Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Nenek itu


__ADS_3

Aku tak kuasa menolak perintahnya, mengingat kondisi keuangan keluargaku yang hanya bertumpu padaku.


Akupun diajak masuk kerumah megah itu, memasuki ruangan besar yang dipenuhi dengan barang barang mewah khas Eropa.


"Ini kamar Nenekku, masuk dan bersikap baiklah!" Perintahnya yg sekaligus membuatku bertanya tanya, aku ini sedang dimana? mau diapakan? Nenek siapa? aku harus bagaimana? tp ku beranikan diri untuk memasuki kamar mewah ini.


Terlihat ada seorang Nenek cantik yang tak asing dimataku, ditemani dua suster yang sedang menjaganya.


"Kemari Nak, Mama rindu." Ucapnya seraya menitikkan air mata. Aku mendekat dan memasrahkan diriku entah akan di apakan aku.


"Mama rindu Nak, mama rindu, kamu kemana saja? Mama rindu mendengarkan ceritamu, Mama rindu melihatmu dengan lahapnya memakan masakan Mama, Mama rindu membelikanmu perhiasan, Mama rindu. Jangan pergi lagi nak jangan!" Ucap Nenek sambil terisak.


Aku harus apa? Mama siapa? siapa yg Nenek ini rindukan? Nenek yang beberapa bulan lalu duduk disampingku di kendaraan umum. Aku tak percaya jika memang itu dia mengapa menaiki kendaraan umum? sementara aku melihat banyak mobil terparkir rapi di garasi rumahnya? itukah Dia? ataukah org lain? aku hanya bisa menenangkan dengan cara yang sama aku lakukan diwaktu lampau, kupeluk tubuhnya, kudekap erat dan kuseka air mata rindunya.

__ADS_1


Aku tak paham apa yg sebenarnya terjadi, yang kutau jiwa kemanusiaan ku muncul ketika melihat seseorang menahan rindu yang begitu besar dan dicurakan padaku.


"Ayo temani Mama makan, lapar sekali perut ini." Ajaknya, suster di sebelah ku membisikkan kalau Nenek tak mau makan setelah dibujuk dengan cara apapun, tentu ada sedikit rasa lega didalam hatiku melihatnya mengajakku makan bersama.


"Iii iya Ma." Jawabku gugup.


Kamipun menuju meja makan, meja yang begitu luas dan tersaji banyak makanan lezat yang tak pernah aku santap sebelumnya.


"Ayo Nak, ceritakan bagaimana sekolahmu hari ini?" Ucapnya penuh harap.


"Kenapa kamu diam saja Nak? tidak maukah kamu berbagi cerita lagi dengan Ibu? maafkan Ibu Livia, maafkan Ibu yang terlalu kasar padamu waktu itu." Dia kembali menangis kali ini lebih nyaring dari sebelumnya.


"Tidak Bu, bukan begitu...aku..aku hanya sedikit lelah saja, makannya aku belum bisa bercerita." Alasan apalagi yang harus kubuat pikirku kemudian.

__ADS_1


"Ayo, istirahat dikamar Mama. Temani Mama tidur siang." Akupun tak mampu mengelak, ku temani Nenek sampai ia terlelap tidur dan aku keluar kamar untuk menanyakan apa yang harus aku perbuat kemudian.


Kutemui Pak Adryan diruang keluarga.


"Maaf pak, saya bingung. Apa yang harus saya lakukan? sebenarnya apa yang terjadi pada Nenek?" Tanyaku dengan rasa penuh penasaran.


"Sudahlah, ikuti semua perintahnya" Jawabnya singkat.


"Tapi Pak, waktu menjelang sore, saya harus pulang, Bapak saya sedang dirawat jadi saya harus segera bergegas menjenguk" Ucapku.


"Saya akan bayar berapapun asal kamu mau tinggal lebih lama disini!" Jawabnya sambil menatapku.


"Pak, ini bukan masalah bayaran, saya tidak tahu Bapak itu siapa? mengapa Bapak selalu ada di PT? apa urusan bapak disana? kenapa saya harus disini? Nenek itu siapa? saya disini untuk apa?" Tanyaku kesal.

__ADS_1


"PT Ammar Jaya adalah perusahaan saya, Nenek adalah ibu dari Mama saya dan kamu tetaplah disini, bersikaplah kamu seperti anak Nenek yg telah tiada!" Perintahnya sambil berdiri lalu pergi.


__ADS_2