
Pagi ini, hati kami begitu berbunga bunga, seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Bertatapan lalu tersenyum. Kami sering pergi kekamar putri kami berdua, mengajaknya bermain. Kini genap 4 bulan usianya. Dia tumbuh menjadi anak yang begitu ceria dan cantik.
Tiba-tiba asisten rumah tangga kami memberitahu kalau Bapak dan Ibuku berkunjung. Aku begitu bahagia karna akupun sangat merindukan mereka. Aku persilahkan mereka masuk dan menemui cucu mereka.
"Sudah besar kamu Nak, cucu Ibu. Cantik ya Pak, gendut lagi." Ucap ibuku sambil menimang Khaula dengan penuh kebahagiaan dimatanya. Bapakpun tersenyum gembira melihat cucunya tersenyum, merekapun bercanda bersama.
"Nasibmu begitu baik Cah Ayu, punya kamar sebagus ini, hidupmu terjamin, parasmu cantik, tak khawatir rambutmu bau matahari seperti rambut Ibumu ketika seusiamu. Nenek selalu mengajaknya berjualan kue keliling dari pagi hingga siang hari. Terkadang pula kehujanan, pulang kerumah basah kuyup tubuhnya lalu sakit karna masuk angin. Nenek sangat panik waktu itu, tp untungnya dihari ketiga keadaan Ibumu membaik." Ibuku menyeka air matanya seraya pikirannya jauh pergi ke masa dimana aku masih menjadi balita kecilnya.
__ADS_1
Aku, suamiku dan bapak ikut terharu mendengar cerita Ibu, dia wanita tangguh, dikala itu bapak hanya bekerja serabutan karna sulitnya mendapatkan pekerjaan dikampung, ibu membantu dengan berjualan kue keliling. Itulah mengapa aku hanya satu satunya anak mereka, mereka takut tak mampu mencukupi biaya hidup.
Kupeluk Ibuku, aku kecup rambutnya yang mulai memutih, aku kecup tangannya yang sudah sekian lama hilang kelembutan karna digunakan untuk bekerja keras, terkadang Ibu ikut bekerja serabutan dengan Bapak.
"Sehat selalu Bu, Pak. Maafkan Humaira yang belum bisa membahagiakan Ibu dan Bapak." Ucapku sambil menatap ke arah bapak dan ibu.
"Sudah Pak, Bu, yang penting kini semua sudah membaik, sekarang Humaira bisa hidup dengan layak, begitupun dengan Bapak, Ibu dan Khaula. Aku akan berusaha menjaga dan membahagiakan putri kalian." Ucap suamiku.
__ADS_1
Bapak dan Ibu tercengang mendengar ucapan pangeran bermobilku, mereka sempat khawatir ketika kita menikah dulu karna mereka tau pernikahan kami tak didasari cinta sebelumnya, hanya di dasari dengan permintaan terakhir nenek dan kesulitan ekonomi kami.
Ada angin segar menyusup kedalam hatiku ketika mendengarnya, inikah rasanya dicintai? aku begitu bahagia, begitupun kedua orang tuaku, terlihat netra mereka mengembun ketika mendengar kata kata yang baru saja suamiku ucapkan.
Aku persilahkan Bapak dan Ibu tidur dikamar tamu, Bapak dan Ibu menginap untuk beberapa hari, aku tak merasa sepi ketika suamiku pergi mengecek keadaan perusahaan, aku bisa berbagi cerita dengan ibu dan bapak. Mereka menceritakan kegiatan sehari hari mereka dikampung. Ya, mereka tetap tinggal dikampung atas keinginan mereka berdua, mereka mempunyai impian ingin menjadi juragan sayur dikampung, akhirnya semua itu terwujud sekarang.
Mereka menanam banyak sayuran di lahan yang suamiku belikan, bapak dan ibu tak pernah meminta uang sepeserpun dariku, mereka bertahan hidup dengan hasil penjualan sayur yang terkadang naik turun harganya. Namun untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka berdua sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
Untuk mengobati rasa rindu, mereka mengambil dua anak angkat dari tetangga kami yang sudah tak memiliki sanak saudara. Indra dan Indri anak kembar beda jenis kelamin yang ditinggal ibunya meninggal kemudian disusul bapaknya meninggal dua bulan yang lalu.