
Qing Xia tertidur selama tiga hari tiga malam. Selama itu juga Han Ze Xin terus menemani di sampingnya tanpa beranjak sedikitpun. Bahkan di waktu mandi, laki-laki itu akan membawa Qing Xia ikut ke dalam kolam.
Se Se berada di dalam kamar Han Ze Xin, dia menatap wajah Qing Xia sambil memikirkan kemungkinan yang terjadi kepada menantunya.
"Apakah dia kembali ke masa depan? Apakah dia masuk ke ruang hampa seperti aku dulu? Apakah jiwanya terdorong dan menolak raga ini sehingga ia tidak sadarkan diri sampai sekarang? Apa yang harus aku lakukan untuk menolong Qing Xia?"
Sementara itu, Qing Xia masih terperangkap di dalam mimpi. Dia terus menangis sambil memeluk mayat Han Ze Xin yang berasal dari masa depan. Tubuh Qing Xia berlumuran darah yang keluar dari lubang di kepala Han Ze Xin.
Langit tiba-tiba menjadi gelap, tubuh Han Ze Xin yang berada di dalam pelukan Qing Xia perlahan memudar.
"Ke... Kenapa ini? Apa yang terjadi?" tanya Qing Xia yang terkejut melihat tubuh Han Ze Xin menghilang di depan matanya.
"Xin...! Han Ze Xin!" panggilnya dengan suara menjerit dan mata yang melebar.
Setelah tubuh itu menghilang sepenuhnya, langit kembali terang. Qing Xia berdiri, dia berputar melihat sekeliling tempat itu. Tempat yang tadinya penuh bercak darah kini bersih tanpa noda merah.
Qing Xia berjalan maju ke depan dengan langkah lemah. Kaki dan tangannya gemetaran, dia mencoba memahami situasi apa yang sedang dia hadapi. Tetapi, betapa keras pun dia berpikir, Qing Xia masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Qing Xia!"
Suara panggilan dari seaeorang membuyarkan pikiran Qing Xia. Dia menoleh ke belakang, sumber arah suara yang terdengar di telinganya.
"Xin, syukurlah kau masih hidup!" ucapnya dengan senyuman dan air mata yang kembali membasahi kedua pipi.
Qing Xia berjalan ke arah Han Ze Xin, sebelum dia tiba, sosok seorang wanita menghampiri laki-laki itu.
"Aku senang kau sudah kembali. Apa kau baik-baik saja?" tanya laki-laki itu dengan wajah bahagia setelah memeluk wanita di hadapannya.
Beberapa detik kemudian, senyuman di wajah Han Ze Xin menghilang. Di gantikan dengan wajah terkejut yang menatap wanita di depannya dengan sejuta kekecewaan.
"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?" tanya pria itu dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Wanita itu menarik pisau yang baru saja dia tusukkan tepat di jantung Han Ze Xin.
Brukkk!
Tubuh Han Ze Xin ambruk ke lantai, dia masih memandang wajah wanita di depannya dengan tatapan tajam, dia tidak menyangka wanita yang begitu ia cintai malah membunuhnya tanpa sedikit pun keraguan di wajah wanita itu.
Qing Xia yang melihat adegan di depannya ikut terkejut, dia berlari menghampiri tubuh Han Ze Xin yang terkapar di atas lantai.
"Xin...!" panggilnya dengan suara bergetar. Qing Xia menoleh ke belakang, menatap wanita yang menikam jantung Han Ze Xin.
Begitu melihat wajah wanita itu, mata Qing Xia langsung membesar. Dia tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dia lihat saat ini, sebab wajah wanita yang berada di depannya adalah wajah miliknya. Dia yang telah membunuh Han Ze Xin.
"Mimpi apa ini? Bangunkan aku! Tolong bangunkan aku!!!" teriak Qing Xia dengan penuh emosi.
Langit kembali gelap, tubuh Han Ze Xin mulai memudar dan akhirnya menghilang lagi.
"Aaaaaaaaa!!!"
Langit yang gelap kembali terang, kali ini dia di bawa ke ruangan yang berbeda. Kanan kirinya penuh dengan pepohonan yang menjulang tinggi ke langit. Angin bertiup kencang, debu dan daun kering beterbangan karena tiupan dari angin dingin di dalam hutan yang mulai berkabut.
Qing Xia melihat Han Ze Xin yang berpakaian seperti seorang bangsawan di masa lampau. Pria itu sedang berjalan bersama seorang wanita sambil bergandengan tangan. Wanita yang memiliki wajah mirip dengan wajah Qing Xia.
"Apa yang sedang terjadi? Kenapa aku terus melihat Han Ze Xin dengan penampilan yang berbeda?" gumam Qing Xia dengan wajah kebingungan.
Dan lagi-lagi, wanita yang mirip dengan wajah Qing Xia kembali membunuh Han Ze Xin. Kali ini, dia menusuk jantung Han Ze Xin dengan sebatang ranting pohon lalu mendorong tubuhnya ke dalam lubang jebakan yang dipenuhi ratusan pisau tajam di bawahnya.
"Jangan!"
Qing Xia berteriak keras, suaranya menggema di seluruh hutan. Menyaksikan adegan mengerikan di depan matanya membuat tubuh Qing Xia gemetaran. Bukan karena dia takut dengan darah ataupun terkejut melihat pembunuhan. Qing Xia merasa ketakutan karena korban yang dibunuh adalah suaminya, Han Ze Xin.
Qing Xia berlari ke lubang jebakan, dia menatap dari atas, melihat tubuh Han Ze Xin yang tertusuk ratusan benda tajam hingga menembus kulit dan tulangnya.
__ADS_1
Mata Han Ze Xin masih terbuka, dia menatap eajah wanita yang berada di depan Qing Xia. Bibirnya masih tersenyum meskipun air mata pria itu mulai terjatuh di kedua sudutnya.
Sementara wanita yang ditatapnya itu tersenyum sinis, kebencian yang mendalam terlihat jelas di mata wanita tersebut.
Langit kembali gelap, kali ini Qing Xia memejamkan matanya, dia menolak untuk menyaksikan pemandangan kejam di depannya yang terus berulang tanpa akhir.
"Kenapa kau menutup matamu?" tanya seseorang yang saat ini berada di depan Qing Xia.
Begitu mendengar suara dari pria yang menjadi beban pikirannya, Qing Xia langsung membuka mata.
"Xin, Han Ze Xin! Kau masih hidup! Tadi itu hanya mimpi kan?" ucapnya sambil berderai air mata.
Pria di depannya menatap Qing Xia dengan wajah dingin.
"Xin..." panggilnya pelan sambil mendekati Han Ze Xin yang berjarak beberapa langkah dari Qing Xia.
"Hanya segitu saja kau sudah tidak bisa menahannya?" tanya pria itu dengan nada dingin.
"A... Apa maksudmu?" tanya Qing Xia tak mengerti dengan apa yang sedang di tanyakan oleh Han Ze Xin.
Wajah dingin laki-laki itu semakin dingin, dia menatap tajam mata Qing Xia lalu berkata kepadanya.
"Kau, membunuhku sebanyak 99 kali di 99 kehidupan. Aku baru menunjukkan 3 kali saja dan kau sudah tidak sanggup melihatnya?"
Qing Xia menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Han Ze Xin. Dia memundurkan langkahnya dengan perlahan lalu terjatuh ke tanah yang berbatu dan dipenuhi akar tanaman yang sudah menua.
"Qing Xia, kau hanya seorang pembunuh!" ketus pria itu dengan tatapan yang penuh kebencian.
"Ti... Tidak mungkin! Kau... Kau pasti sedang bercanda kan? Tolong aku! Siapapun itu... Tolong bangunkan aku!" jerit Qing Xia dengan suara yang bergetar.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1