
Serangkaian proses perceraian telah aku lalui, kini resmi sudah aku menjadi seorang janda cantik dan kaya. Apa aku berniat menikah lagi? tidak! aku sudah tak berminat untuk itu mengingat usiaku yang tak muda lagi.
Putrakupun telah menyelesaikan pendidikannya. Dia kini menjadi seorang dokter disebuah rumah sakit besar, usianya sudah matang untuk menikah. Tapi dia tak pernah mengenal kan ku pada seorang gadis. Haruskah kujodohkan? tentu tidak! aku tak ingin masa lalu ku terulang pada menantuku. Aku biarkan dia menikmati masa masa sendirinya.
Aku melihat perkembangan bisniskupun kian meroket, aku dengar perusahaan tempat dimana aku dan mantan suamiku bertemu sudah tak lagi beroperasi. Sedih rasanya, aku tak bisa menjalankan wasiat nenek untuk membantu Adryan menjaga perusahaan nenek. Tapi sudahlah, itu semua sudah menjadi pilihannya. Aku tak ingin turut campur dalam masalahnya lagi.
Anak anak Rindu sudah semakin besar, si bungsu kini telah menjadi murid di salah satu sekolah dasar. Mereka sering berkunjung kerumahku, menghabiskan waktu bersamaku dan putraku, mereka tumbuh menjadi anak anak yang santun dan jujur seperti ibunya, tak salah aku membawa mereka kemari.
"Rindu, kamu selalu sibuk setiap hari, sanah pergilah jalan jalan siapa tau kamu bertemu seseorang diluar sana." Ucapku.
__ADS_1
"Tidak Bu, aku lebih betah disini." Jawab Rindu.
"Disini cuma ada patung patung berbusana, yang datang juga hanya ibu ibu saja, adapun lelaki yang datang hanya Ammar yang berkunjung melihat lihat bisnis ibunya. Kamu kan masih muda, apa tidak merasa jenuh dengan kesendirian?" Tanyaku penasaran.
"Tidak Bu, melihat anak anak sehat dan bahagia saja sudah lebih dari cukup untukku." Jawab Rindu sambil tersenyum.
Aku melihat wajah Rindu memerah seperti malu, begitupun dengan putra bungsu ku. Ada apa ini?
"Rindu, Ammar Ibu mau ke toilet dulu." Ucapku sambil berlalu karna ingin buang air kecil, namun setelahnya aku tak langsung kembali ketempat Rindu. Kuperhatikan anak dan asistenku dari kejauhan.
__ADS_1
Aku melihat mereka mengobrol malu malu, sudah kuduga mereka pasti saling jatuh cinta. Tapi, apa putra sematawayangku akan ku nikah kan dengan janda beranak tiga? Rindu memang anak yang baik, cantik, muda dan jujur, anak anak nya pun ku yakin akan hidup sebagai generasi yang berkualitas. Lalu bagaimana dengan penilaian orang terhadap anakku? pasti banyak cibiran untuknya. Seorang dokter muda putra dari pengusaha kaya Humaira menikah dengan asisten ibunya yang seorang janda beranak 3?
Tidak! tidak, itu bukan ide yang bagus, aku ingin anakku menikah dengan seorang gadis cantik berpendidikan tinggi.
Aku melalui hari hariku dengan menjalankan segala rutinitas dan kesibukanku. Semakin hari semakin kulihat kedekatan Putra dan asistenku, mereka semakin sering berkomunikasi. Aku selalu melihat wajah bahagia putraku selepas dia berkomunikasi dengan Rindu.
Akhirnya jiwa seorang ibu kembali mengalah, apapun demi kebahagiaan mu nak, hanya kau dan ibuku yang kumiliki kini. Lakukanlah jika itu membuatmu bahagia, akan kutepis segala komentar miring tentang pernikahan kalian nanti, Rindu adalah wanita dan ibu yang baik, jadi apa masalahnya? anak anaknya? pada dasarnya semua orang menikah karna ingin memiliki anak bukan? jadi tak ada alasan jelas bagiku untuk menolaknya.
Asistenku yang kini menjadi menantuku, aku dikaruniai 3 cucu sekaligus, rambutku kian memutih dan kini ku tutup dengan khimar yang lebar dan panjang. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian, orang orang yang aku sayangi, begitupun denganmu Khaula, semoga kelak kita dipertemukan di surgaNya.
__ADS_1