
Genap 4 tahun Khaula pergi meninggalkan kami. Segala kenangan indah terekam dengan baik dalam memori kami, terutama memori adik kesayangannya Ammar.
Sulit sekali aku memberi pengertian atas apa yang telah menimpa kakak tercintanya, setahun lamanya dia kehilangan keceriaannya, semangat hidupnya, nafsu makannya, bahkan kesehatannya.Beberapa kali dia jatuh sakit karna merindu, tak ada satupun makanan yang masuk kedalam tubuhnya, kami hanya mengandalkan cairan infusan yang ditancapkan ditangannya.
Seiring berjalannya waktu, lukanya pun mengering. Perlahan, dia mulai bisa menerima kenyataan dan mencoba bangkit menjalankan kembali kehidupannya yang sempat terjeda karna kehilangan.
Kini, dia duduk di kelas 2 SD, dia tumbuh menjadi anak yang pandai namun pendiam, tak seceria ketika kakaknya ada.
Waktu berlalu begitu cepat. Kini bungsuku sudah menjadi seorang mahasiswa kedokteran. Dia begitu ingin menjadi seorang dokter, agar bisa menjadi jalan menyembuhkan orang yang sakit. Dia tau takdir sudah ada yang mengatur,namun setidaknya dia bisa mengusahakan kesembuhan seseorang, dia bisa mencegah Ammar Ammar lain kehilangan kakaknya.
Bungsuku tumbuh menjadi anak yang ramah namun serius, sifatnya sedari kecil tak pernah berubah.Tak bisa diajak bercanda.
Bapak meninggal satu bulan yang lalu, kutawari ibu tinggal disini bersamaku namun ia menolaknya. Ibu lebih memilih tinggal dikampung bersama anak anak angkatnya. "Dengan tinggal dikampung Ibu merasa kalau Bapak selalu berada didekat Ibu, Ibu bisa sering sering berziarah ke makam Bapak. Jangan khawatir ibu akan kesepian, ada Indra Indri dan setumpuk kegiatan yang harus Ibu lakukan disini. Jaga dirimu baik baik Humaira Ibu." begitu katanya.
__ADS_1
Kegiatanku sehari hari hanya menghabiskan waktu dirumah dan menjaga suamiku, sesekali aku pergi ke sebuah panti asuhan dekat rumah untuk sekedar memberikan sedikit kebahagiaan untuk mereka. Ketika senyum mereka mengembang,seperti ada sosok Khaula didalam diri anak anak itu.
Terkadang akupun merasa jenuh, namun apalagi yang bisa kulakukan? bekerja? untuk apa?akupun sudah kaya raya. Jadi kuhabiskan waktu sepanjang hari dengan bersantai, sempat terfikir ingin membuka rumah makan sederhana dan bisnis kecil kecilan lainnya agar aku memiliki kegiatan, sepertinya harus segera aku realisasikan.
Malam ini suamiku tak pulang, entah kemana dia pergi. Sudah coba ku hubungi berkali kali, namun tak juga kunjung mendapatkan jawaban. Aku terjaga semalaman. Rasa cemas, khawatir, kesal dan sedih menghampiri. Kukuhubungi staf staf perusahaan nya pun tak ada yang tau kemana suamiku pergi. Putraku kuliah diluar kota, dia hanya pulang satu bulan sekali jika tak ada keperluan mendesak.
"Jangan sering sering pulang Nak, jika ada waktu luang beristirahatlah disana. Pulanglah jika rindumu sudah tak mampu kau bendung, Mamah akan selalu menyambutmu disini." Ucapku agar dia tak sering pulang, aku khawatir dia akan kelelahan karena jarak dari rumah ke kampusnya memang jauh.Dia menempati salah satu kamar kos sederhana didekat kampusnya.
Menjelang pagi, suamiku tak kunjung datang.Kemana dia pergi? apa Jangn jangan kamu kecelakaan pah? apa kamu mengunjungi Ammar? tapi kenapa tak kau ajak aku? tak kau beritahu aku? kau tak memiliki keluarga lain, jadi tak mungkin pergi ketempat sanak saudaramu yang lain. Kemana aku harus mencarimu pah? aku sangat khawatir.
Berangkatlah kami, tempat pertama yang kutuju adalah makam putri kami. Kulihat tak ada orang disekitar sana, kembali ku lanjutkan perjalanan yang entah akan menemukan titik terang atau tidak. Aku datangi restaurant tempat biasa kami makan, aku datangi rumah kawan kawannya dan tempat tempat yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Namun nihil, tak ada hasil. Aku hubungi asisten rumah tanggaku, aku tanyakan apa suamiku sudah sampai dirumah? namun, jawaban hampa yang kudapat.
Malam ini begitu mencekam, hidupku terasa hampa. Tiba-tiba putra bungsu ku menelpon untuk sekedar menanyakan kabar ku.
__ADS_1
"Mamah baik baik saja kan? mah, entah mengapa hatiku tak tenang. Aku terus teringat Mamah.Papah mana mah?" Tanya putraku.
"Mamah baik baik saja Nak, bagaimana kabarmu disana? Papah sudah tidur sayang, mungkin kelelahan jadi tidur cepat." Aku terpaksa berbohong.
"Mamah kenapa? Mamah menangis? suara Mamah ko seperti habis menangis Mah?" Ucapnya.
"Mamah menonton sinetron Nak, jadi terbawa suasana." Aku kembali terpaksa berbohong.
"Ah Mamah kukira ada apa. Tadinya aku mau pulang Mah, aku ada waktu luang besok karna semua tugas sudah ku selesaikan .Aku sangat merindukan Mamah dan Papah tapi mendadak temanku pindah kosan, tak ada yang membantunya. Dia meminta bantuanku. Bagaimana menurut Mamah? jika Mamah ingin aku pulang akan kukatakan pada kawanku bahwa aku tak bisa membantu." Tanya Putraku.
"Tidak Nak, jangan! bantulah kawan mu. Disini kami baik baik saja, kamu bisa pulang pas liburan smester kan? bulan depan kan? nanti saja pulangnya sekalian kita pergi menginap dirumah Nenek." Aku menjelaskan.
"Wah iyah, aku sangat merindukan Nenek juga, baik mah aku ga jadi pulang besok, mamah jaga diri baik baik ya, salam untuk papah, assalamu'alaikum mah." Ucap Ammar.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam Sayang, jaga dirimu baik baik disana ya." Ucapku lega.