Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Dua balitaku


__ADS_3

Tiga tahun telah berlalu, kami menjaga dan membesarkan kedua buah hati kami dengan penuh cinta. Pasang surut perekonomian kami tak menyebabkan berkurangnya rasa syukur kami. Putriku tumbuh menjadi anak yang cantik, ramah, baik dan berjiwa sosial tinggi. Sementara putraku Ammar, dia tumbuh menjadi anak yang suka bermain diluar ruangan, menyukai hal hal alami, senang membantu namun serius, tak bisa diajak bercanda.


Hari ini, kami akan pergi berkunjung ke rumah ibu dan bapak dikampung. Menginap selama dua malam disana. Perjalanan kami begitu menyenangkan, sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan hijau pegunungan yang masih asri dan tak banyak polusi.


"Buka kacanya Kak, hirup. Udara disini masih sangat segar" titah bungsuku pada kakaknya.


"Iya Dek, masih banyak pepohonan rindang pula disini. Mah, apa rumah Nenek masih jauh?" Tanya putriku.


"Mungkin sepuluh menit lagi kita tiba Sayang." Jawabku, sambil tersenyum pada putriku.


Setibanya dirumah Kakek dan Nenek kami disambut dengan baik dan penuh keramahan, banyak makanan dan buah buahan disuguhkan. Banyak pula tetangga berdatangan untuk sekedar mengucapkan selamat datang dan menyapa.


"Cucu Kakek tambah ganteng dan cantik." Ucap kakek sambil merangkul kedua cucunya.


"Kek, Ammar mau lihat kebun Kakek." Ucap putraku penuh semangat.


"Khaula juga Kek, Khaula ingin belajar berkebun." Ucap putriku antusias.

__ADS_1


"Eh, istirahat dulu anak anak. Nanti sore kita pergi ke kebun bersama. Ada beberapa buah labu yang matang, kita ambil nanti ya." Ajak Nenek. Namun begitulah anak anak, sulit disuruh berdiam diri untuk istirahat. Ammar berlari kesana kemari sedangkan Khaula, seperti biasa ketika menginjakkan kaki di suatu tempat dia selalu melihat keadaan sekitar.


"Kamu sedang apa?" Tanya Khaula kepada seorang anak perempuan seusianya yang sedang menghapus buku lembar demi lembar dihapus semua isinya.


"Aku sedang menghapus tulisanku." Jawabnya dengan raut wajah sedih tak berhenti menggerakkan tangannya yang sedang menghapus kertas.


"Mengapa kau hapus? mungkin bisa kau baca kembali suatu saat nanti?" Tanya Khaula penasaran.


"Jika tak dihapus bagaimana mungkin aku bisa menulis PR baruku? aku hanya memiliki satu buku, setiap penuh selalu kuhapus agar bisa aku pergunakan lagi." Jawab anak itu.


Khaula berlari menuju mobil. Dia selalu menaruh beberapa stok buku di bagasi mobil papah nya, karena papah nya selalu mengantar jemput sekolah, jadi jika diperlukan tak lagi harus membeli karna sudah tersedia stok alat tulis dan buku dimobil. Khaula senang menulis cerita maka buku harus selalu tersedia.


"Ini untukmu." Ucap putriku.


"Banyak sekali, boleh aku bagi dengan temanku?" Tanya anak itu.


"Silahkan." Jawab Khaula.

__ADS_1


"Terimakasih, kamu cucu nenek Ratih dari kota ya? bajumu bagus sekali." Anak itu kembali bertanya sambil memperhatikan baju yang Khaula pakai.


"Iya aku cucu nenek Ratih. Namaku Khaula. Kamu siapa? dimana ayah dan ibumu?" Tanya Khaula.


"Aku Rita, Ayah dan Ibuku sedang dikebun Nenek. Mereka bekerja ditempat Nenek." Jawab Rita.


"Apa Nenek tau kalau kamu kekurangan buku?" Tanya putriku lagi.


"Tidak, Ibu bilang mereka sudah banyak menyusahkan jadi aku tidak boleh meminta apapun lagi." Jawab Rita sambil tertunduk.


"Baiklah, aku pamit pulang kerumah Nenek ya. Sore ini aku mau melihat kebun nenek. Aku pulang ya Rita. Assalamu'alaikum." Pamit Khaula.


"Waalaikumsalam." Jawab Rita.


Sesampainya dirumah Nenek, Khaula menceritakan apa yang terjadi. Khaula menghampiri papanya dan membisikkan sesuatu.


"Papa, potonglah setengah dari uang jajanku, belikan lah buku dan alat tulis, lalu kirimkan kerumah Nenek, bilang ini kiriman buku dan alat tulis untuk Rita dan kawan kawannya." Bisik putri kami.

__ADS_1


Adryan sudah begitu paham akan karakter putrinya, suamiku menyetujui permintaan Khaula.


Sore hari pun tiba. Kedua anakku pergi ke kebun bersama Kakek dan Neneknya. Mereka bermain di kebun hingga menjelang magrib. Mereka diajarkan menanam bawang,oleh Nenek.


__ADS_2