
Kami putuskan untuk singgah ke rumah makan disebrang jalan. Mencoba untuk sekedar menenangkan hati dengan meminum segelas teh dingin.
"Mamah baik baik saja?" Tanya putraku.
Kugenggam tangan bungsuku lalu mengangguk.
"Mah, kita harus segera mencari penginapan disekitar sini, hari sudah semakin sore." Ucapnya lagi.
Rasanya tubuhku memang sangat lelah, ingin sekali kurebahkan tubuh ini diatas kasur yang empuk. Kami bersantai sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Bungsuku tak banyak bertanya seperti biasanya, tatapannya menunjukkan amarah yang masih ia pendam. Kamipun segera melanjutkan perjalanan menuju salah satu hotel didekat sini. Hotel yang bisa dibilang lumayan megah dan berfasilitas lengkap. Untung saja di zaman ini semua sudah canggih. Kami tak tau daerah kelahiran siapa ini,berada dijalan apa kami, menuju kearah mana pun kami hanya mengandalkan map di ponsel.
ketika menyusuri jalan menuju hotel,
"Papah!" Ucapku.
"Mana Mah?" Tanya putraku penasaran.
"Itu Papah kan?" Tanyaku untuk meyakinkan.
"Iya Mah itu Papah!" Putraku bersiap keluar mobil sepertinya ingin segera menyergap sang idola yang telah membuatnya kecewa namun kutahan sekuat tenaga.
"Tidak Ammar! jangan sekarang. Kita cari informasi lebih banyak dulu, Pak supir ikuti mereka dari belakang. Jangan sampai mereka curiga." Perintahku.
__ADS_1
Terlihat seorang lelaki yang teramat kucintai berjalan dengan dua orang wanita. Dugaanku merekalah Riani dan Rani. Kakak beradik keponakan pemilik toko tadi.
Suamiku terlihat begitu bahagia, berkali kali ia tersenyum bahkan tertawa. Ah mungkin inilah mengapa dia tak mengabariku, dia tak mengingat ku karna sedang bahagia.
"Mamah gapapa?" Tanya putraku meyakinkan.
"Gapapa Sayang, Mamah baik baik saja. Jawabku, aku genggam tangan bungsuku seraya meyakinkan bahwa aku tak apa apa.Terlihat rasa kecewa yang begitu besar dalam tatapan putraku.
"Biar bagaimanapun dia Ayahmu Nak, kita cari dulu kebenarannya. Redam dulu emosinya ya." Ucapku.
"Mah, aku hanya mengkhawatirkan Mamah. Selama ini kesusahan apapun yang kualami di perantauan tak pernah kiceritakan pada Mamah, aku tak ingin wanita yang paling kucintai terluka. Cukup aku kehilangan kakak,aku tak ingin mamah terluka aku takut mamah akan kecewa lalu pergi." Jawabnya sambil menatapku.
"Lihat Mamah, apa Mamah terlihat seperti wanita yang lemah?" Ucapku.
"Tidak Mah, Mamah wanita tertangguh yang akan selalu aku sayang." Kawan putraku.
Kupeluk remajaku, putra satu satunya yang kumiliki. Aku berharap ia tak kalap melihat sikap papah nya.
"Bu, Bapak masuk ke Hotel yang akan kita tuju." Ucap supirku memberitahu.
"Masuk Pak, Bapak langsung parkir kami turun disini. Nanti akan saya pesankan kamar untuk Bapak juga." Ucapku.
Kamipun turun dan memesan kamar.
__ADS_1
"Mah, aku saja yang mendaftar. Mamah tunggu saja di Lobby." Ucap Ammar.
Kupanggil salah satu cleaning servis yang baru saja menyelesaikan tugasnya membersihkan kamar.
"Pak, Maaf. Saya ada janji dengan seseorang. Bapak pernah lihat orang ini? kami membuat janji untuk bertemu di hotel ini, tapi hpku mati, sepertinya baterai ponselnya habis." Aku membujuknya agar memberi informasi.
"Ya, tadi pagi saya membersihkan kamarnya Bapak ini bu. Kamar 204." Jawabnya.
Kuselipkan dua lembar uang seratus ribu kedalam sakunya. Aku mendapat informasi yang takkan kudapatkan dari receptionist.
"Mamah sedang apa disini? aku mencari Mamah di Lobby tapi tak ada." Tanya Ammar padaku.
"Tadi Mamah menanyakan kamar Papah ke salah satu cleaning servis disini. Dia bilang Papah menempati kamar no 204. Kita dapat no berapa?" Tanyaku pada putraku.
"220 Mah, alhamdulillah jauh." Jawabnya lega.
"Kenapa nak? bukankah lebih bagus jika dekat? dengan mudah kita bisa mengawasi mereka." Tanyaku heran.
"Lalu bagaimana dengan perasaan mamah?" Putraku balik bertanya padaku.
"Mamah baik baik saja Sayang." Jawabku meyakinkan.
"Mah, melihat Papah keluar masuk kamar dalam sebuah hotel bersama wanita lain akan begitu menorehkan luka yang reamat pedih untuk Mamah, aku tau Mamah kuat. Tapi aku tak ingin mamah mendapat terlalu banyak luka!" Jawab anakku.
__ADS_1
"Putraku tumbuh menjadi remaja yang begitu peka ternyata." Aku acak rambutnya dan mengajaknya masuk ke kamar yang telah dipesan.Kuperintahkan pada supir kami agar tidak keluar kamar dan segala kebutuhannya akan diantarkan kekamar.
Malam ini kami hanya ingin beristirahat melepas penat agar esok dapat melaksanakan penyelidikan dengan keadaan tubuh dan hati yang lebih siap.