Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Bisnisku


__ADS_3

2 jam setelah suamiku pergi, Rindu dan anak anaknya tiba. Mereka langsung ku suruh istirahat dan menata barang barang mereka dikamar yang telah disediakan.


"Nanti sore kita ke butik, anak anak boleh ikut. Kamu akan mulai bekerja besok. Selama kamu bekerja anak anak bisa kamu titipkan kepada ART kami, namanya bi Ani. Untuk sekolah sulungmu, nanti akan ku atur pendaftarannya." Aku beri dia arahan.


"Baik Bu, terimakasih." Jawabnya sambil mengangguk.


Ketiga putra Rindu tak senakal anak seusia mereka, mungkin karna mereka terbiasa merapihkan apapun sendiri jadi ART kami tak kerepotan, malah menjadi terbantu dan rumah terasa lebih ramai.


Sore ini kami pergi ke butik dan kujelaskan semua tugas yang harus Rindu kerjakan di hari esok. Putraku Ammar pun ikut bersama kami, anak anak Rindu begitu senang bermain dengan putraku. Mereka cepat akrab walau ini pertemuan kedua mereka.


Hari berganti hari, aku sangat menikmati segala kesibukanku sebagai pengusaha makanan dan busana, semua berjalan begitu lancar. Hambatan selalu ada namun bisa ku lewati dengan baik. Ketika lelah melanda karna menghabiskan banyak waktu diluar rumah, ketiga putra Rinda menjadi peluluh rasa lelahku. Aku senang bermain bersama mereka, mereka anak anak yang baik dan sopan.


Aku tak pernah merasa penasaran dengan keadaan suamiku, kupikir dia sudah tak lagi pantas aku cemaskan, pemikirannya sudah matang dan tubuhnya kuat. Lalu apa yang harus kucemaskan? tidak ada!


Tak terasa sepuluh hari telah berlalu,diluar dugaan ku dia pulang lebih awal. Siang ini dia sampai dirumah, sedangkan aku tak berada dirumah karna ada pertemuan penting dengan rekan bisnisku. Beberapa kali hpku bergetar tertanda panggilan masuk namun tak kunjung aku jawab karna meeting ku belum selesai.


Aku lelah sekali, tubuhku lemas karna belum makan, ku sempat kan makan setelah pertemuan ini selesai. Aku buka hp dan melihat 9 panggilan tak terjawab dari suamiku.


"Iya Pah, ada apa?" Tanyaku dalam percakapan telpon.


"Mamah dimana? papah sudah dirumah." Jawabnya.


"Oh, iya Mamah ada acara ini, nanti sore mamah pulang." Jawabku sambil mengunyah makanan.


Tumben sekali dia sudah pulang, apa dia sudah mulai bosan pada selirnya? ah akupun tak ingin memboroskan energi ku untuk memikirkan mereka, sudahlah biarkan saja sesuka hatinya mau kapan dia pulang toh itu rumahnya.


Sehabis makan aku langsung menuju butik untuk mengecek keadaan disana.


Senang sekali aku melihat Rindu melayani para pelanggan ku dengan baik. Semoga saja dia betah ditempat tinggal barunya.


"Ibu..." Suara Rindu memanggilku. Dia menyapa dari kejauhan dan aku hanya tersenyum melihat sikapnya yang begitu ekspresif. Dia tak bisa menyembunyikan perasaannya di hadapanku.Dia selalu terlihat ceria.


"Bagaimana? kamu suka rumahnya?" Tanyaku memastikan.


"Suka Bu, nyaman. Anak anak juga betah dan sepertinya cocok dengan pengasuh yang baru. Terlebih sulungku bisa tinggal didekat sekolahnya." Jawab Rindu.


"Syukurlah kalau begitu. Bagaimana penjualan hari ini?" Tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Ramai Bu, ini laporannya Bu." Ucapnya sambil menyerahkan laporan keuangan butik.


"Wah, alhamdulillah. Banyak stok yang kosong ya?" Tanyaku setelah melihat laporan yang Rindu berikan.


"Iya Bu, sudah hampir setengah stok toko kosong." Jawab Rindu.


"Baiklah, besok kamu belanja ya!" Perintahku.


"Saya Bu?" Tanya Rindu seakan tak percaya aku memberikan wewenang lebih padanya.


"Iya, kamu, nanti saya transfer uangnya ke rekening kamu." Jawabku.


"Baik Bu, saya akan buat laporan serinci mungkin ya Bu, terimakasih atas kepercayaan Ibu." Jawab rindu sambil tersenyum.


"Iya sama sama. Kalau begitu aku pulang ya." Ucapku pamit.


"Ibu pulang? biasanya ibu disini untuk beberapa jam dulu?" Tanya Rindu heran.


"Suamiku sudah menunggu dirumah jadi aku harus segera pulang." Jawabku.


"Oh baik Bu." Jawabnya sambil melambaikan tangan.


"Papah pulang cepat Mah, tiba-tiba rindu Mamah." Ucapnya sambil tersenyum dan mendekat.


"Oh,begitu. Tumben rindu Mamah?" Tanyaku menyindir.


"Apa maksud Mamah tumben? Papah selalu rindu Mamah kan?" Jawabnya membela diri.


"Ya ya baiklah." Aku tak ingin berdebat.


Kamipun masuk kedalam rumah.


"Mah, kamu membawa beberapa dokumen dan penampilanmu terlihat formal. Kamu seperti habis meeting saja." Suamiku mulai curiga.


"Aku sedang senang saja berpakaian formal." Bantahku.


"Tapi bagus sih Mah, keren!" Ucapnya sambil menatapku.

__ADS_1


Aku masuk ke kamar, aku langsung bersiap mandi dan suamiku menunggu sambil menonton tv dikamar kami.


Begitu aku selesai mandi, kudengar seperti ada yang sedang bertengkar, ah ternyata itu suara suamiku. Sedang menelpon siapa dia? mengapa aku bertanya? siapa lagi kalau bukan wanita itu!


"Aku kecewa sama kamu! aku kasih kepercayaan malah berkhianat? kamu sedang mengandung anakku! tapi kamu malah pergi bersama pria lain, kau bilang hanya untuk membantumu memilihkan peralatan bayi kita? kenapa harus dia? kau ajak saja adikmu atau tunggu aku selesai meeting hari ini! pertemuan bisnisku kali ini sangatlah penting, tak bisa aku undur apalagi aki batalkan. Untuk siapa aku bekerja? hanya untuk beberapa jam kamu tak sanggup menunggu? kamu tau istriku? berminggu minggu aku sering meninggalkannya demi kamu, tak pernah sedikitpun dia protes!" Begitu yang aku dengar.


Aku dengar Adryanku begitu marah pada selirnya. Ada kepuasan dalam hatiku mendengar semua itu. Berfikir pah! pernahkah aki pergi bersama laki laki lain? apalagi dalam keadaan hamil? tak pernah sekalipun tangan ini terjamah laki laki lain selain dirimu. Apa kurang ku? apa aku salah karna tak berteman denganmu semasa aku kecil? jadi inilah alasan mengapa kau pulang cepat? kau benar! kau memang merindukanku, merindukanku disaat kau tau perbandingan sikapku dengannya. Perbedaan yang sangat jauh bukan? puas sekali aku mendengarnya pah!


"Papah, bisa tolong ambilkan sisir Mamah?" Sengaja aku berteriak agar dia kaget dan berhenti bicara dengan wanita itu.


Benar saja, langsung suamiku menutup telponnya karna kaget mendengar suaraku tanpa dia pedulikan bagaimana perasaan istri sirinya itu.


Aku putuskan kini tak lagi menolak ajakannya bermesraan denganku, entah sampai berapa lama lagi kami bisa bersama. Bisnisku sudah besar dan menjanjikan, aku bisa bertahan hidup mengandalkan usahaku sendiri. Aku habiskan sisa waktu kebersamaan kami dengan baik. Aku jalankan semua kewajibanku dengan baik pula. Aku berusaha untuk tidak menyimpan dendam walau sulit dan ku pastikan anakkupun tak menyimpan dendam kepada ayahnya.


"Mah, jika aku melakukan sebuah kesalahan maukah kau memaafkan aku?" Ucapnya, aku tau arah pembicaraanmu kemana Pah!


"Tergantung apa kesalahanmu Pah, jika hanya kesalahan kecil seperti berbohong kamu bilang mau ke Bandung lalu kamu pergi ke Pacitan untuk bertemu kawan laki laki lamamu, menghabiskan waktu untuk sekedar refreshing dan berolah raga bersama kawan kawan lamamu pasti masih mamah maafkan. Tapi jika keslahan papah berhubungan dengan pengkhianatan kesetiaan,menodai sucinya pernikahan kita, Mamah tidak bisa memaafkan Pah." Aku jelaskan isi hatiku.


"Lalu jika Papah telah merusak kepercayaan Mamah dan berkhianat apa yang akan Mamah lakukan?" Dia bertanya lagi.


"Mamah minta pisah dan pergi dari rumah ini, artinya Papah sudah tak menginginkan mamah kan jika memang papah mendua?" Jawabku.


"Lalu mamah akan pergi kemana Mah?" Ucapnya.


"Papah tak harus tau mamah pergi kemana, yang harus Papah yakini dimanapun Mamah berada Mamah akan baik baik saja dan hidup sebagai wanita yang mandiri." Aku menjelaskan padanya.


"Lalu Ammar?" Dia menanyakan nasib Putranya.


"Mamah yang akan menanggung biaya hidupnya." Jawabku penuh percaya diri.


Suamiku tertawa, mungkin dia pikir aku sedang berhayal, mengingat biaya hidup dan kuliah putraku yang tak murah.


"Mamah..Mamah...Uang darimana Mah? jika kita berpisah otomatis Mamah tak lagi mendapat uang bulanan, lalu membiayai Ammar?" Dia kembali tertawa seakan aku hanya mengatakan lelucon murahan!


"Papah ini, memangnya rizki Mamah Papah yang mengatur? siapa yang tau setelah pisah dari Papah, Mamah menikah lagi dengan lelaki kaya raya yang bisa menghidupi kami dan tentunya setia? memangnya wajah mamah jelek? Mamah rasa wajah Mamah cantik tubuh mamah bagus dan terjaga kebugaran nya, style Mamah juga modern, bahkan setiap Mamah pergi keluar untuk sekedar makan direstaurant selalu ada pria yang memperhatikan Mamah sampai terkadang Mamah risih karna selalu jadi pusat perhatian. Tapi untungnya Mamah selalu ingat status Mamah sebagai istri Papah, jadi mereka tak mamah hiraukan." Ucapku.


Wajahnya memerah seperti sedang menahan kesal.Aku tak ingin mengatakan cemburu karna aku tak yakin dia cemburu padaku.

__ADS_1


"Sudahlah Mah, jangan ngelantur! kita kan tidak berpisah!" jawabnya kesal.


__ADS_2