Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Papah dimana?


__ADS_3

Esok hari pun tiba. Tak bisa kupejamkan mata dan tertidur untuk beberapa saat saja. Papah, kamu dimana? nomor hpmu kini sudah tak bisa aku hubungi. Apa salahku pah? hpku tiba tiba berbunyi.


"Halo Nak." Aku jawab telpon anakku.


"Mah, aku hari ini akan mengantar kawanku, setelah ku tanyakan dengan jelas ternyata kawanku memiliki masalah yang cukup besar sehingga mengharuskan dia berhenti kuliah sementara dan pulang ke kampung halamannya di Jawa Timur. Bolehkah aku mengantarnya pulang ke Jawa Timur Mah?" Tanya putraku.


"Boleh Sayang, dengan syarat kamu jaga diri baik baik disana ya." Ucapku.


"Siap Mah, oh ya Mah Papah mana? aku coba menghubungi nomor ponsel Papah tapi tak kunjung terhubung." Ucap Putraku.


"Papah sudah berangkat Sayang, mungkin Papah lupa mengisi daya ponselnya." Terpaksa aku harus berbohong lagi.


"Begitu ya? yasudah mah aku berangkat dulu ya, doakan aku selamat sampai tujuan." Ucapnya pamit.


Begitulah Putraku, selalu meminta doa kemanapun dia akan pergi, selalu mengabari apapun keadaannya. Dia tak membiarkan aku cemas menunggu kabar darinya.


Tiba-tiba ada pesan masuk dari salah satu karyawan perusahaan, dia kawanku Lina yang dulu pernah bekerja bersama di perusahaan suamiku, kami sama sama ditempatkan dibagian pengepakkan.


√ Aira, kamu liburan ko ga bilang bilang sih?apa sudah lupa sama aku?


√ Liburan? aku tidak sedang liburan lin.


√ Loh, masa? tadi sepertinya aku melihat Pak Adryan disalah satu pusat perbelanjaan di kota ku. Kebetulan aku sedang mengajak Adikku jalan jalan. Aku memang melihatnya dari kejauhan tapi benar sepertinya dia memang benar Pak Adryan.


√ Bisa kamu kasih aku alamat lengkapnya?


√ Bisa, bisa.


Aku rasa lega dalam diriku karna jika memang benar yang Lina lihat adalah suamiku artinya dia sedang baik baik saja. Tapi, sedang apa dia disana? mencari barang antik? ataukah bosan pulang kerumah? mungkinkah dia ada misi rahasia? ah aku bingung sekali.


Aku menyiapkan diri dan menyuruh pak supir pergi ketempat yang Lina tunjukkan lewat pesan singkat.


Kami telah menempuh setengah perjalanan menuju tempat tujuan. Akhirnya aku bisa terlelap tidur dimobil untuk beberapa saat.


"Bu, kita sudah sampai Bu." Supirku membangunkan ku yang masih tertidur ketika mesin mobil sudah dimatikan, mungkin karena aku kurang tidur sebelumnya.


"Oh iya Pak, tunggu disini ya!" Perintahku pada supirku.

__ADS_1


Aku masuk kedalam pusat perbelanjaan yang Lina sebutkan, aku tau pasti terlambat namun apa salahnya kucoba mencari tau keberadaannya sekali lagi dengan harapan aku mendapatkan titik terang disini.


Setelah hampir satu jam aku tak kunjung menemukan petunjuk, aku bertanya pada beberapa orang dan kutunjukkan potret suamiku kepada beberapa pengunjung lain, namun tetap tak ada hasil.


Pandanganku mulai menghitam, tubuhku sangat terasa lemas. Namun aku tak boleh menyerah begitu saja. Mungkin aku begini karna lupa makan, akhirnya kuisi full perutku dengan makanan sebelum kembali melanjutkan perjalanan mencari suamiku yang entah kini dia dimana.


Aku membuang bungkusan nasi yang telah habis kumakan ke tempat sampah yang tersedia di dekat ku. Tunggu, apa itu? lipatan kotak itu mengingatkanku pada seseorang. Ya, suamiku memiliki kebiasaan melipat kotak tisu setelah dia gunakan. Bisa saja itu bekas orang lain, tapi firasat ku mengatakan bahwa itu bekas suamiku. Kuanggap ini sebagai titik terang pengobat hati yang begitu penasaran akan keberadaannya.


Aku bertanya pada salah satu pegawai ditempat makan ini.


"Mbak pernah lihat orang ini?" Ucapku sambil memperlihatkan foto suamiku.


"Oh ya Bu, tadi pagi saya melihat bapak ini tapi hanya dari kejauhan. Saya ingat karena istrinya meminta beberapa buah alpuket tanpa dijus untuknya." Ucap pelayan. Suamiku memang memiliki kebiasaan memakan biah alpuket sebelum makan.


Aku bahagia karna menemukan jejak suamiku, tapi hatiku hancur ketika mendengar kata "istrinya" artinya suamiku kemari bersama wanita lain?


Serasa dihantam benda berat dada ini, sesak rasanya.Entah pergi kemana pikiranku, semua terasa melayang tanpa arah. Lamunankupun entah tertuju kemana. Aku tak ingin menuding suamiku, yang kutau dia laki laki yang setia.


"Mamah?" Sapa seorang anak muda yang sedang menoleh kearah ku.


"Mamah sedang apa disini? Mamah kesini sama Papah? dimana Papah Mah? kenapa Mamah terlihat sedih? ada apa Mah?" Lanjutnya bertanya.


"Iyah Nak. Papah sedang ada pertemuan bisnis di kota ini. Mamah jenuh lalu kemari, kamu sendiri Nak? sedang apa disini?" Tanyaku pada anakku.


"Tadi pagi aku menelpon Mamah kan untuk mengabari akan pergi ke tempat temanku? kami mampir dulu kesini mah, aku lapar. Eh iya, kenalkan mah ini temanku Ardi." Ucapnya sambil mengenalkan temannya padaku.


Kamipun bersalaman, kupaksakan raut wajah ini tetap seceria biasanya.


"Dimana Papah meeting Mah? kita kesana yuk. Aku mau kasih kejutan. Mamah jangan bilang aku disini ya." Bujuknya sambil tersenyum lebar. Maafkan Mamah Nak, Mamah bingung harus menjelaskan mulai darimana.


"Gapapa kamu pulang sendiri? aku antar kamu sampai sini saja ya. Kamu jaga dirimu baik baik. Tetap berpikir dengan jernih ya apapun masalah mu." Ucap putraku pada kawannya, merekapun berpisah setelah makan.


Aku bawa putraku masuk ke mobil, dia berharap aku membawanya pada papah nya. Namun sepanjang perjalanan kami hanya berputar putar entah akan kemana, kasihan pak supir yang terlihat bingung.


"Mah, masih jauh?" Tanya putraku dengan penuh rasa penasaran dan bingung. Aku tak kuasa menjawab, aku hanya membelai lembut rambut hitam tebalnya lalu tersenyum.


Menyadari ada yang ganjil, akhirnya putraku kembali bertanya, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tak kuasa menahan tangis, aku tak bisa terus berpura pura dihadapannya, dihadapan anak yang sedari kecil aku ajari agar tak berbohong.

__ADS_1


"Maafkan Mamah Nak, sebenarnya mamah kesini mencari Papah, ditempat kita bertemu tadi papah makan bersama seorang wanita. Mamah pikir itu rekan bisnisnya. Sudah dua hari Mamah mencoba menghubungi ponsel papah, namun tak kunjung papah angkat dan sekarang nomornya tak bisa dihubungi. Mamah bingung, Mamah takut, apa yang harus mamah perbuat? Mamah harus kemana lagi?" Ucapku berusaha menjelaskan.


"Mamah tenang dulu mah, tenang ya." Ucapnya sambil memeluk dan menenagkanku. Terasa lebih nyaman setelah ku cerita kan semuanya pada bungsuku, sedikit beban telah pergi dari tubuhku.


"Mah, apa yang Papah bawa? baju, barang barang, parfum? Papah bawa parfum nya Mah?" Tanya putraku.


"Tidak Nak, parfum Papah ada dirumah." Ucapku.


"Papah tak pernah nyaman pergi keluar tanpa parfum kan Mah? Papah juga tak sembarangan membeli parfum dengan aroma lain. Pak supir kita ke tempat parfum terbesar dikota ini. Biar aku cari di internet dulu alamatnya." Ucap putraku.


Dengan mudah semua bisa diakses. Kami kunjungi beberapa toko parfum terkenal dikota ini, kami tanyakan aroma parfum yang selalu suamiku beli dan menunjukkan potretnya apa dia mendatangi salah satu toko parfum dikota ini atau tidak.


Ditoko ke 4 kami temukan aroma yang selalu papahku cari ketika parfum nya habis. Tak lupa ku tanyakan dan menunjukkan foto papah.


"Ya, kemarin Bapak ini membeli parfum dengan aroma yang sama disini." Jawab pemilik toko.


"Benarkah? apa dia sendiri kesini?" Tanya putraku.


"Tidak Dek, dia bersama keponakan Bu Ratna pemilik toko pakaian disebrang jalan sana." Jawab pemilik toko.


Kulihat rasa kecewa yang begitu dalam terlihat didalam tatapan mata putraku, matanya mulai mengembun dan menatapku.


"Tak apa Nak, mari kita kunjungi toko sebrang, kita tanyakan siapa tau ada informasi." Ucapku.


Kamipun segera bergegas kesana.


"Maaf Bu, langsung saja ya. Saya mau tanya apa ibu punya keponakan perempuan?" Putraku mencoba bertanya pada pemilik toko


"Keponakan perempuan? kamu siapa ya?" Dia menanyakan siapa kami.


"Saya..." Belum selesai putraku menjawab.


"Oh ya, sampai lupa. Kamu temannya Rani yang akan mengerjakan tugas bersama sore ini bukan? Rani sedang pergi bersama Kakak dan suaminya, ditunggu saja ya." Ucap bu Ratna.


"Kakak dan suaminya?" Tanya putraku.


"Iya, Kakaknya Riani. Suaminya baru saja datang dari kota." Jelas bu Ratna.

__ADS_1


"Maaf Bu, apa Ibu punya keponakan lain selain Riana dan Rani?" Aku ingin meyakinkan diri. Kuharap dugaan ku salah, kuharap bukan Riani yang menemani suamiku makan dan membeli parfum.


"Tidak, aku hanya memiliki mereka semenjak kami pindah ke kita ini. Kami hanya tinggal bertiga." Jawab bu Ratna.


__ADS_2