
Setelah selesai makan malam, hpku berbunyi. Kulihat ibu menelponku, aku berharap ibu memberiku kabar baik lagi.
"Halo Bu, ada kabar apa?" Tanyaku penasaran.
"Iya Nak, Ibu mau sampaikan kabar baik, dokter bilang keadaan Khaula berangsur membaik, kini dia sudah bisa kasih ibu sama bapak senyuman lagi." Jawab ibu.
Betapa bahagia kami mendengarnya. Ingin rasanya aku pergi kesana memeluk tubuh gempalnya. Sebelum pulang dari rumah sakit suamiku sudah memasrahkan tindakan apapun lakukanlah jika demi kebaikan anak kami, maka dokter melakukan tindakan apapun dengan cepat tanpa minta persetujuan lagi.
Pagi ini suamiku bersiap pergi mengecek keadaan perusahaan lalu pergi kerumah sakit menjenguk putri kami. Sementara aku masih harus banyak istirahat dirumah menjaga diri dan kandunganku.
Sore ini suamiku sudah tiba dirumah.
"Bagaimana Pah, bagaimana kabar Khaula?" Upaku.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah membaik Mah, mungkin lusa jika tak ada kendala Khaula sudah diperbolehkan pulang." Jawab suamiku dengan wajah ceria.
"Alhamdulillah Pah,aku sangat merindukannya." Jawabku sambil tersenyum.
Dia melihat ke arahku.
"Bagaimana keadaanmu Mah? bagaimana bayi kecil kita?" Ucapnya, untuk pertama kali dia menyentuh perutku dan menanyakan kabar janinku, hal yang tak pernah terjadi selama aku mengandung bayi pertamaku. Aku sangat bersyukur atas itu. Ada haru terselip dalam dadaku. Terimakasih ya Allah, betapa bahagianya aku betapa sempurna nya hidupku.
Hari itupun tiba, hari dimana aku bersiap menyambut kedatangan putriku. Ku siap kan banyak balon dalam kamarnya, beberapa mainan baru, beberapa dress cantik yang kubeli di butik temanku. Aku sudah tak sabar menyambutnya.
"Khaula sayaaaang...." Ucapku sambil mempercepat langkah menuju putriku.
kupeluk, kuciumi pipinya, ku tumpahkan segala rindu yang tertahan beberapa hari untuknya. Dia begitu bahagia melihatku, senyumnya begitu mengembang. Aku peluk dan kubawa dia masuk kekamar tak lupa mengajak ibu dan bapak beristirahat karna pasti melelahkan menjaga putri kami berhari hari dirumah sakit.
__ADS_1
Aku, suamiku dan putri kami memasuki kamar dan bermain bersama seperti sebelumnya. Rasa mual kutahan demi menjaga keharmonisan situasi kami saat ini,kami banjiri putri pertama kami dengan kasih sayang, dengan penuh perhatian tapi tetap menjaga kondisinya agar tak kelelahan, dia tertawa dengan riangnya ketika main bersama papah nya.
Kami bertiga pun tidur terlelap bersama diatas matras tempat biasa kami bermain. Aku terbangun karna rasa mual ini kembali muncul, segera aku menuju kamar mandi agar tak mengganggu tidur kedua orang yang aku cintai.
Ternyata aku salah, suamiku mengikutiku dari belakang. Ketika mual hebat mendera, suamiku menenangkan ku dengan mengusap punggungku lalu mengusap perutku
.
"Jangan bikin Mama lelah ya sayang, kamu baik baik dalam perut Mama, kasian Mama mual terus tuh." Dia usap dan cium perutku yang masih terlihat rata. Entah inilah yang disebut dengan cinta sang ayah ataukah hanya kebetulan. Namun tiba tiba mualku hilang.
Kali ini kami memutuskan untuk tinggal sekamar dengan Khaula, kami pindahkan putri kami ke kamar kami karna kamar kami masih begitu luas. Mainan, lemari pakaian dan segala perlengkapan putri kamipun sudah di kondisi kan dipindahkan ke kamar kami.
Ini hari pertama Khaulaku makan, kami makan bersama di meja makan dengan kursi bayi nyaman yang diduduki putri kami, disertai makanan bergizi yang suster bawa. Aku tak ingin kehilangan momen indah ini, aku ingin menjadi orang pertama yang menyuapinya makan.
__ADS_1
Rasanya begitu indah, bahagia melihatnya makan dengan lahap, sesekali mengoceh dan tertawa. Tak jauh dari kursi putri kecilku ada pula kursi yang diduduki bapak dan ibuku. Bahagianya aku, posisiku saat ini mungkin yang diidamkan wanita wanita lain diluar sana. Suamiku tampan, mencintaiku dan selalu mampu mencukupi segala kebutuhan hidupku, anakku dan orang tuaku.