Putri Jenderal Yang S2

Putri Jenderal Yang S2
Episode 14


__ADS_3

Hari menjelang pagi, Han Ze Xin dan Qing Xia baru saja tertidur setelah semalaman bergulat di kolam mandi hingga berpindah ke kamar.


Qing Xia merasakan hembusan angin sejuk di pagi hari yang masuk melalui lubang di jendela. Menyadari bahwa matahari baru saja terbit, Qing Xia perlahan-lahan merapatkan selimut di atas tubuhnya dan duduk di atas tempat tidur. Ia menggosok-gosok matanya untuk memperjelas penglihatannya.


Qing Xia memandang ke arah suaminya yang masih tertidur dengan wajah yang tenang. Dia merasakan kebahagiaan dan bersyukur karena pria itu masih berada di sisinya.


Qing Xia bangkit dari tempat tidur dan mulai menjalankan rutinitas paginya. Dia membuka tirai jendela dan membiarkan sinar matahari masuk ke dalam kamar.


"Bukankah hari ini dia memiliki janji untuk bertemu dengan tamu dari negara Langit?" gumam Qing Xia yang sedang menatap wajah Han Ze Xin.


Qing Xia mengambil napas dalam-dalam dan dengan hati-hati meraih tangan suaminya yang terbaring di atas ranjang. Dia merasakan kehangatan tangan suaminya dan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Han Ze Xin yang lembut.


"Suamiku... bangunlah," bisik Qing Xia pelan sambil meraih tangan Han Ze Xin dengan lembut.


Namun, Han Ze Xin masih terlelap dan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk bangun. Qing Xia merasa agak kesal, namun dia tidak menyerah begitu saja. Dia memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda kali ini.


Qing Xia merangkak di atas tubuh suaminya, menempelkan bibirnya di telinga Han Ze Xin, dan mulai menyanyikan lagu dengan suara yang nyaring dan terdengar berisik. Suara terompet Qing Xia memenuhi kamar tidur mereka, dan lama kelamaan Han Ze Xin mulai membuka matanya dan tersenyum lebar.


"Apa kau sedang berencana merusak pendengaran suamimu?" tanya Han Ze Xin yang ternyata pura-pura masih terlelap.


"Tidak, aku hanya berencana membangunkan suamiku yang tertidur seperti seekor babi." sahut Qing Xia drngan senyuman bahagia.


Karena posisi tubuh Qing Xia masih di atas tubuh Han Ze Xin, dia meraih kepala Qing Xia lalu membenamkan di wajahnya hingga kedua bibir mereka menempel. Qing Xia menahan dengan kedua tangan lalu mendorong tubuh Han Ze Xin yang berada di bawah.


"Apa kau belum lelah melakukan ini sepanjang malam? Dan sekarang kau masih mau melanjutkannya lagi?" ucap Qing Xia kesal karena seluruh tulangnya terasa remuk akibat aksi nakal suaminya sepanjang malam yang tidak berhenti mengganggu tidurnya.


Han Ze Xin merasa senang melihat istrinya mengomel meskipun dia tahu dia sedang kesal padanya. Dia merasakan kebahagiaan dan cinta yang dalam untuk Qing Xia, dan dia tidak ingin membuatnya marah. Dia tersenyum lebar, mencoba meredakan amarah istrinya.


"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak bisa menahannya. Apa lagi yang bisa ku lakukan jika istriku sangat cantik dan selalu membuatku merasa kehausan. Tentu aku harus menggunakan kesempatan yang ada untuk memuaskan keinginanku." kata Han Ze Xin dengan lembut sambil mengusap rambut Qing Xia yang berantakan.

__ADS_1


Qing Xia melirik suaminya dengan tatapan tajam, tetapi dia tidak bisa menahan senyum ketika Han Ze Xin membuat wajah lucu dan mencoba meminta maaf. Qing Xia juga tahu bahwa Han Ze Xin hanya mencoba membuatnya senang, meskipun kadang-kadang caranya agak nakal.


"Terserahlah, aku tahu kau hanya mencoba membuatku senang. Tapi jangan lagi melakukan itu di malam hari ketika aku ingin tidur nyenyak," kata Qing Xia sambil tersenyum.


Han Ze Xin mengangguk dan mencium kening istrinya dengan lembut. Dia merasa bersyukur dan bahagia bisa memiliki Qing Xia sebagai pasangannya seumur hidup. Mereka berdua kemudian bangkit dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk memulai hari mereka yang sibuk.


Qing Xia menemui Max untuk membuat selebaran yang berisi kejahatan yang di lakukan oleh Fang Chang Guo. Kertas selebaran itu berisi daftar kejahatan yang dilakukan oleh Fang Chang Guo, termasuk penipuan, pemerasan, dan penganiayaan.


Qing Xia merasa marah dan tidak bisa membiarkan Fang Chang Guo terus melakukan kejahatan tanpa konsekuensi yang pantas. Dan tujuannya dari awal hanya membalaskan dendam keluarga Yang terhadap pria itu.


Setelah selebaran selesai di buat, Qing Xia mengganti pakaian serba hitam dan menutup wajahnya dengan topeng hantu berwajah merah. Qing Xia naik ke atap bangunan yang tinggi lalu melemparkan kertas yang berisi kejahatan Fang Chang Guo ke bawah.


Setelah melemparkan selebaran itu ke bawah, Qing Xia melihat warga berkerumun di bawah, membaca isi selebaran tersebut. Dia merasa puas bahwa orang-orang tahu tentang kejahatan Fang Chang Guo dan berharap tindakan ini akan mengundang para petugas keadilan untuk menyelidiki kasus kejahatan yang dilakukan oleh pria itu.


Di dalam selebaran juga disebutkan kasus Yang Fang Xi yang di fitnah oleh Fang Chang Guo 4 tahun yang lalu. Qing Xia berharap kaisar akan mendengar tentang kabar kertas daftar kejahatan yang dia sebarkan di ibu kota.


"Jika kau menutup sebelah mata atas kasus ini, aku tidak memiliki pilihan lain selain membunuhmu. Kaisar Han! Aku tidak memerlukan seorang kaisar bodoh yang tidak menghargai kesetiaan ayahku!" ucap Qing Xia dalam hati.


Seorang pelayan berlari dengan terburu-buru ke dalam sebuah ruangan. Pelayan itu berlari dengan nafas yang tersenggal senggal dan mengucapkan kalimat yang berulang-ulang.


"Tuan, ada masalah besar!"


"Tuan, ada masalah besar!"


Di sebuah ruangan yang luas, dengan beberapa barang antik dan giok langka yang terpajang di setiap celah rak-rak berbentuk persegi empat. Tampak empat orang pelayan berdiri diam menunggu Tuan mereka yang sedang bermesraan.


Fang Chang Guo sedang duduk menikmati anggur kesukaannya bersama seorang wanita. Wanita itu adalah Mo You Li, selir yang sangat di sayangi oleh Fang Chang Guo akhir-akhir ini.


Mo You Li mengambil sebuah anggur merah, dia menyuapi Fang Zhang Guo dengan menggunakan bibirnya yang semerah darah. Warna merah itu berasal dari pemerah bibir yang sangat tebal.

__ADS_1


"Tuan Besar! Ada masalah penting yang harus saya laporkan! Tuan Besar!" jerit seorang pelayan dari luar pintu.


"Siapa yang sangat berisik di luar?" tanya pria itu dengan wajah kesal.


Mo You Li pun turut kesal karena suara pelayan membuat hari bahagianya bersama Fang Chang Guo harus di akhiri.


"Kau, buka pintunya!" perintah pria itu kepada salah satu pelayan yang berdiri di sudut ruangan.


"Brakkk!"


Pintu terbuka dengan kasar karena di dorong oleh pelayan yang menjerit dari luar. Pria itu menerobos masuk dengan membawa selembar kertas yang sedang menjadi topik pembicaraan hangat di sluruh jalanan di ibu kota.


"Pranggg!"


Fang Chang Guo membanting cangkir arak yang berada di tangannya. Dia menatap pelayan tersebut dengan amarah yang meledak-ledak.


"Kurang ajar! Berani sekali kau masuk tanpa izin dariku!" teriak pria itu dengan mata yang melotot.


Pelayan itu langsung bersujud dan memohon pengampunan. Dia berlutut dengan kedua kaki lalu menghantukkan kepalanya dengan keras ke lantai yang keras.


"Tu... Tuan... Maafkan saya. Saya benar-benar panik karena ada hal penting yang harus segera saya laporkan kepada Tuan!" jawab pelayan dengan suara dan tubuh yang bergetar ketakutan.


"Sebaiknya kau memang membawa kabar penting, jika kau sembarangan membuat alasan, kepalamu akan langsung terpisah dari lehermu yang kurus!" ucap Fang Chang Guo dengan ancaman yang benar-benar akan dia lakukan.


Pelayan memberikan selebaran kertas yang beredar siang tadi. Dengan tangan yang gemetaran, dia maju dan menyerahkan kertas kepada Fang Chang Guo.


Sringgg!


Fang Chang Guo menarik pedang yang terletak di samping kursi. Dia mengayunkan pedang itu di leher pelayan yang sedang berdiri menatapnya dengan kedua bola mata yang bergetar.

__ADS_1


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2