Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Pertemuan Kami


__ADS_3

Setelah berhari hari disini seperti biasa dia memutuskan untuk kembali menemui wanita itu. Dia bilang tak bisa memutuskan berapa lama, artinya bisa saja dia pilang tiba tiba, akupun sudah tak peduli dia mau pulang lagi atau tidak.


Aku melihat semakin hari perkembangan perusahaan semakin memburuk, entahlah mungkin karna kurangnya pengawasan suamiku yang kini disibukkan bulak balik keluar kota untuk menemui selirnya itu. Untuk apa aku perduli? itu urusannya, bangkrut sekalipun tak ada pengaruh apapun untukku!


Hampir satu bulan aku tak bertemu dengan bungsuku, aku begitu merindukannya.


"Halo Nak, kamu ada waktu luang?" Aku menelponnya karna rindu.


"Untuk sekarang aku masih agak sibuk Mah, lusa mungkin. Aku berencana menemui Mamah." Jawab bungsuku.


"Jangan temui mamah, mamah yang akan menjemputmu." Ucapku.


"Mau kemana kita Mah?" Dia yang selalu bertanya kemana setiap kali aku ajak ke suatu tempat.


"Tempat rahasia. Bersiaplah lusa Mamah jemput ya, bawa beberapa bajumu kita akan menginap selama dua malam." Ucapku.


"Baik mah." Jawabnya.


Lalu kutelpon ibuku dan kukatakan hal yang sama padanya. Aku berencana ingin mengajak kedua orang yang sangat aku sayang berlibur ketempat yang telah aku pilih sejak lama. Aku ingin mengajak mereka camping. Aku tau usia ibu tak lagi muda, namun kebugaran tubuhnya masih terjaga karna dikampung dia terbiasa berjalan jauh dan mengerjakan banyak hal.


Aku ingi mengajak Rindu dan anak anaknya,mereka pasti senang. Tapi jika Rindu ku ajak, bagaimana dengan butikku? aku tak bisa menyerahkannya pada orang lain. Sudahlah ku ajak Rindu lain waktu saja.


Tibalah hari dimana aku akan menjemput ibu dan anakku. Aku jemput ibu terlebih dahulu agar ketika menjemput Ammar, dia merasa terkejut dan senang melihat neneknya yang sudah sejak lama dia rindukan.


Ibu sudah siap dengan barang bawaannya yang supir kami masukkan kedalam bagasi mobil, kini giliran kami menjemput Ammar. Perjalanan dari rumah kami kerumah ibu lalu ke kosan Ammar cukup jauh dan melelahkan, tapi tak apa aku pikir semua lelah kami akan terbayar disana.


"Hai Sayang, sehat kamu Nak?" Aku turun dari mobil kupeluk anakku dan kuputar tubuhnya untuk memastikan.


"Mamah, sehat Mah sehat." Jawabnya sambil tertawa.


"Ayo mah kita berangkat aku tak sabar mamah akan membawaku kemana, pasti ketempat seru seperti sebelumnya." Ucapnya.


"Tunggu dulu, Mamah punya kejutan. Kamu masuk mobil merem ya!" Perintahku.


"Merem Mah? kejedot nanti aku." Ucapnya sambil tertawa.


"Kamu ini, tidaklah kan ada Mamah, sudah nurut saja!" Aku tuntun anakku masuk ke dalam mobil.


"Baiklah baiklah." Jawabnya pasrah.


Aku tuntun putraku masuk kedalam mobil, kududukkan disamping ibuku.


"Sudah, buka matamu. Lihat ke sebelah kirimu." Perintahku.


Putraku membuka mata dan langsung menengok ke arah kiri.


"Nenek?" Ucapnya gembira, dia memeluk tubuh ibuku dan mengguncangnya keras karna senang.


"Aduh Ammar, tulang Nenek remuk ini, kencang sekali kau goncang tubuh Nenek! kau tau? Nenek lelah menempuh perjalanan untuk menjemputmu, kita harus masih melanjutkan perjalanan menuju tempat yang mamahmu janjikan. Aduh, badan Nenek sakit semua ini." Ucap Ibu.


"Maaf maaf Nek, haha aku begitu senang melihat Nenek disini mana mana yang sakit, sini aku pijit Nek." Ucap anakku merayu.


Aku bahagia melihat mereka berdua yang selalu bercanda saat berjumpa. Anakku tumbuh sebagai anak yang serius dan hanya dengan nenek nya lah dia mau bercanda bahkan dengan papahnyapun dia tak pernah berminat membicarakan sebuah lelucon.

__ADS_1


"Sudah sudah, ayo kita berangkat" Ucapku, aku duduk disamping pak supir, aku biarkan mereka berdua melepas rindu yang terpendam beberapa bulan ini.


Kami melanjutkan perjalanan menuju pegunungan.


"Mah, bukannya ini tempat camping ya?" Tanya Ammar, tak butuh waktu lama untuk putraku menebak dimana kita akan menghabiskan waktu.


"Mah, kita akan camping disini Mah?" Tanya Ammar lagi.


"Iyalah.." Jawabku.


"Mamah memang keren, selalu tau apa yang aku butuhkan. Tapi tunggu, Mamah tidak salah? Mamah ajak Nenek camping?" Ucap putraku meledek neneknya.


"Memangnya kenapa? Nenek masih bugar dan kuat! apa masalahmu wahai anak muda?" Jawab ibu dengan nada mengejek cucunya.


"Haha, jangan minta digendong ya Nek malu tuh sama Pak Supir." Ucap putraku.


"Enak saja, paling kamu tuh yang selalu minta berhenti untuk istirahat." Ucap Ibu, membela diri.


"Sudah sudah! kalian ini, kalau bertemu pasti begini. Ayo sudah mamah pesankan tenda disebelah sana." Ucapku sambil mengajak Ibu dan Ammar menuju salah satu tenda.


Kami sungguh menikmati liburan dua hari kami disini, tanpa duka ku bawa, tanpa masalah apapun kuingat, yang ada hanya rasa bahagia, begitupun dengan ibu dan anakku. Aku tak pernah melihat mereka sebahagia ini.


Sebelum pulang kami menyempatkan diri pergi ke tempat makan khas pegunungan itu. Udara dingin dan keindahan alamnya begitu memukau.


Kami menyantap hidangan sup hangat, terasa sangat nikmat dan lezat.


"Tunggu disini ya, Nenek mau ambil sup lagi." Ucap Nenek sambil tersipu malu.


"Enak saja! kamu itu terus saja meledek Nenek! sudah ah nenek mau tambah lagi supnya" Ucap ibuku sambil berlalu. Kami berdua tertawa melihat sikapnya. Namun tiba tiba...


"Adryan? sedang apa kamu disini? siapa wanita ini?" Tanya nenek sambil menunjuk seorang wanita yang duduk di samping suamiku.


Semua pengunjung menatap ke arah ibu dan sepasang sejoli yang sedang menyantap sup sama seperti kami. Termasuk salah seorang laki laki berpakaian formal yang beberapa menit lalu menghabiskan waktu untuk membicarakan bisnis dengan suamiku.


Rupanya suamiku ada meeting disini dan membawa serta selirnya, mungkin karna takut wanita itu kembali bertemu dengan laki laki lain, lalu dia putuskan untuk dibawa serta saat dia bekerja.


"Ibu? Ibu kenapa ada disini? dengan siapa Ibu? dengan siapa Ibu kesini?" Dia bertanya sambil menengok wajah wajah pengunjung dan akhirnya tertuju padaku dan putranya.


"Mamah, Ammar...kalian..." Ucapnya kaget.


Mungkin sudah saatnya aku mengambil keputusan karna sudah terlalu lama kubiarkan, saatnya pula aku mendapat jawaban atas pertanyaan ku selama ini namun yang aku sesalkan mengapa ibu harus turut menyaksikan kejadian pilu ini. Aku hampiri mereka dengan rasa penuh ketegaran.


"Kenapa Pah? kamu kaget melihat kami?" Tanyaku.


"Kenapa kamu ada disini? apa kamu mengikutiku?" Dia bertanya seakan aku mengikutinya.


"Untuk apa aku mengikutimu Pah? aku saja sudah tak begitu mempedulikanmu lalu apa gunanya aku mengikutimu? bukankah kau sudah memiliki buntut baru yang akan mengikuti kemanapun kau pergi sekarang?" Jawabku.


"Apa maksudmu Mah?" Dia kembali bertanya.


"Apa maksudku? seharusnya aku yang bertanya apa maksudmu Pah? kamu selalu bilang pergi untuk pertemuan bisnis, bisnis apa? bisnis bermain wanita? bisnis kepuasan pribadimu? bisnis menanam banyak kebohongan pada anak istrimu? kamu pikir apa yang membuat sikap Ammarku berubah padamu? dia tau, kami melihat dengan mata kepala kami sendiri segala kebusukanmu!" Jawabku puas.


"Kebusukan apa Mah? bahkan kami belum tau dia siapa?" Dia mencoba membela diri.

__ADS_1


"Dia istri sirimu Pah! benar kan aku? dan anak yang dia kandung itu hasil buah cinta busuk bercampur kebohongan kalian, kebahagiaan kalian diatas kepedihan ku kan?" Jawabku kesal.


Suamiku hanya tertunduk diam, begitupun dengan wanita itu.


"Kamu tau kan suamiku sudah beristri? kenapa masih saja kamu mau dia nikahi? berapa? sebutkan berapa harga yang harus kubayar untuk membeli harga dirimu? kau begitu terlihat murahan saat ini." Aku puas mengejeknya!


"Cukup Mah cukup! ini bukan salahnya. Aku yang membujuknya agar mau aku nikahi!" Suamiku mencoba membela wanita itu.


"Jika dia punya sedikit saja harga diri, dia takkan mau menjadi duri dalam rumah tangga seseorang!" Ucapku.


"Cukup! aku mau dinikahi karna aku mencintai suamimu! apa aku salah? dulu kami sangat dekat, kami hampir saja menikah lalu tiba tiba kamu datang merusak semuanya. Aku baru saja ingin mencoba mengambil simpati nenek agar mau memberi restu, lalu kamu datang dengan wajahmu itu, wajah yang membuat Nenek teringat pada anaknya dan langsung menyuruh kekasihku menikahimu! kau tau bagaimana perasaanku saat itu? sakit! itulah mengapa selama kau mengandung putrimu suamimu tak begitu memperhatikan mu karna perhatiannya masih tercurah untukku! untukku yang terluka karna kekecewaanku terhadap keputusannya menikahimu!" Ucap wanita itu.


"Salah? kau saja tak paham antara salah dan benar. Jelas salah! coba kau posisikan diri sebagai aku. Salahkah aku yang memiliki wajah persis sama dengan Ibu dari suamiku? salahku apa? aku harus hidup bertahun tahun diatas keterpaksaan yang tak bisa aku ungkapkan? mencintai seseorang yang kupikir mencintaiku juga dengan tulus tapi saat kenyataan pahit yang kuterima masih harus kupendam sampai perutmu membuncit? aku mengetahui hubungan kalian sejak awal. Pah, bisa kamu bayangkan sepedih apa hatiku selama ini? sebesar apa rasa kecewa putramu padamu?pada orang yang begitu dia idolakan? Pah, lihat aku! dimana letak kesalahanku Pah? kenapa aku terlibat dalam masalalumu? kenapa harus aku yang menanggung luka?" Aku keluarkan segala beban yang aku pendam selama ini.


"Maafkan Papah Mah." Suamiku hanya mampu mengucapkan kata maaf.


"Sudah lama aku memaafkanmu Pah, sudah terbiasa pula aku hidup dalam kepedihan yang suami sendiri ku ciptakan! sudah saatnya kita sama sama membenahi diri pah." Jawabku.


"Maksud Mamah apa?" Dia menanyakan maksud ucapan ku.


"Seperti yang waktu itu Mamah katakan, Mamah ingin kita berpisah!" Jawabku tegas.


"Haha, Mamah ingin berpisah sekarang?sebelum sempat Mamah ambil semua aset Papah? bagaimana mungkin Mamah bisa bertahan hidup?" Ucap suamiku sambil tertawa.


"Adryan! aku seorang Humaira, putri dari wanita luar biasa yang mendidikku dengan sempurna! aku tak pernah dididik dengan mental maling yang hanya bisa merebut hak seseorang, memberi duka mendalam dan tak mempedulikan masalah kehalalan dan keberkahan hidup! aku wanita mandiri yang memiliki banyak bisnis, bahkan bisnismu yang kini sedang koyak tak ada apa apanya dibanding dengan bisnisku yang semakin hari kian meroket kesuksesannya." Aku membicarakan fakta yang sedang terjadi.


"Bisnis apa yang kamu bicarakan? butik kecil di persimpangan jalan itu?" Dia masih mengejekku.


"Tepatnya butik itu adalah cabang ke 11 yang kubuka! kau tau? aku sudah membuka banyak cabang kuliner dan butik busana. Ya tentu kau tak tau karna kau begitu di sibuk kan dengan wanita yang minim harga diri ini!" Jawabku.


"Papah, aku bahkan malu melihatmu sekarang, apapun sikapmu kau tetap bapakku. Papah, apa ketika Papah menyentuh perutnya Papah tak teringat pada Kakak Khaula? Kakak yang tak pernah papah sentuh. Aku pernah mendengar Mamah bercerita sambil menangis pada kawannya, semua kenangan indah dan pilu kudengar saat mamah menelpon. Papah, selama ini Papah lah pacuan hidupku. Aku ingin menjadi lelaki sebaik Papah,sesukses Papah. Tapi apa yang kulihat beberapa bulan lalu di klinik itu membuat hatiku hancur seketika pah" Ucap putraku.


"Dengarkan Papah Nak, Papah bisa jelaskan." Ucap suamiku membela diri.


"Aku tau Pah, alasan Papah karna cinta kan? lalu apa yang Papah perbuat selama ini? dimana cinta Papah untuk Mamah? Papah terlihat begitu hangat dan romantis juga penuh perhatian pada Mamah, apa semua itu kepalsuan yang Papah buat untuk menutupi kesalahan Papah?" Tanya Ammar.


"Maafkan Papah Nak ,rasa ini tak bisa Papah tahan. Semenjak kamu lahir Papah selalu mencoba untuk menghilangkan dan melupakannya tapi Papah tak bisa." Ucap suamiku berusaha jujur.


"Sudah cukup Pah! Aku yakin hati Mamah sudah tak sakit lagi melihat kalian. Karna Mamah sudah terbiasa menelan rasa sakit yang Papah buat, tapi ada Nenekku disini. Nenek tak pernah tau apa masalah kalian sebelumnya. Minta maaflah pada mertua dan istrimu pah, bukankah dari awal papah yang meminta kehadiran Mamah dirumah kepada Bapak dan Ibu mertua Papah? sekarang ibu mertua Papah ada dihadapan Papah begitupun dengan wanita tegar dan setia yang telah berpuluh tahun menemani Papah dan selalu bersabar atas segala kebohongan yang Papah buat." Ucap putraku.


Kulihat netra suamiku mengembun, lalu menitikkan beberapa tetes air mata yang kutau itu tulus.


"Maafkan aku Mah, maafkan aku Bu dan maafkan Papah nak. Papah malu pada kalian, tak seharusnya papah begini. Kamu istri terbaik yang pernah kumiliki, entah cintaku palsu atau tidak tapi faktanya aku tak bisa berlama lama jauh darimu, selalu ada rindu menyusup kedalam hati, namun cinta buta dan egoku berhasil menepis rasa itu. Maafkan Papah Mah. Terimakasih Bu, telah ibu percayakan wanita hebat ini untuk aku jaga, maafkan aku yang telah lalai menjaganya, yang telah menyia-nyiakan bahkan melukai hatinya berkali kali dengan kebohonganku. Papah minta maaf Nak, karna telah menjadi sosok yang gagal di hadapanmu hari ini. Tapi percayalah, Papah sangat menyayangimu dan berharap tidak ada rasa benci dalam hatimu untuk Papah" Ucapnya sambil tertunduk menyesali segala kebodohannya yang bersedia terjebak kedalam kisah masa lalu nya.


"Sudah, Ibu mamaafkanmu Adryan, Ibu tau putri Ibu wanita hebat. Dia bisa dengan mudah menyembuhkan luka hatinya, dia wanita yang kuat! sekarang jaga saja istri dan calon anakmu, mereka pasti jauh lebih membutuhkan kehadiranmu saat ini." Ucap ibu.


"Biar perpisahan kita aku yang mengurus, pak Adryan. Bermanjalah kamu dengan mantan suamiku dengan leluasa!" Ucapku sambil berlalu.


Kami bertiga langsung menuju kasir untuk membayar sup ternikmat yang pernah kami cicipi lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Aku tak peduli apa yang pengunjung lain pikirkan, akupun tak ingin memikirkan apa yang suamiku rasakan.


Lega rasanya, tak ada lagi kebohongan dan dusta, tak ada lagi pendaman rasa sakit yang menumpuk setiap harinya, kamipun pergieninggalkan tempat itu dengan penuh rasa syukur karna telah terbongkar sebuah kebohongan besar dan aku mendapatkan jawaban yang ingin kudengar disaat yang tepat.


Sederet kata kata penyemangat selalu terucap bergantian dari mulut ibu dan anakku walau aku tau merekapun terluka. Tapi kami berusaha mengubah luka itu menjadi saat saat bahagia dalam perjalanan kami menuju rumah, rumah yang selama ini kuhuni, banyak kenangan indah ku disana terutama kenangan ku bersama Khaula namun kini aku pulang hanya untuk sekedar berkemas dan segera pindah ke rumah baruku yang baru saja selesai dibangun minggu lalu.

__ADS_1


__ADS_2