
Qin Yi Yi menarik pedang dari sarung di pinggang Lu Han. Dia memegang pedang dengan kedua tangan dan mengarahkannya ke arah leher pria itu. Lu Han hanya berdiri mamatung dengan mata yang tertuju di pedangnya.
Qin Yi Ming berjalan mendekati adik perempuannya yang terlihat mengenaskan, dia merasa kasihan namun tidak berniat untuk memaklumi perilaku kejamnya.
"Plakkk!"
Sebuah tamparan di pipi Qin Yi Yi membuat wanita itu melepaskan pedang dari tangannya. Lu Han dengan sigap menangkap pedangnga yang terjatuh sebelum menyentuh lantai.
Sementara wanita itu terkejut dengan sikap kasar dari kakaknya. Dia memegang pipi kirinya yang kesakitan dengan tangan kanan dan melayangkan tatapan matanya ke arah sang kakak yang tampak sangat murka.
"Jangan keterlaluan! Kesabaranku ada batasnya! Kau mengerti?!" ucap pria itu dengan mata yang membesar.
Qin Yi Ming mengalihkan pandangannya ke arah Mien Ruo yang masih menangis kesakitan. Rasa iba dan kasihan tiba-tiba muncul di hati pria itu. Apalagi ketika Mien Ruo menatapnya dengan tatapan yang seakan memohon untuk diselamatkan, Qin Yi Ming menjadi tidak tega untuk meninggalkan wanita itu sendirian.
"Lu Han, bawa wanita ini pergi dari sini!" perintah Qin Yi Ming sembari menatap Mien Ruo yang meringkuk di lantai.
Qin Yi Yi menatap kepergian kakaknya dengan tatapan tajam. Dia merasa marah dan kecewa terhadap Qin Yi Ming yang tidak pernah mendukungnya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"AAAAAAKKKKKKKHHHHHH!"
Suara teriakan dari Qin Yi Yi memenuhi seluruh ruangan. Dia berteriak keras, mengeluarkan semua amarah dan kekesalannya yang tidak mendapat pelampiasan.
Mendengar suara teriakan dari adik perempuannya, Qin Yi Ming berhenti berjalan. Dia berbalik menatap pintu kamar yang bernoda darah segar di beberapa bagian.
"Aku sama sekali tidak mengenal Yi Yi yang berada di dalam kamar ini. Di mana Yi Yi, adikku yang baik hati dan penyayang?" batin Qin Yi Ming.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perpustakaan Istana
Kanan kiri ruangan dipenuhi dengan buku-buku dan laporan dari berbagai daerah kekuasaan Kaisar Han. Rak-rak buku yang terbuat dari kayu bersusun rapi dan berjajar dengan jarak yang hampir berdekatan.
Seorang pria dengan tubuh tegap, tinggi, dan gagah duduk di sebuah kursi yang terletak di tengah-tengah ruangan. Seorang pria lain yang memakai pakaian serba hitam sedang berlutut di depan pria yang duduk di kursi.
__ADS_1
"Hormat saya kepada Yang Mulia!" sapa pria berbaju hitam dengan menekuk kedua lututnya.
"Bangunlah!" balas pria yang di panggil dengan sebutan Yang Mulia.
"Terima Kasih, Yang Mulia!" sahut pria berbaju hitam dengan nada sopan.
Pria yang duduk di kursi lalu bangkit dan berdiri, dia berjalan mendekat ke pria berbaju hitam kemudian berdiri di depannya.
"Laporkan hasil yang kau dapatkan dari penyelidikan beberapa hari ini!" perintah pria itu dengan wajah serius.
"Yang Mulia, semua kabar yang beredar tentang Menteri Fang memang benar adanya. Dia sudah banyak memeras rakyat kecil, melakukan penggelapan pajak, menerima suap dari kasus kejahatan dan juga ..."
Pria berbaju hitam tampak ragu, dia menundukkan wajahnya, menatap ke bawah dengan hati yang bimbang.
"Dan juga? Apa?" tanya Pria itu penasaran.
Sedangkan pria berbaju hitam masih merasa ragu untuk mengungkapkan kebenaran yang ia ketahui di depan pria yang menjadi atasannya.
"Dan juga, tuduhan terhadap Jenderal Yang, semuanya hanya rekayasa dari Menteri Fang yang takut akan kekuasaan dari Jenderal Yang." lapor pria tersebut.
"Brakkk!"
Pria itu memukul meja dengan kedua tangannya, bola matanya membesar dan wajahnya memerah dengan urat-urat leher yang bermunculan.
Dia sangat marah karena kasus prnghianatan Janderal Yang ternyata hanya tuduhan palsu. Dia merasa bersalah terhadap Yang Fang Xi, pria yang sudah melayaninya selama puluhan tahun.
"Jin, bawa prajurit ke kediaman Fang! Aku mau kau membinasakan semua keluarga Fang malam ini juga secara diam-diam! Tidak ada seorang pun yang boleh mengetahui hal ini. Kau paham?" ucapnya dengan penuh amarah.
Pria berbaju hitam menundukkan kepalanya, "Baik, Yang Mulia!" jawab pria itu seraya memberi hormat.
Pria berbaju hitam keluar dari ruang perpustakaan. Begitu ia keluar, seorang pria lain masuk ke dalam. Dia berjalan mendekat ke meja yang berada di tengah-tengah ruangan lalu memberi hormat dengan menundukkan sedikit kepalanya.
"Yang Mulia Kaisar, Han Ze Xuan datang menghadap!" ucapnya sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
"Xuan, kemarilah! Duduk di sini!" sahut pria yang sudah puluhan tahun menjadi pemimpin negara Han.
"Ayah Kaisar, apakah anda sudah mengetahui semuanya?" tanya Han Ze Xuan sambil menatap kedua mata ayahnya yang sudah mulai berkerut.
"Maksudmu kasus Jenderal Yang?" sahut Kaisar Han Ze Ti.
"Benar! Bukankah sejak awal ayah sudah tahu jika dia di fitnah oleh Menteri Fang?" tanya Han Ze Xuan penasaran.
Kaisar Han Ze Ti meletakkan kembali cangkir teh yang baru saja ia ambil dari atas meja. Dia mengalihkan tatapan mata ke wajah anaknya yang terlihat serius.
Pria itu mengangguk, dia mengakui jika dirinya memang sudah mengetahui bahwa Menteri Fang yang menjebak dan memfitnah Fang Yang Xi.
"Kenapa ayah melakukan itu?" tanya Han Ze Xuan semakin tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh ayahnya.
"Aku memerlukan seseorang untuk menghancurkan keluarga Fang!" jawab Kaisar dengan nada tegas.
"Kenapa? Kenapa harus mengorbankan keluarga Yang?" tanya Han Ze Xuan yang tak habis pikir dengan tindakan ayahnya.
"Karena di dalam keluarga Fang ada mata-mata yang bersembunyi, Aku harus meminjam kesempatan ini untuk melenyapkan mereka semua!" jelas Han Ze Ti."
"Tapi Ayah, Jenderal Fang..."
Belum sempat Han Ze Xuan menyelesaikan ucapannya, Kaisar langsung memotong pembicaraan dari anaknya.
"Sejujurnya, aku merasa menyesal. Aku tidak menyangka jika pria itu akan mati di medan perang. Awalnya aku hanya berniat menghukum mata-mata dari keluarganya saja." jawab Kaisar.
"Dia belum meninggal!" seru Han Ze Xuan.
Kaisar Han Ze Ti segera berdiri dari tempat duduknya, dia terperanjat, menatap putranya dengan kedua mata yang membesar.
Apa yang kau katakan tadi? Siapa yang belum meninggal?"
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1