari ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Ibu, bolehkah aku meminta resep obat ajaib ini?"
^^^BERSAMBUNG...^^^