
Kami masih memiliki jatah liburan dikampung satu hari lagi. Pagi ini kami jalan pagi bersama Kakek dan Nenek menyusuri kampung yang masih begitu asri, tidak banyak kendaraan yang lewat.
Tiba-tiba putri sulungku mengeluarkan darah dari hidung, sontak itu membuatku terkejut dan panik.
"Tidak apa apa Mah, aku hanya panas dalam mungkin. Kawanku juga sering begini." Ucapnya agar aku tak khawatir.
Aku bersihkan darahnya, entah mengapa ada pilu yang mendera seakan mengatakan bahwa semua tidak sedang baik baik saja. Sesampainya dirumah nenek sulungku langsung mengambil buku gambar beserta pensil dan krayonnya. Dia begitu asyik menggambar sesuatu seperti biasanya. Aku biarkan dia menyelesaikan gambarnya tanpa ingin mengganggu konsentrasinya.
Aku alihkan perhatianku dengan mencari dimana bungsuku. Aku panggil tak kunjung menjawab. Ketika kutanya ibu, ternyata ibu bilang dia ikut kakek dan papahnya pergi memancing.
Aku kembali melihat ke arah sulungku dari kejauhan. Entah perasaan apa ini, begitu getir hatiku ketika memandangnya. Seakan ada sesuatu tapi apa?
"Sedang menggambar apa?" Tanyaku.
__ADS_1
"Mamah, Papah dan Adik." Jawabnya singkat.
"Kenapa Kakak tak ada." Tanyaku heran.
"Kakak melihat dari kejauhan Mah." Jawab putriku.
"Mana bisa begitu? seharusnya Kakak juga ada dalam gambar." Ucapku.
"Kakak hanya ingin memperhatikan dari jauh saja Mah. Nanti mau Kakak pajang diruang tengah ya Mah. Ini kan karya Kakak. Bagus kan mah?" Ucapnya sambil memperlihatkan hasil karyanya.
"Oh ya Ma, aku punya teman disini, namanya Rita. Aku minta Papah memotong uang jajanku lalu dibelikan buku dan alat tulis untuk Rita dan kawan kawannya tapi jika uang jajanku utuh belikan saja semua lalu bagikan untuk anak kampung sebelah, setiap melewati kampung itu, aku selalu berpapasan dengan anak anak yang memakai pakaian lusuh. Disekolah ada Kakek penjual mie ayam dan Nenek penjual kripik singkong yang selalu aku beli dagangannya. Mah, kapan kapan Mamah sama Papah borong ya dagangannya mereka, soalnya si Nenek harus membiayai cucunya yang sakit dan Kakek hanya tinggal seorang diri." Putriku menjelaskan.
Entah mengapa, bukannya bahagia hatiku malah terasa tersayat.
__ADS_1
"Kenapa sayang? kenapa tidak kamu sendiri yang belikan mereka pakaian baru? buku buku, alat tulis dan memborong dagangan?" Tanyaku heran.
"Tidak Mah, Mamah sama Papah sajalah. Baju ga usah beli mah, baju bajuku masih bagus dan layak pakai. Bisa mamah kumpulkan dan berikan pada mereka." Ucapnya lagi.
"Lalu kamu bagaimana? kalau baju bajumu mamah berikan pada mereka, baju apa yang akan kamu pakai?" Tanyaku.
Dia hanya tersenyum dan melanjutkan menyelesaikan gambarnya. Aku hanya diam termenung disampingnya. Hatiku mendadak tak tenang.
"Mah, apa aku pernah menyusahkan Mamah?" Dia bertanya padaku.
"Tidak pernah Nak." Jawabku singkat.
"Maafkan aku ya Mah, terimakasih Mamah telah menjagaku. Tak pernah memarahiku seperti Mmamah teman temanku yang lain, mamah berikan aku pakaian yang layak,makanan bergizi. Semoga Allah membalas kebaikan mamah dan papah, aamiin." Ucapnya sambil dia sandarkan kepalanya dipangkuanku, kubelai rambutnya yang ikal sampai terlelap tidur.
__ADS_1
Kupandangi wajahnya, semakin ku pandang semakin perih hati ini.
"Semoga tak ada satupun hal buruk yang terjadi padamu Nak, semoga kau selalu sehat dimanapun kau berada. Semoga firasat ku ini salah. Aku sangat menyayangimu. Kamu lah alasan terbesar dibalik hidupnya rasa cinta diantara Mamah dan Papah. Karna kamu, mamah mulai mencoba belajar hal hal baru, membulatkan tekad. Kini mamah berhasil meraih cinta Papah. Namun, mengapa hati ini pilu ketika memandangmu?