
"Yang fang Xi, pria itu masih hidup. Begitu juga dengan putrinya!" seru Han Ze Xuan dengan wajah serius.
"Benarkah? Mereka masih hidup?" tanya Han Ze Ti memastikan pendengarannya.
Han Ze Xuan mengangguk, "Aku sangat berharap, ayah tidak menyulitkan mereka lagi. Tolong kembalikan jabatan Jenderal Yang dan pulihkan nama baiknya. Dia adalah sosok pria yang baik dan setia."
"Aku mengerti!" sahut pria itu.
Han Ze Xuan lalu pamit dan keluar dari ruang perpustakaan. Dia sedikit mencurigai Kaisar meskipun ia adalah ayah kandungnya.
"Ayah pasti memiliki alasan lain, tidak mungkin ia melakukan itu tanpa mempertimbangkan kematian dari Yang Fang Xi. Atau... Jangan jangan memang itu yang diinginkan oleh ayah. Dia, ingin membunuh dan melenyapkan dua keluarga besar!" batin Han Ze Xuan.
Pria itu berhenti melangkah, dia berbalik ke belakang, menatap pintu perpustakaan dengan tatapan tajam. "Jika apa yang ku pikirkan memang benar, maka Jenderal Yang dan Qing Xia akan berada dalam bahaya!" batin Han Ze Xuan.
Pagi hari berikutnya, tersebar kabar jika Yang Fang Xi dibebaskan dari tuntutan penghianatan. Jabatan dan gelar pria itu dikembalikan serta dinaikkan 1 tingkat sebagai penebusan kesalahan dari Kaisar.
Selain itu, Yang Fang Xi dan putrinya juga dinyatakan masih hidup. Kediaman Yang dikembalikan kepada Yang Fang Xi, semua segel dilepaskan oleh prajurit yang berwenang dan harta benda yang disita juga di kembalikan kepadanya.
Yang Fang Xi merasa senang mendengar kabar tersebut, dia diminta untuk menghadap Kaisar agar bisa menerima jabatannya kembali.
Qing Xia juga turut senang dan bahagia karena telah berhasil mengembalikan nama baik ayahnya.
Pada siang hari, di hari yang sama. Sebuah kabar mengejutkan datang dari kediaman Fang. Kediaman mewah dan besar yang terletak di tengah-tengah kota Han telah menjadi abu. Mayat-mayat berserakan di dalam kediaman, dengan keadaan gosong dan mengerikan.
Qing Xia mengganti pakaiannya, dia memakai pakaian laki-laki untuk menyamarkan diri. Setelah memperbaiki tatanan rambutnya, Qing Xia keluar untuk menyelidiki dan melihat kehancuran dari keluarga Fang.
Ratusan orang berkumpul di depan kediaman Fang, banyak yang menertawakan kehancuran keluarga Fang yang sudah banyak menyiksa rakyat.
Beberapa orang terlihat sedang memaki dan mensyukuri kebakaran yang terjadi di kediaman Fang. Bahkan ada yang sampai bersujud dan berterima kasih kepada langit, karena sudah menghukum keluarga kejam itu.
Qing Xia berdiri di antara kerumunan orang-orang yang berada di depan kediaman Fang. Tempat yang awalnya sangat indah dan megah kini hancur berantakan menjadi puing-puing hitam dengan mayat yang berserakan di mana-mana.
__ADS_1
Qing Xia memasang telinga, mendengar informasi dari percakapan di antara orang-orang yang berdiri di dekatnya.
"Apa kalian tahu apa yang terjadi? Kenapa kediaman Fang bisa terbakar habis tanpa ada keributan?"
"Entahlah, memang sedikit mencurigakan."
"Mungkinkah ada orang yang sengaja membakar kediaman ini?"
"Bukankah aneh sekali jika tidak ada yang menjerit dan mencoba memadamkan api di saat terjadi kebakaran besar?"
Qing Xia juga merasa heran dan penasaran. "Mengapa kebakaran bisa meluas hingga ke seluruh kediaman? Tidak ada satupun ruang yang utuh tanpa dilalap api. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Siapa orang yang ingin menghancurkan keluarga Fang selain aku?" pikir Qing Xia.
Ketika ia sibuk memikirkan berbagai pertanyaan di dalam kepalanya, sosok seorang pria menarik perhatian Qing Xia. Pria itu menatap tajam puing-puing kediaman Fang sembari tersenyum dengan wajahnya yang tampak licik.
Melihat pria itu beranjak pergi, Qing Xia segera berlari mengikuti secara diam-diam. Dia terus mengekor di belakang hingga pria itu berbelok ke sebuah jalanan sempit. Ketika berbelok, Qing Xia kehilangan jejak orang yang diikuti olenya.
"Siapa kau? Kenapa mengikutiku?" tanya pria itu, ia muncul tiba-tiba dari belakang dengan sebilah pisau belati yang di arahkan ke leher Qing Xia.
"Jangan mencoba untuk melawan. Sebaiknya kau katakan, apa yang kau inginkan?! Kenapa kau mengikutiku?" tanya laki-laki itu lagi.
"Aku melihatmu di depan kediaman Fang. Apa kau yang melakukannya?" tanya Qing Xia seraya menunggu kesempatan untuk melepaskan diri.
"Itu bukan urusanmu! Pergilah dan jangan mengikuti ku lagi!" ucap pria itu kemudian menurunkan pisaunya.
Qing Xia segera berbalik, namun pria tersebut sudah menghilang tanpa jejak.
"Siapa orang itu?" tanya Qing Xia dalam pikirannya.
Istana Dingin
Seorang wanita duduk di atas kursi yang terlihat usang dengan beberapa retakan di kaki kursi. Wanita tersebut memegang sebuah liontin giok berbentuk naga bersayap dengan sebutir mutiara merah sebagai mata naga.
__ADS_1
"Aku menjadi istrinya selama 15 Tahun ini, tidak pernah sekalipun aku berpikir untuk melukai ataupun berhianat. Tapi, hanya satu kata dari seorang wanita asing, dia langsung melemparku ke tempat ini. Apakah ini yang kau sebut dengan cinta sejati?" ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
Setelah terdiam beberapa saat dengan air mata yang terus mengalir, kamar wanita itu di masuki oleh seorang pria berbaju hitam. Pria yang tadinya diikuti oleh Qing Xia.
"Ibu!" panggilnya sambil menepuk pelan pundak wanita yang sedang duduk dengan tangisan diam.
"Ze Hao, kau kah itu?" tanya wanita tersebut tanpa berbalik badan.
Pria yang bernama Ze Hao itu kemudian berjalan dan duduk di depan ibunya.
"Jangan menangis, menangis sama sekali tidak berguna!" ucap Ze Hao sambil menghapus air mata ibunya.
"Ibu juga tidak ingin menangis, tetapi air mata ini tidak bisa dihentikan. Apa yang harus ibu lakukan? Haruskah ibu membutakan kedua mata ini?" ucap perempuan itu dengan wajah sedih.
"Jangan berkata seperti itu, Ibu! Aku pasti akan mencari cara untuk membebaskan Ibu dari tempat ini!" janji pria itu dengan wajah serius.
"Tidak perlu, Ibu tidak memiliki keinginan lain selain berada di sisi Yang Mulia." tolak wanita itu seraya menatap liontin di tangannya.
"Ibu, kenapa Ibu harus menderita demi pria seperti itu?" tanya Ze Hao dengan mata memerah, ia merasa sedih untuk ibunya yang selalu disakiti.
"Karena dia adalah seseorang yang berharga dan sangat penting bagi Ibu. Ze Hao, dia adalah ayahmu! tidak bisakah kau memaafkan semua kesalahannya?" lirih perempuan itu dengan mata memelas dan memohon.
"Hahhh...!" Ze Hao menghela napas dengan kasar.
Dia berdiri dari kursinya, menurunkan tubuh dan berlutut di depan Ibunya. "Maafkan aku, Ibu! Aku akan menjadi anak yang berbakti dan penurut. Tetapi, aku benar-benar tidak bisa memaafkan pria itu!"
"Baiklah, Ibu mengerti! Ze Hao... Jaga dirimu baik-baik. Ibu mencintaimu..."
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, wanita tersebut memuntahkan banyak darah dari mulutnya.
"I...Ibu!"
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^