Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Mulai berjuang


__ADS_3

Akhirnya kami putuskan untuk saling mengutarakan isi hati, keinginan satu sama lain, meredam ego yang ada pada diri kami. Sikap suamiku memang dingin. Namun aku juga bersalah karna tak pernah mencoba untuk mendekatinya walau hanya untuk sekedar mencari perhatian. Dia menjadi begitu dingin karna perjalanan hidupnya, hidupnya yang hanya berdua dengan neneknya.


"Pak aku...." Ucapku ragu.


"Apa yang ingin kau katakan? katakan saja!" Jawabnya singkat.


"Maafkan aku yang tak bisa menjaga Khaula dengan baik." Tubuhku berguncang hebat seraya menumpahkan segala kesedihan yang kupedam selama ini, tak hanya karna mengetahui penyakit yang putri kami derita tp juga karna rasa kesepian dan kekosongan hatipun ikut kuluapkan juga dalam tangis.


"Bukan salahmu, selama ini aku memperhatikan kau selalu memakan makanan terbaik dan tak pernah lupa meminum vitamin, tak pernah melakukan hal yang salah selama mengandung, kau menjaganya dengan begitu baik. Mungkin ini sudah takdir, sudahlah". Jelasnya sambil menepuk pelan punggungku, aaah padahal aku berharap pelukan hangat yang dia berikan untuk menenangkanku.


Kuseka air mataku, kupandang wajah mungil putriku. Baiklah jika memang ini jalan hidupku, akan ku hadapi, akan kutempuh apapun rintangannya ,akan kulewati dengan baik segala ujiannya. Aku punya satu kekuatan baru yang akan terus menjadi penguat lahir batinku yaitu doa.

__ADS_1


Kugenggam tangan mungilnya sambil kubisikkan ke telinga nya


"Mama akan melakukan apapun yang terbaik untukmu sayang, kau mungkin tak mendapatkan kasih sayang Papa ketika berada di rahim Mama, tapi Mama janji akan Mama lunakkan hati keras Papamu. Kamu akan merasakan hangatnya kasih sayang Papa. Kau putriku yang kuat, aku yakin kau bisa kembali sehat." Aku bisikan kalimat itu ke telinga mungil nya.


Setelah dirawat seminggu, keadaan putri kami berangsur membaik dan diperbolehkan pulang. Tidak banyak yang aku dan suamiku bicarakan selama dirumah sakit. Seperti biasa dia hanya membisu, datangpun hanya sekedar menjenguk putri kami, melihatnya lalu pergi.


Aku begitu bahagia menyambut kepulangan putriku kerumah. Rindu sekali melihatnya tertidur pulas didalam box bayi, memandangnya penuh cinta hanya ada aku dan putriku tanpa alat medis, menyanyikannya lagu tidur sambil menggendongnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, akhirnya hari yang aku nantikan tiba.


Setelah pulang dari perusahaan dia selalu menghabiskan waktu diruang kerjanya lalu masuk ke kamar untuk tidur, namun kali ini akan aku ubah kebiasaannya! aku mulai bersolek dan merubah caraku berpakaian.


Perlahan ku ketuk pintu dan masuk ke ruang kerjanya, kubawakan secangkir kopi kesukaannya. Kopi yang biasanya dibawakan oleh asisten rumah tangga kami.

__ADS_1


"Kemana Bi Murni? kenapa kamu yang membawakan kopi ku?" Ucapnya.


"Tak bolehkan istrimu membawakan kopi untukmu?" Jawabku.


Dia melihat ke arahku, entah itu pandangan apa. Yang aku lihat ada rasa terkejut dalam tatapan matanya. Biasanya aku mengenakan daster batik panjangku, walau sudah menjadi orang kaya aku tak pernah menggunakan baju mewah apalagi bersolek.


"Pah, maukah istirahat lebih awal?" Tanyaku.


"Kamu istirahat duluan saja!" Jawab suamiku.


Aku tak ingin terlalu memaksakan, rencanaku harus berjalan dengan mulus tanpa paksaan.Baik kali ini aku mengalah. Besok akan kujalankan misiku selanjutnya. Aku menuju kamar dan segera ku hubungi salon ternama dikota ini, kubuat janji dengan pemilik salonnya esok pagi. Akan ku buktikan bahwa aku bisa, aku bisa merubah diriku dan meluluhkan hati suamiku, demi kehangatan kasih sayang yang putri kami harapkan dan demi hatiku yang mulai mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2