Putri Jenderal Yang S2

Putri Jenderal Yang S2
Episode 15


__ADS_3

Pedang berhenti tepat di kulit leher pelayan yang sedang ketakutan dengan seluruh tubuh yang bergetar.


"Pelayan tak berguna! Bacakan isi selebaran itu!" perintah Fang Chang Guo, ia menolak mengambil kertas yang diberikan oleh pelayannya.


Sang pelayan terkejut hingga kedua kakinya terasa lemas, keringat dingin keluar dari pori-pori wajah dan lehernya. Dia memegang kertas dengan tangan yang gemetaran lalu mulai membaca isi tulisan di dalam kertas.


Dengan selembar kertas ini, aku akan mengungkapkan kejahatan yang di lakukan oleh Menteri Fang, Fang Chang Guo. Pria itu telah menerima uang suap dari beberapa bangsawan yang melanggar hukum.


Pembunuh, pembantai, pemerkosa dan juga bangsawan yang bersikap semena-mena terhadap rakyat jelata, masih berkeliaran bebas karena Fang Chang Guo menerima uang dan harta yang mereka berikan sebagai imbalan untuk menutupi kejahatan yang telah mereka lakukan.


Satu hal yang paling di sesalkan dari perbuatan jahat Fang Chang Guo. Empat tahun yang lalu, dia telah menyebarkan kabar palsu dan memfitnah Jenderal Yang, pahlawan di negara Han. Beliau di tuduh atas penghianatan karena bekerja sebagai mata-mata untuk negara musuh.


Jenderal Yang adalah pahlawan kita. Beliau tidak pernah melakukan hal yang di tuduhkan oleh Fang Chang Guo. Pria licik itu hanya menggunakan alasan ini untuk menyingkirkan Jenderal Yang karena pahlawan kita jauh lebih berkuasa di atasnya.


Fang Chang Guo takut dengan kekuatan Jenderal Yang, di mana ia berpikir jika kekuasaan Jenderal Yang akan menjadi sumber masalah baginya di kemudian hari.


Aku berharap kasus Jenderal Yang bisa diselidiki kembali. Untuk kejahatan Fang Chang Guo, semoga dia mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya karena telah membuat seluruh keluarga pahlawan kita binasa dan membuat kita kehilangan seorang pahlawan yang tidak pernah kalah di medan perang.


Pelayan itu membaca kertas dengan suara yang bergetar, matanya fokus pada teks yang tertera di depannya. Tetapi wajahnya terlihat tegang dan ketakutan, seakan-akan dia membaca sesuatu yang akan membawanya ke depan malaikat kematian.


Sementara itu, Fang Chang Guo berdiri diam di depannya. Wajahnya mengerut dalam kebingungan dan kekhawatiran saat ia mendengarkan satu demi satu kejahatan yang ia lakukan. Ketika ia mendengar semakin banyak kejahatan yang disebutkan, wajahnya menjadi semakin merah dan mengerikan.


"Bagaimana mereka bisa mengetahui semua hal yang telah ku sembunyikan?" tanya Fang Chang Guo, suaranya bergetar dengan raut wajah yang memendam amarah.


Mata Fang Chang Guo berkilat, dan ia langsung mengayunkan pedang yang berada di tangannya. Dalam sekejap, ia mengayunkan pedang itu ke arah leher pelayan. Fang Chang Guo memenggal kepala pelayan tersebut dengan gerakan cepat dan mematikan.


Semua orang yang berada di ruangan itu menjerit ketakutan lalu menutup rapat mulut mereka agar tidak turut menjadi korban pelampiasan amarah dari Fang Chang Guo.


Saat melihat kepala pelayan yang berguling di lantai, laki-laki itu tertawa puas. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah yang terlihat di wajahnya. Dia menatap mata pelayan yang masih terbuka lebar di atas lantai, dengan menyunggingkan senyuman sinis.


"Aku akan membunuh bajingan keparat yang berani mengusik hidup ku!" seru pria itu dengan wajah yang mengerikan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Qing Xia melompat masuk ke dalam kediaman Han, dia mengendap-ngendap agar tidak ada satu orang pun yang melihat kepulangannya dari luar.

__ADS_1


Qing Xia mengganti kembali pakaiannya dengan pakaian wanita bangsawan. Dia memakai hanfu berwarna biru muda bercampur putih, rambutnya terurai memanjang dengan sebuah tusuk rambut yang terbuat dari mutiara laut yang berwarna senada dengan pakaiannya.


Qing Xia menyalakan api di sebuah Kang yang berada di dalam kamar. Dia membuang pakaian dan topengnya ke dalam Kang yang sudah menyala. Setelah memastikan semua pakaian hitam dan topeng miliknya terbakar hingga menjadi debu, Qing Xia berjalan keluar dari kamar.


NB: Kang adalah sejenis wadah untuk membakar arang atau kayu sebagai sumber panas atau pemanas ruangan yang tradisional digunakan di beberapa daerah di China, terutama di daerah pedesaan.


"Ibu!" panggil Xin Le yang baru saja tiba di depan kamar Qing Xia.


Xin Le merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, dia lalu memeluk tubuh Qing Xia dengan senyuman di wajahnya.


"Xin Le, bukankah ibu sudah mengatakan kepadamu untuk jangan berlarian?" tegur Qing Xia dengan wajah tenang.


"Tapi, Xin Le berlari karena terlalu merindukan Ibu." jawab bocah itu beralasan.


"Jika kau berlari, kau bisa saja terjatuh. Jika kau terjatuh, kau akan merasa kesakitan. Dan jika Xin Le kesakitan, hati ibu akan turut merasakan sakit yang lebih besar dari Xin Le. Apakah Xin Le ingin membuat hati Ibu terasa sakit?" tanya Qing Xia dengan penjelasan yang panjang lebar.


Xin Le segera menggelengkan kepala, dia tentu saja tidak ingin Qing Xia merasa sakit hati.


"Maafkan Xin Le! Lain kali, Xin Le tidak akan berlari lagi!" jawab bocah itu dengan wajah menyesal.


"Ibu, hari ini Xin Le membuat 8 jenis racun. Apa Ibu mau melihatnya?" ucap Xin Le membanggakan diri.


"Tentu saja! Ibu sangat penasaran, racun apa yang dibuat oleh Xin Le?" sahut Qing Xia bersemangat.


"Mari ikut dengan Xin Le, Bu! Xin Le akan menunjukkan kepada Ibu. Hehe..." jawab bocah tersebut lalu menarik lengan Qing Xia. Mereka berjalan menuju ke sebuah kamar obat yang di bangun khusus untuk Xin Le.


Setibanya di kamar, Xin Le mengeluarkan 8 botol porselen berwarna putih lalu meletakkan botol tersebut di atas meja yang berada di depannya.


"Ibu, lihat ini!" seru Xin Le sembari mengeluarkan sebutir pil beracun dari dalam botol.


"Obat apa ini?" tanya Qing Xia penasaran, sebab warna pil yang berada di tangan Xin Le sangat indah.


Pil itu memiliki 7 warna yang berbeda dengan kilauan unik yang menyelimuti kulit luar pil tersebut. Corak abstrak di badan pil membuat obat beracun itu tampak seperti sebuah manik-manik mutiara yang langka.


"Warnanya sangat bagus bukan?" tanya bocah itu dengan senyuman puas.

__ADS_1


"Benar, bagus dan terlihat sangat cantik sekali." jawab Qing Xia seraya memperhatikan pil racun di depannya.


"Hihi... Ini memang cantik, tapi Ibu tidak boleh memakannya. Pil beracun ini bisa membuat wajah yang cantik menjadi seburuk monster." ucap Xin Le menjelaskan.


"Benarkah?" tanya Qing Xia semakin bersemangat.


"Sepertinya aku akan membutuhkan pil ini!" gumam Qing Xia.


Xin Le mendengar gumaman dari Ibunya, dia langsung menawarkan pil beracun itu kepada Qing Xia.


"Ibu, ini untuk Ibu!" ucapnya seraya menyerahkan botol yang berisi pil beracun 7 warna ke tangan Qing Xia.


"Kenapa Xin Le memberikan racun berharga buatan Xin Le kepada Ibu?" tanya Qing Xia penasaran.


"Karena Ibu bilang Ibu membutuhkannya!" jawab Xin Le dengan wajah serius.


Qing Xia mengerutkan kedua alis mata, dia berpikir sejenak dengan raut wajah kebingungan. Qing Xia lalu bertanya-tanya di dalam hati.


"Bukankah aku mengatakan itu dengan suara yang sangat pelan? Bagaimana Xin Le bisa mendengarnya? Mungkinkah..."


Qing Xia menurunkan tubuhnya, dia berjongkok di depan Xin Le lalu bertanya kepada bocah itu.


"Xin Le, apakah kamu sering mendengar suara-suara berisik di telinga mu?"


Xin Le mengangguk


Wajah Qing Xia semakin kebingungan dan penasaran. Dia kembali bertanya kepada bocah di depannya.


"Apakah kamu sering mendengar suara yang berasal dari kejauhan?"


Xin Le kembali mengangguk


"Tidak mungkin...!" batin Qing Xia yang menolak mempercayai apa yang sedang dia pikirkan di dalam hatinya.


"Xin Le, apa kau tahu apa yang sedang ibu pikirkan sekarang?" tanya Qing Xia lagi dengan harapan Xin Le akan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2