Putri Jenderal Yang S2

Putri Jenderal Yang S2
Episode 23


__ADS_3

Di sebuah kamar mewah yang saat ini terlihat seperti kapal pecah, Qin Yi Yi berteriak dan merintih kesakitan. Wanita itu menjambak rambut dan menggaruk wajahnya yang terasa gatal. Luka-luka yang timbul dari bekas cakaran kukunya yang panjang membuat wajah Qin Yi Yi tampak menakutkan.


Dua orang pelayan berdiri di sudut pintu kanan dan kiri. Kedua wanita itu menundukkan wajah mereka karena merasa ngeri dan ketakutan.


Keduanya takut menjadi bulan-bulanan dari amarah Qin Yi Yi yang sering melempar benda ke wajah para pelayan wanita. Apalagi bila pelayan itu memiliki wajah yang cantik dan menawan.


"Pranggg!"


Qin Yi Yi melempar sebuah cangkir ke arah pintu. Cangkir porselen berwana kuning gading itu langsung terpecah belah, hancur berantakan di bawah lantai. Salah satu potongan porselen mengenai tangan pelayan yang berdiri di sudut sebelah kiri.


Pelayan itu mendesis, "Shhh...!" kesakitan karena tangannya yang berdarah.


Tatapan Qin Yi Yi segera teralihkan ke wajah pelayan tersebut.


"Mien Ruo, kenapa kau malah menimbulkan suara!" batin Xiao Hui yang berdiri di sudut kanan.


Qin Yi Yi berjalan dengan menyeret kakinya yang dipenuhi luka bernanah, dia menghampiri Mien Ruo yang berdiri dengan wajah gugup dan ketakutan.


"Plakkk!"


Sebuah tamparan langsung melayang ke wajah pelayan itu.


Mien Ruo memegang pipi kirinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan dari Nona majikannya. Namun ia tak berani mengeluarkan suara rintihan ataupun menunjukkan raut wajah yang kesakitan.


"Plakkk!"


Sebuah tamparan lain kembali mendarat di pipi kanan Mien Ruo. Dia mulai menangis dan menitikkan air mata yang mulai membendung di kedua sudut matanya.


"Kenapa kau diam saja? Bukankah kau tadi mengeluarkan suara? Kau sedang mengejekku ya?" ucap Qin Yi Yi sambil mendekatkan wajahnya.


Dia meraih rambut panjang Mien Ruo yang tersanggul di belakang kepala, menariknya dengan kuat hingga kepala wanita itu menengadah ke atas.


Tangan kanan Qin Yi Yi menyentuh wajah pelayan itu, dia menggores pelan kulit pipi sebelah kiri dengan menggunakan kuku jari telunjuk lalu berkata kepada wanita itu.


"Teruskan! Kenapa kau diam saja? Menangis dan merintihlah sepuasmu! Kau suka menertawakan aku kan? Aku akan membuatmu merasakaan penderitaan yang sama denganku!"

__ADS_1


"Ti... Tidak Putri, hamba bersalah! Tolong maafkan hamba!" rintih gadis itu dengan tangisan dan air mata yang semakin deras.


Darah segar mulai mengalir dari luka goresan di pipi Mien Ruo. Dia memejamkan mata, menahan rasa sakitnya agar tidak menimbulkan suara yang bisa menambah amarah dari Qin Yi Yi.


Tapi ternyata usaha Mien Ruo hanya sia-sia saja, sebab Qin Yi Yi memang sedang mencari seseorang untuk dijadikan sebagai pelampiasan amarahnya.


Wanita itu kembali mencakar wajah Mien Ruo dengan ke lima kuku jarinya. Mien Ruo menjerit kesakitan.


Tanpa sadar, Mien Ruo mengangkat tangan dan menepis tangan Qin Yi Yi dari wajahnya.


Perbuatan Mien Ruo malah membuat Qin Yi Yi semakin berang. Tangannya yang masih menjambak rambut Mien Ruo, ia tarik ke atas lalu membanting dan menghantukkan wajah pelayannya ke lantai.


Mien Ruo menjerit kesakitan, keningnya mengeluarkan darah yang mengalir turun ke wajah dan lehernya.


Melihat raut wajah Mien Ruo yang kesakitan, Qin Yi Yi semakin terobsesi untuk menyiksa gadis itu. Dia mengangkat kaki kanan lalu menginjak kepala Mien Ruo dengan sekuat tenaga. Gadis itu menjerit semakin keras, suara jeritannya bahkan membuat Xiao Hui turut merasakan penderitaan dari Mien Ruo. Wanita itu menatap rekannya, berharap Xiao Hui bisa menolongnya dari amukan Qin Yi Yi.


Namun Xiao Hui hanya terdiam dan membeku dalam posisi berdiri, dia membalas tatapan dari Mien Ruo dengan perasaan bersalah. Meskipun ia merasa kasihan, Xiao Hui tidak berani membantu sahabatnya itu. Dia menghapus air mata dan menahan suara tangisannya hingga terdengar suara pengawal Lu Han dari luar pintu.


Xiao Hui segera memberi isyarat kepada Mien Ruo yang masih menatapnya dengan tajam. Wanita itu langsung mengerti arti dari tatapan mata Xiao Hui. Dia menjerit semakin keras dan berteriak agar suaranya terdengar hingga keluar ruangan.


Mendengar suara teriakan dari dalam kamar adiknya, Qin Yi Ming berhenti melangkah. Dia berbalik lalu berlari ke depan pintu kamar Qin Yi Yi.


"Brakkk!"


Qin Yi Ming membuka pintu dengan kasar, dia segera masuk dan bertanya dengan wajah panik.


"Ada apa? Kenapa kau ber..."


Sesaat, Qin Yi Ming menutup bibirnya rapat-rapat ketika melihat adegan penyiksaan di hadapannya. Dia menatap tajam wajah Qin Yi Yi yang saat ini terasa asing baginya.


Qin Yi Yi yang terukir di dalam ingatan Qin Yi Ming adalah sosok wanita lembut dan baik hati. Adiknya tidak pernah bersikap kasar atau menyakiti orang lain. Qin Yi Yi yang ia kenal merupakan wanita yang bahkan tidak sanggup membunuh seekor semut sekalipun.


"Siapa wanita ini? Apakah benar dia adikku? Aku merasak tatapan mereka sangat berbeda. Qin Yi Yi yang aku kenal, tidak pernah memiliki sorot mata kejam seperti wanita di hadapanku sekarang!" batin Qin Yi Ming.


"Yang Mulia, tolong hamba! Tolong selamatkan hamba!" pinta Mien Ruo dengan suara memohon.

__ADS_1


Qin Yi Ming menatap wajah adik perempuannya, ia berjalan mendekat lalu menahan lengan wanita itu.


"Tolong hentikan! Jangan bersikap seperti ini!" ucap pria itu dengan wajah kecewa.


Qin Yi Yi menyeringai, dia mengalihkan tatapannya ke wajah Qin Yi Ming yang saat ini berada di sampingnya.


"Jangan ikut campur!" ucapnya dengan suara dingin.


Respon dari Qin Yi Yi membuat hati Qin Yi Ming terluka. Dia merasa terkejut dan tersentak oleh sikap kasar wanita itu terhadapnya.


"Plakkk! Brakkk! Bughhh!"


Qin Yi Yi kembali menghajar Mien Ruo dengan kejam. Dia menampar, mencakar, menendang, bahkan menginjak-injak wanita itu di hadapan Qin Yi Ming tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan dalam matanya.


Qin Yi Ming semakin terkejut dengan sikap kasar yang ditunjukkan oleh Qin Yi Yi. Terlintas di dalam benaknya, mungkin wanita di depannya bukanlah adiknya yang sebenarnya.


"Mungkinkah dia bukan Yi Yi? Tapi, wajah mereka sangat mirip. Suara dan juga caranya berjalan, semuanya sangat mirip dengan Yi Yi!" batin Qin Yi Ming.


Lu Han berjalan mendekati Qin Yi Ming. "Yang Mulia, waktunya tinggal sebentar. Pertemuan dengan para menteri akan segera dimulai!" lapor pria itu dengan suara berbisik.


"Bawa wanita ini pergi dari sini!" perintah Qin Yi Ming.


Dia berjalan menuju keluar pintu.


Sesampainya di depan pintu kamar, Qin Yi Ming memutar kepalanya, menatap Xiao Hui yang masih berdiri dengan wajah ketakutan.


"Xiao Hui memberi hormat kepada Yang Mulia!" ucap wanita itu sambil menundukkan kepalanya.


"Kau, keluar dari ruangan ini dan jangan pernah mengizinkan pelayan lain untuk melayani Putri!" perintah Qin Yi Ming dengan tatapan dingin.


Xiao Hui segera mengangguk, dia sangat bersyukur dan berterima kasih atas pengertian dari Putra Mahkota.


Baru saja ia akan melanjutkan langkahnya, suara pedang yang dikeluarkan dari sarungnya membuat pria itu kembali menatap ke belakang.


"Qin Yi Yi!" teriaknya dengan kedua bola mata yang membesar.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2