
Setelah mengunjungi rumah Rindu, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah. Aku sangat merindukan suasana rumah. Aku rindu menyirami tanaman dibelakang rumah, aku rindu minum teh hangat buatan asisten rumah tanggaku yang telah bertahun tahun bekerja dirumahku. Kubelikan oleh oleh untuk mereka dan tetangga dekat rumah.
Tak hanya aku yang merindukan mereka, ternyata merekapun merindukanku. Mereka terlihat begitu bahagia melihat kedatanganku dan putraku Ammar.
"Ibu sudah pulang?" Tanya asisten rumah tanggaku.
"Iya Bi, ini untuk Bibi. Yang lainnya dibagikan ya!" Perintahku.
"Baik Bu, Ibu mau teh hangat?"
aku tersenyum dan mengangguk. Aku memang merindukan teh hangat buatannya.
Aku masuk ke kamarku, aku sangat rindu merebahkan diri ditempat ini. Kusandarkan punggungku,kuambil ponselku.Kulihat ada pesan masuk
√ Mah, maaf beberapa hari ini Papah tak memberi kabar.
Isi pesan singkat yang suamiku kirim lewat nomor barunya. Nomor yang tempo hari menelpon namun tak sempat kuangkat.
Ingin sekali kujawab dengan makian, kuluapkan segala rasa kesal yang masih tertahan dalam diri ini. Namun tak bisa kulakukan karna aku ingin dia sendirilah yang mengakui segala perbuatannya, dia yang menjelaskan alasan mengapa dia sembunyikan hal sebesar ini dariku.
√ Iya pah
Kujawab singkat tanpa menanyakan kabarnya karna kini aku sudah tak penasaran lagi akan keberadaan dan kondisinya. Yang aku tau dia sehat dan sedang bahagia.
√ Kenapa Mah? tumben mamah jawab pesan papah singkat? Mamah ga tanya kabar Papah? Mamah ga tanya kemana saja Papah beberapa hari ini?
√ Tidak Pah, Mamah yakin Papah bisa menjaga diri dengan baik disana.
√ Oh, begitu. Mamah mau Papah belikan apa?hari ini papah pulang mah.
√ Tidak usah.
Entahlah, mungkin karna rasa kecewaku yang begitu besar sehingga membuat rasa cintaku kian menipis. Seakan aku tak lagi perduli apa yang akan dia lakukan.
Tiga jam kemudian kudengar suara mobilnya masuk kedalam garasi rumah. Aku yang biasanya berlari menuju pintu dan membukakan pintu sambil menyambutnya kini hanya pura pura tertidur diatas kasur kamar kami. Aku sudah malas dan muak, jangankan ingin menyambut, melihat nya pun akan terasa menyakitkan karena teringat sikapnya tempo hari.
"Mamah sakit?" Dia bertanya sambil memegang dahi dan pipiku. Ternyata dia sudah datang dan langsung masuk kamar.
"Papah kira tadi Mamah yang bukain pintu untuk Papah kaya biasanya?" Ucapnya, kubuka mataku, tepat di hadapanku terlihat wajah itu. Wajah pria yang telah mengukir indah rasa duka dalam diriku.
"Tidak, Mamah sedang ingin istirahat." Jawabku.
"Mamah darimana? ini koper mamah kan?" Kembali dia bertanya.
"Iya.Liburan dengan Ammar ke Pacitan." Aku menjawab singkat.
"Pacitan?" Dia begitu terkejut ketika ku sebutkan nama kota tempatnya pergi menginap kemarin.
"Apa yang Mamah lakukan disana? maksud Papah, setau Papah Mamah ga ada teman dan keluarga disana kan?" Dia begitu penasaran.
"Kami hanya ingin menikmati senja disalah satu pantai disana. Ada yang salah?" Ucapku.
__ADS_1
"Tidak Mah, kenapa Mamah tidak bilang dulu jika akan kesana?" Mungkin hatinya merasa lega karna dia pikir aku tak melihat keberadaannya di pantai itu.
"Tidak Pah, tiba-tiba saja kami ingin kesana, kami merasa ada yang menarik kami untuk berkunjung kesana. Bagaimana mungkin aku menghubungi mu pah nomor hp mu saja sudah beberapa hari ini tak aktif." Jawabku ketus.
"Oh iyah, Papah ganti nomor hp." Jawabnya lagi.
Ya, kau ganti karna tak ingin aku terus menelponmu dan mengganggu acara pertemuanmu dengan istri sirimu itu kan?ingin sekali kutanyakan iti pada suamiku namun kupikir belum saatnya.
"Ammar dimana Mah? sudah kembali ke kosan nya atau masih disini? Papah rindu padanya." Ucapnya.
"Di kamarnya" Jawabku.
"Papah temui dia dulu ya." ucapnya sambil bergegas melangkah menuju kamar putranya. Segera aku bangun dan lari menyusulnya, aku takut putraku tak mampu menahan amarah ketika melihat wajah papahnya, aku khawatir dia terus terbayang kejadian tempo hari.
Namun terlambat, ketika aku keluar kamar suamiku sudah tak ada, mungkin berlari ke kamar putra yang sedang dia rindukan.
Sepertinya suamiku baru saja sampai di kamar putranya dan belum sempat mengucapkan sepatah katapun. Putraku menyadari aku masuk ke kamarnya.Aku memberikan isyarat agar dia tutup mulut dan meredam dulu amarahnya.
"Sayang, Papah sangat merindukanmu. Apa kabarmu? hampir dua bulan kita tidak bertemu kan?" Tanya suamiku.
"Ya Pah. Aku baik" Jawab putraku.
"Kenapa? raut wajahmu tak memperlihatkan bahwa kau baik baik saja?" Tanya suamiku.
"Aku hanya kelelahan. Bisakah aku beristirahat sekarang?" Jawab putraku.
"Tentu." Ucap suamiku dengan rasa kecewa.
Dengan langkah kaki yang tak begitu bersemangat dia kembali ke kamar kami dan merebahkan diri disampingku.
"Mah, ada apa dengan Putra kita?" Dia bertanya padaku.
"Kenapa?" Ucapku.
"Sikapnya aneh, tak sedingin ini biasanya." Ucapnya.
"mungkin dia lelah." Jawabku.
"Selelah apapun dia tak pernah sampai hati mengusir orang secara halus, apalagi padaku, papah nya" Ucapnya kesal.
"Mamah gatau Pah!" Jawabku singkat.
Dia menatap ke arahku dan mulai menyentuh ku. Pedih rasanya walau hanya bersentuhan tangan. Kutepis tangannya agar menjauh dari tubuhku.
"Kenapa Mah? tidakkah kamu rindu aku?" Dia bertanya.
"Aku lelah." Jawabku.
Aku membalik tubuhku membelakanginya seraya menangis diam diam hingga aku terlelap tidur.
Aku tertidur begitu pulas, suasana hotelanapun tak bisa menandingi kenyamanan kamar ini. Aku terbangun ketika adzan magrib. Segera aku mandi dan solat lalu turun untuk makan malam.
__ADS_1
Kulihat suami dan anakku sudah duduk disana. Ditempat kami selalu makan bersama, namun malam ini semuanya nampak berbeda walau tempatnya sama.
"Mamah tidur pulas sekali tadi, jadi Papah kesini lebih dulu, tadinya mau papah bawakan makanan ke kamar." Ucap suamiku.
"Ya, mungkin aku kelelahan." Ucapku.
"Oh ya Mah, Mar, kemana saja kalian selama di Pacitan?" Tanya suamiku padaku dan putra kami.
"Pantai, tempat makan, toko baju di sebrang toko par...." Belum selesai anakku berbicara, aku pura pura tersedak untuk mengalihkan perhatian mereka.
"Mamah kenapa? minum mah." Putraku dengan segera menghampiriku dan memberiku segelas air.
"Gapapa Nak, mamah cuma tersedak." Jawabku.
"Ayo lanjutkan makan."Ucapku.
"Tidak Mah, aku kenyang. Aku kekamar duluan ya." Dia pamit pergi ke kamar.
Aku tau betul perasaanmu nak, aku mengerti hatimu pun tak kalah sakit seperti hatiku ketika melihat papahmu.
"Ammar....Ammar!" Suamiku berteriak memanggilnya namun putranya tak menoleh sedikitpun.
"Sudahlah Pah, mungkin dia sedang ada masalah. Bukankah sebelumnya dia anak yang baik?" Ucapku.
Kami melanjutkan makan, setelah selesai langsung menuju kamar.
"Mah, coba ajak Ammar bicara.ada apa sebenarnya? Mamah juga Papah lihat agak berbeda dari biasanya."
"Nanti Mamah coba bicara, sudah istirahat besok kan Papah berangkat ke PT"
Pagi ini ku siap kan diri untuk mencari lahan strategis untuk kubangun rumah makan.Tentunya, setelah suamiku pergi. Anakku? dia masih butuh waktu untuk memulihkan hatinya. Maka kutahan agar tak berangkat ke kampus nya dulu.Aku khawatir karna emosinya belum stabil.
Aku pulang kerumah sebelum suamiku datang, hari ini pencarian ku tak membuahkan hasil, mungkin akan aku coba dihari esok. Kubersihkan diri lalu berselancar didunia maya, lumayan bisa sedikit mengusir rasa jenuhku sampai sampai aku tak menyadari suamiku sudah duduk di hadapanku.
"Mah, lusa aku ada pekerjaan diluar kota selama seminggu." Bukan pekerjaan Pah, tapi mungkin yang kau maksud adalah liburan. Namun apa mau dikata, akan kucoba untuk tidak mempedulikan urusanmu lagi aku ingin mandiri dulu sebelum berpisah denganmu. Ingin kurintis dulu karirku,sehingga aku tak lagi tergantung masalah biaya hidupku dan anakku padamu.
"Oke" Kusetujui dengan mudah sambil tetap menatap layar ponselku dan pergi menuju kamar.
"Mah, kamu itu kenapa sih? aku salah apa?" Suamiku bertanya padaku.
"Kalau Papah saja tak menyadari kesalahan Papah sendiri, bagaimana dengan orang lain?" Jawabku.
Dia tertunduk seakan menyadari ada hal salah yang dia sembunyikan.
Pagi itu dia berangkat setengah jam lebih awal, entah apa yang akan dia perbuat disana akupun mencoba untuk tak lagi peduli. Aku fokuskan diri kepada tujuanku. Semoga hari ini mendapat lahan strategis.
Di sebuah persimpangan jalan aku bertemu dengan kawan la aku Hadi. Kami satu kelas dulu ketika SMK, dia anak yang pandai dan rajin, kudengar kabarnya sekarang dia sudah sukses dan memiliki beberapa hotel diberbagai kota.
Di sana kami berbincang bincang cukup lama, namun aku mendapatkan hasil dari perbincangan kami. Selain aku mendapat kesempatan membeli lahan kosong strategis miliknya, akupun diperbolehkan ikut mempromosikan produk ku dihotel miliknya.
Aku usahakan semuanya berjalan mulus dan cepat sebelum suamiku kembali. Aku tak ingin dia banyak bertanya soal rencanaku. Aku mengangkat karyawan yang handal di bidang pembuatan makanan yang akan ku jual, tak butuh waktu lama produkkupun segera dikenal karna masalah rasa sudah tak diragukan lagi.
__ADS_1
Setiap hari aku menghabiskan waktuku dengan segala kesibukan baruku dan tetap kembali pulang sebelum suamiku sampai kerumah hingga dia tak curiga.