
Pagi ini kami bangun lebih awal untuk menyusun rencana yang tak sempat kami susun dihari kemarin karna kelelahan.
Aku dan Ammar bersiap merubah penampilan lebih tertutup agar tak dikenali suamiku Adryan. Kami pergi sarapan lebih awal pula karna takut mereka selesai sarapan lebih dahulu.
Baru ada aku dan Ammar ku direstaurant hotel ini. Sarapan sudah tersaji dihadapan kami. Tak lama kemudian tempat ini mulai ramai. Mata kami mulai menyeleksi satu demi satu wajah semua orang yang masuk ke sini.
35 menit sudah kami menunggu, akhirnya yang kami tunggupun muncul.
Suamiku berjalan bergandengan dengan wanita yang kulihat kemarin dari belakang. Dia tidak begitu cantik, penampilannya biasa saja. Kurang apa aku pah? inikah pilihanmu? tak bisakah kau mencari yang lebih cantik dan modis dariku? tak merindukah kau padaku pah?
Bungsuku kembali menggenggam tanganku, pertanda ingin menguatkan batinku. Akupun balas dengan anggukan dan senyuman. Mereka duduk tak begitu jauh dengan kami sehingga dengan leluasa bisa kulihat wajah cerianya yang begitu terlihat berbunga bunga seperti orang yang sedang jatuh cinta.Aku begitu muak melihat semua ini. Tapi aku harus tetap kuat!
Mereka pergi tanpa menghabiskan sarapannya, seperti terburu buru ingin mengunjungi suatu tempat. Kami membuntuti mereka dari belakang. Pak supirpun sudah siap di posisi nya.
Mereka berhenti disebuah klinik bersalin. Untuk apa mereka kesana? menengok saudara yang melahirkan? atau suamiku alih profesi menjadi pengecek klinik bersalin? bukan lagi mengecek keadaan perusahaan yang ia tinggalkan berhari hari menitipkan kepada asistennya untuk ditinggal seminggu lamanya? hatiku semakin tak karuan, aku tak sempat lagi memikirkan perasaan putraku. Aku sendiripun kalap dibakar api cemburu.
"Mamah yakin mau melanjutkan?" Tanya putraku memastikan.
"Mamah yakin Sayang, Mamah ingin semua ini segera selesai, Mamah ingin semuanya terungkap dengan segera." Ucapku.
Tiga bulan terakhir suamiku memang sering pergi keluar kota untuk urusan bisnisnya. Apa jangan jangan itu hanya alasan?semoga saja tuduhanku salah!
Mereka berdua masuk ruang periksa, sekitar 20 menit keluar ruangan dengan wajah yang begitu sumringah, seraya mengusap perut perempuan yang sepertinya dua tahun lebih muda dariku.
Perasaanku? sudah tak bisa kuungkap dengan kata kata. Ingin sekali kutampar wajahnya, kutarik menjauh wanita yang berada di sisi nya lalu kuhantam kepalanya dengan vas bunga kaca besar yang ada disampingku. Namun kembali harus kutahan.
Kulihat putraku begitu marah, tangannya bergetar ketika kupegangi. Aku khawatir dia mendatangi suamiku dan memakainya disini.
"Redam emosimu. Bantu Mamah menjalankan rencana ini dengan baik." Aku berusaha membujuknya.
Kulihat dia pergi dan masuk kedalam mobil, akupun menyusulnya.
"Mah, dia begitu aku idolakan, dia begitu aku puja dihadapan kawan kawan,dia Bapak yang sempurna Mah. Kenapa Mah? dia khianati kepercayaan ku?" Tanya putraku.
"Sudah Sayang, sudah nak lupakanlah kekesalanmu. Berteriaklah jika kau ingin, buatlah hatimu sedikit nyaman." Ucapku.
"Maafkan aku Mah, atas sikap Bapakku Mamah harus banyak merasakan duka." Ucapnya lagi.
"Bukan salahmu Anakku, bukan!" Kupeluk dan kubelai rambutnya hingga ia merasa jauh lebih tenang sambil menunggu suamiku dan wanita itu keluar dari klinik.
Benar saja, tak lama kemudian mereka keluar klinik dengan wajah bahagia, kulihat suamiku memapah seorang wanita yang sedang hamil muda. Hamil anak siapa? Entahlah! aku berharap itu bukan benih dari suamiku. Kami putuskan untuk membagi tugas. Aku pergi menemui si pemilik toko yang kini berperan sebagai orang tua angkat Riani dan putraku mengikuti kemana mereka pergi dengan syarat tidak melabrak apapun yang terjadi.
Aku naik kendaraan umum menuju toko itu, aku suruh pak supir dan putraku mengikuti suamiku. Sepanjang jalan aku berharap bahwa kenyataan yang akan kudengar takkan begitu menyakitkan.
"Assalamu'alaikum bu." Ucapku pada bu Ratna.
"Wa'alaikum salam, Ibu yang tempo hari kesini dengan anak laki laki kan?" Jawab bu Ratna.
"Benar Bu, itu saya." Ucapku.
"Ada apa ya? Ibu mau cari apa?" Bu Ratna kembali bertanya.
"Saya mau cari setelan muslim syar'i untuk remaja ada?" Jawabku.
"Ada Bu, silahkan dipilih." Ucapnya.
__ADS_1
Aku memilih satu lusin baju muslim syar'i yang terindah. Aku terisak karna teringat putri kecilku Khaula. Seandainya dia ada, pasti sangat cantik mengenakan pakaian ini. Kuseka air mataku dan menanyakan berapa yang harus kubayar.
"Banyak sekali Bu? Ibu punya banyak anak perempuan usia remaja?" Tanya Bu Ratna.
"Tidak banyak Bu, saya hanya memiliki satu anak perempuan." Jawabku.
"Senang mengoleksi baju ya Bu anaknya?" Ucap bu Ratna.
"Tidak juga, malah baju baju Putriku habis aku bagikan." Ucapku
"Lalu apa yang putri Ibu kanakan?" Tanya bu Ratna penasaran.
"Dia hanya mengenakan kain kafan." Ucapku singkat.
Tiba tiba si pemilik toko terdiam dan menunduk.
"Maafkan saya yang banyak bertanya Bu." Ucapnya seakan menyesal.
"Tidak apa apa Bu, saya membeli baju baju ini untuk saya bagikan. Semasa hidup putri saya begitu senang berbagi, oh ya berikan satu untuk keponakan ibu Rani." Ucapku.
"Wah, terimakasih Bu." Jawabnya senang.
"Bolehlah saya menanyakan sesuatu Bu?" Ucapku.
"Silahkan." Bu Ratna mempersilahkan.
"Dimana orang tua Riana dan Rani?" Aku beranikan diri untuk bertanya.
"Orang tua mereka sudah lama berpisah. Ibunya meninggal setelah ditinggal bapaknya pergi, mungkin stres Bu. Harus mengurus dua anak sorang diri." Jelas bu Ratna.
"Dari kecil mereka ikut Ibu?" Tanyaku lagi.
Aku pikir orang tua angkat Riani pasti tau banyak hal.
"Apa dia sudah menikah?" Tanyaku lagi.
"Sudah, 5 bulan yang lalu. Ya, walau hanya pernikahan sederhana yang penting sah dulu. Dia menikah dengan temannya sedari kecil namanya Adryan, dia memiliki perusahaan besar di kota." Penjelasan bu Ratna begitu melukai hatiku.
Lima bulan yang lalu? tubuhku mendadak kehilangan keseimbangan. Hampir saja tubuhku ambruk, jika tidak dipegangi dan disuruh duduk oleh ibu angkat Riani.
"Kenapa Bu? Ibu kenapa? Ibu sakit?" Dia bertanya dan panik.
Ingin sekali kuungkapkan segalanya. Ya bu, aku sakit, begitu sakit luka yang suamiku dan putri angkatmu torehkan dihatiku. Lebih dari sekedar merasa terbakar, lebih dari sekedar rasa tersayat. Sakit!
Kubayar 12 baju yang telah kupilih, kupisahkan satu untuk Rani. Aku segera pamit dan pergi menaiki kendaraan umum. Membawa 11 baju yang kubeli dari toko itu.
Aku melihat seorang wanita muda menaiki kendaraan umum membawa tiga balita. Dia gendong dua anak dan satu anak lagi dituntunnya. Perhatianku tertuju padanya, kupersilahkan dia duduk disampingku, aku begitu kagum melihatnya. Dia masih sangat muda dan cantik hanya saja ada beberapa tambalan di pakaian nya.
"Duduk disini Dek!" Ucapku.
"Iya Bu, terimakasih."Jawabnya.
"Ini semua putramu?" Tanyaku lagi.
"Ya, ini semua putraku Bu." Jawabnya singkat.
__ADS_1
"Di mana suamimu? apa dia tak membantumu menjaga anak anak?" Aku semakin penasaran dan bertanya.
"Suamiku sudah meninggal dunia sejak putra pertama kami masih dalam kandungan." Jelasnya sambil berusaha tersenyum.
"Lalu kedua anak ini?" Aku melanjutkan bertanya.
"Mereka putra dari saudaraku. Tak ada yang mengurusi mereka, orang tuanya bercerai dan tak ada yang membawa anaknya. Saudara kami yang lain tak mau menjaga mereka. Daripada mereka hidup terlunta punya lebih baik ikut saya." Ucapnya.
"Lalu kalian mau kemana? tidakkah kamu kerepotan Dek?" Ucapku.
"Kami mau menuju pasar grosir untuk membeli beberapa pakaian, saya penjual pakaian keliling Bu. Kebetulan stok dagangan dirumah habis." Jawabnya lagi.
Entah mengapa begitu teduh rasanya ketika aku melihatnya. Akupun tak tega membiarkannya pergi dengan keadaan serepot itu.
"Maukah kamu terima bantuanku?" Aku membujuknya.
"Bantuan apa Bu?" Dia bertanya.
"Saya membeli 11 baju gamis yang entah akan saya berikan kepada siapa.maukah kamu menerimanya? bisa untuk kamu pakai dan sebagian kamu jual lagi. Jika masih kurang saya akan minta supir kesini untuk menjemput dan mengantarkan mu ketempat dimana kamu sering belanja, aku khawatir dengan anak anakmu. Terlalu beresiko jika menaiki kendaraan umum.pasti kamu kerepotan." Aku menjelaskan maksudku.
"Terimakasih Bu, terimakasih, aku bingung. Aku harus mencari nafkah namun bagaimana dengan anak anakku? aku tak bisa menitipkan mereka. Siapa yang akan menjaga mereka? akhirnya tak ada jalan lain selain aku bawa. Ini sudah lebih dari cukup bu,kalau begitu saya akan kembali pulang saja." Ucapnya sambil menangis bahagia dan memeluk ketiga anaknya.
Sejenak aku lupa akan masalah ku, masalah yang membuatku menaiki kendaraan umum ini dan dipertemukan dengan wanita luar biasa disampingku.
"Bolehkah aku ikut kamu pulang? maaf sebelumnya. Aku sedang memiliki masalah dan tak tau harus kemana, izinkanlah aku berkunjung kerumahmu." Pintaku padanya.
"Mari Bu, silahkan." Jawabnya setuju.
Kami turun dari bus dan menaiki angkutan umum menuju rumah Ibu dari tiga anak itu.
"Namaku Humaira, siapa namamu?" Tanyaku pada wanita muda itu.
"Namaku Rindu Bu." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu masih begitu muda,berapa usiamu?" Ucapku.
"24 tahun Bu." Ucap Rindu.
"Tak jauh beda dengan usia putra bungsu ku." Ucapku.
Kami berbincang bincang sepanjang jalan hingga akhirnya Rindu memberhentikan angkutan umum dan membayar.Turunlah kami lalu melangkah menuju rumah sederhana yang tak begitu luas namun tertata rapi.
"Kami tinggal disini Bu, mari silahkan masuk."
Aku masuk kedalam rumah sederhana itu, terasa ada hawa sejuk masuk menyusup kedalam hati memberikan sedikit ketenangan pada hatiku yang sedang kacau ini.
"Silahkan diminum Bu." Ucap putra angkat Rindu yang paling besar, mungkin usianya sekitar 6 tahun.
"Terimakasih Nak." Aku minum air yang dia suguhkan. Ingatanku melayang pada masa dimana Ammarku masih seusia anak ini. Aku tiba tiba teringat bungsuku yang sedang mengikuti papah nya.
Aku ambil hp dan segera menghubunginya.
"Halo Nak, bagaimana?"
"Entahlah Mah. Aku merasa tak enak badan, kepalaku sakit. Aku kembali ke hotel untuk beristirahat." Jawabnya.
__ADS_1
"Baiklah Sayang, beristirahatlah. Semoga keadaanmu lekas membaik." Ucapku.
Tak ku cerita kan dimana aku, apa fakta baru yang aku temukan. Aku merasa sakit kepalanya disebabkan masalah yang kini sedang kami hadapi. Kubiarkan dia menenangkan diri untuk beberapa saat.