Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Livia


__ADS_3

Aku masih tercengang dengan apa yang dikatakan pemilik perusahaan tempat aku bekerja, Pak Adryan! mungkin itulah mengapa semua karyawan begitu menghormatinya. Apa ini? permainan macam apa ini? aku masih begitu bingung dan aku mencoba untuk mencari tau kebenaran atas semua hal yang terjadi.


"Maaf Pak, saya tidak tau kalau Bapak..." Belum selesai aku bicara, dia sudah memotong kalimat ku.


"Sudahlah, yang terpenting saat ini kamu bantu saya." Perintahnya lagi.


"Bantu apa Pak? oh ya Pak, apa Ibu Livia itu Ibunya Bapak? lalu mengapa Nenek memperlakukan aku seakan aku adalah putrinya?" Tanyaku penasaran.


"Ya, Livia nama Ibuku, Ibu yang tak pernah memberikan hak ASI padaku, tak pernah menjagaku saat aku kecil, tak pernah hadir dalam kehidupan masa kecilku." Ungkapnya meluapkan kesal, mungkin itulah sebabnya dia pernah memandangku dengan tatapan kebencian.


"Apa Ibu Livia bekerja ketika bpk kecil? sehingga Bapak tidak punya banyak waktu dengan Ibu? lalu suami Bu Livia?" Belum habis rasa penasaranku, aku menanyakan keberadaan bapak dari Pak Adryan.

__ADS_1


"Setelah aku lahir dia pergi entah kemana. Dia menaruhku didepan rumah Nenek. suaminya? akupun tak pernah melihat wajahnya, bahkan sekedar namanya saja aku tak pernah tau!" Jawabnya ketus.


"Lalu, mengapa Nenek menjadi seperti ini?beberapa bulan lalu, aku pernah duduk bersebelahan di dalam bus, aku lihat Nenek tampak baik baik saja?" Aku masih bingung dengan keadaan nenek sekarang.


"Itu semua karna Dia melihat wajahmu!" Kau tau? wajahmu membangkitkan kembali ingatan masalalu Nenek. Ya, Ibuku pernah melakukan kesalahan, akulah buah dari kesalahannya, Nenek begitu kecewa dan mengusir Ibu ketika mengetahui ada aku di dalam rahimnya. Nenek memang sangat menginginkan seorang cucu laki laki agar menjadi pewaris perusahaannya, namun bukan dengan cara seperti ini. Bertahun tahun Nenek menunggu Ibu pulang, namun Ibu tak kunjung datang, ketika aku berusia 18 tahun Ibu pulang dengan keadaan yang begitu menyedihkan, tubuhnya kurus kering digerogoti penyakit kanker otak stadium akhir.


Segala pengobatan Nenek lakukan untuk Ibu, entah berapa biaya yang sudah Nenek keluarkan demi putri semata wayangnya, namun hasilnya nihil. Ibu hanya menghabiskan waktu disini sekitar 21 hari sebelum akhirnya meninggal." Jelasnya sambil memberikan sebuah foto padaku. Ya, itu foto ibu Livia.


Masih kupandangi foto ibu Livia tiba tiba aku dikejutkan dengan pertanyaan Nenek.


"Mirip kan Nak?" Tanya nenek yang kini berdiri disampingku.

__ADS_1


"Nenek? iya Nek." Jawabku gugup.


"Dia putriku, putriku satu satunya yg sangat aku rindukan, maafkan Nenek. Nenek begitu merindukannya, sehingga Nenek memperlakukan mu seperti seakan kamu Liviaku. Waktu itu, ketika kamu pamit turun di depan perusahaan Adryan, nenek langsung menelpon Adryan agar menerima mu diperusahaannya". Ucap nenek,menjelaskan tentang kejadian hari itu.


"Iya Nek, aku mengerti, terimakasih. Tapi Nek, mengapa nenek menaiki kendaraan umum waktu itu? bukankah Nenek memiliki beberapa mobil pribadi lengkap dengan supirnya?" Aku heran lalu aku tanyakan alasannya.


"Aku membesarkan Liviaku seorang diri Nak, dimasa kecilnya dia begitu bahagia ketika aku ajak naik bus, dia akan bercerita sepanjang jalan lalu terlelap dipangkuanku, setelah kepergiannya, setiap aku merindukannya aku selalu menaiki bus walau hanya untuk sekedar berkeliling kota, rasanya rinduku sedikit terobati. Semenjak hari dimana kita bertemu, hatiku begitu perih. Seandainya saja kita bisa terus bersama" Nenek menjelaskan alasannya menaiki bus hari itu.


"Oh begitu Nek, tapi maafkan aku, aku harus segera pulang. Bapakku sedang sakit Nek." Aku mencoba untuk pamit.


"Baik, biar nanti Adryan mengantarmu pulang." Jawab nenek.

__ADS_1


Kami menaiki mobil dan langsung menuju Puskesmas tempat Bapak dirawat, setelah sampai Pak Adryan pamit pulang.


__ADS_2