
Udara segar di pagi hari membuat hatiku yang sedang berbunga menjadi kian berseri. Aku memasuki kamar putri kecilku untuk mengucapkan selamat pagi dan mengecup keningnya. Aku pandang wajah mungilnya, ia tampak sedang tertidur lelap. Sudahlah, biarkan dia beristirahat dulu pikirku.
Dua jam telah berlalu, putriku tak kunjung menangis, tak pula suster mengantarkannya padaku sekedar untuk meminum ASI, ada rasa tak nyaman dalam hati ini, segera aku masuk ke kamar tempat putriku tidur, aku coba koyak perlahan tubuh gempalnya namun ia tak kunjung membuka mata.
Rasa khawatir kian bertambah, aku coba menggoncang tubuhnya sedikit kencang namun tak juga dia membuka matanya, dia tetap terlelap tidur. Aku sangat panik, aku panggil suster dan suamiku yang hampir saja keluar gerbang rumah menuju perusahaan.
"Khaula...Khaula... Dia tak mau bangun, dia tidur, dia.." Ucapku gugup sambil menarik tangan suamiku.
"Ada apa? kamu ini kenapa?" Ucap suamiku ikut panik, aku hanya bisa menangis sambil menarik tangannya masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Tak ada satupun orang yang mampu membangunkan putri kami, akhirnya kami membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sampai lah kami di rumah sakit. Putri kami masuk ruang pemeriksaan, setelah setengah jam berlalu kami dipanggil dokter.
"Pak, Bu, anak Bapak dan Ibu tidak sadarkan diri, lebih baik saya rujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Kelengkapan alat dan tenaga medis disini tidak begitu memadai untuk kasus putri Bapak dan Ibu." Ucap dokter.
"Dugaan sementara, Putri ibu mengalami pembekuan darah di otak, itu yang membuatnya tak sadarkan diri. Untuk lebih pastinya harus dilakukan serangkaian tes medis agar diagnosanya tepat." Ucap dokter.
Sepanjang hari aku hanya menangis, kali ini aku menangis di pelukan laki laki yang sangat aku cintai, dia menenangkan dan memelukku erat, aku yakin diapun merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Adzan duhur berkumandang, aku mengajak suamiku pergi ke mushola di rumah sakit, kami mendoakan dan meminta yang terbaik untuk putri kami. Kami ingin dia sehat, ceria seperti sebelumnya, betapa bahagianya kami melihat dia mampu membolak balikan tubuh gempalnya yang kini sedang belajar untuk duduk dan makan.
Setelah dari mushola kami bergegas membawa Khaula ke rumah sakit rujukan yang lebih besar dan lengkap, tak peduli walau letaknya jauh diluar kota tetap kami datangi demi keselamatan putri kami.
Sesampainya dirumah sakit rujukan, putri kami ditangani dengan baik. Tak memerlukan waktu lama untuk menjalankan serangkaian tes medis padanya. Kurang dari dua jam hasilnya sudah bisa dokter bacakan. Ternyata apa yang dikatakan dokter dirumah sakit sebelumnya benar. Betapa terpukulnya kami ketika dokter mengatakan bahwa putri kami tak memiliki waktu banyak dan kini ia sedang koma.
Aku begitu terpukul dan jatuh pingsan. Kubuka mataku, aku sudah terbaring diruang rawat, rupanya aku kelelahan, akupun ikut dirawat dirumah sakit ini, kasihan suamiku dia pasti lelah menjaga anak dan istrinya. Namun tiba-tiba dokter datang menghampiri kami dan mengucapkan selamat atas kehamilanku yang menginjak usia 8 minggu.
Terharu, sedih dan bahagia semua bercampur menjadi rasa yang tak mampu diungkapkan kata kata. Kami hanya berpelukan dengan diiringi kucuran air mata yang tak dapat lagi terbendung. Ya, aku mengandung anak keduaku. Adik dari Khaula yang kini terbaring koma.
__ADS_1