
Aku menjalani hari hariku sedikit lebih bahagia, walau aku tak bisa hidup dengan lelaki pilihanku tp aku masih bisa berbagi raga dengan darah dagingku. Aku tak pernah lupa meminum vitamin dan memakan makanan yang bergizi demi anak yang dokter bilang berjenis kelamin perempuan.
Usia kandunganku sudah menginjak 9 bulan, segala keperluan putriku sudah tersedia dengan lengkap. Suamiku? dia tetap teguh dengan sikap dinginnya, tak pernah sekalipun mengusap apalagi mengajak bicara bayi yang aku kandung layaknya calon Bapak lain.
Malam itu, tiba tiba aku terbangun karna haus. Kulihat jam menunjukan pukul 02.45 dini hari. Akupun bergegas menuju dapur. Namun, karna kurang hati-hati kakiku tersandung bagian bawah kursi dapur dan aku terjatuh. Sontak aku berteriak kencang karna perutku terasa begitu sakit.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi, ketika kubuka mata aku merasa tubuhku begitu kedinginan, menggigil rasanya. Kuraba perutku yang tak lagi membuncit, aku kaget dimana anakku? apa yang terjadi? ingin sekali berteriak namun apa daya, untuk bicara pun aku belum mampu.
"Kamu terjatuh di dapur, untuk menyelamatkan kamu dan anak kita terpaksa kamu harus operasi, anak kita perempuan." Hanya itu yang terucap dari mulut suamiku, tak ada sedikitpun rasa khawatir dimatanya.
Setelah keadaanku membaik ,akupun diperbolehkan pulang, dirumah aku tak kekurangan suatu apapun. Akupun tak pernah merasa kerepotan karna suamiku membayar dua suster untuk menjaga anakku. Putri kami begitu cantik, raut wajahnya mirip sekali dengan Nenek, wanita yang paling suamiku cintai. Mungkin semua cintanya telah diberikan pada Nenek sehingga tak ada celah sedikitpun untukku. Akupun tak ingin mempermasalahkannya, yang terpenting hidupku, anakku dan orang tuaku terjamin, tak lagi kesusahan.
__ADS_1
Dokter memutuskan agar Khaula dirawat dan menjalankan serangkaian tes medis. Kamipun menyetujui, kami ingin Khaula segera sehat dan pulang kerumah. Ini kedua kalinya aku melihat kesedihan dimata suamiku. Pertama, ketika nenek meninggal dan kedua, saat ini, saat putrinya terbaring lemas diruang VVIP rumah sakit.
Setelah serangkaian tes medis dilakukan diambil kesimpulan bahwa putri kami memiliki penyakit kelainan darah. Terasa gelap di siang hari, tulang dipatahkan serentak dan hati tercabik taring. Mengapa putriku? apa yang salah? makanan bergizi selalu kusantap, vitamin mahal tak pernah lupa aku minum. Senam hamil rutin kujalani, tapi mengapa? akhirnya aku sadar satu hal terpenting yang selalu aku lupakan yaitu doa.
Aku tak pernah kekurangan fasilitas selama menjadi nyonya dirumah ini, tapi aku tak pernah menyebut nama suamiku dalam doa. Tak pernah meminta sang pembolak balik hati manusia untuk membalikkan hati suamiku agar bisa mencintaiku, aku tak kekurangan rasa nyaman selama mengandung, tapi akupun tak pernah mendoakan agar anak yang aku kandung sehat.
__ADS_1
Kami berdua merenung, tak ada satu patah katapun terucap dari mulut kami. Kami saling terdiam beberapa jam, lalu kami saling menatap dan sama sama ingin mengungkapkan apa yang kami rasa. Kami tak mampu membendungnya masing-masing. Kami harus hilangkan ego dan belajar menjadi orang tua yang lebih baik demi Khaula.