
Tepat seminggu seperti yang suamiku ucapkan. Hari ini dia pulang kerumah dengan wajah yang tak terlalu ceria seperti biasanya ketika dia pergi keluar kota. Akupun sudah tak berminat sekedar menanyakan kabar atau suasana hatinya.
"Mamah belum tidur?" Tanya suamiku.
"Ini baru mau tidur." Jawabku.
Aku rapikan bantal dan bersiap untuk tidur,namun aku tak juga bisa terlelap. Terdengar suara ponsel suamiku berbunyi, aku tak bermaksud menguping namun itu terdengar jelas di telinga ku karna suamiku hanya pergi ke sudut kamar, mungkin dia pikir aku sudah tidur nyenyak dan tidak mendengar apa yang dibicarakan lewat telpon.
"Iya Sayang, aku akan segera kembali kesana. Ada yang harus ku selesaikan disini. Sabar ya, jaga bayi kita dengan baik. Jika uang yang aku berikan kurang, kamu kabari aku. Beli lah makanan bergizi atau apapun yang ingin kamu beli. Besok siang akan ku telpon lagi."
.............
"Iya, istriku sudah tidur."
............
"Iya Sayang, kamu juga jaga diri baik baik ya." Begitulah yang aku dengar.
Istriku sudah tidur? yang mereka maksud itu aku? wanita itu tau bahwa suamiku sudah beristri? apa ini? wanita macam apa dia? tapi sudahlah, mereka terlihat pantas. Aku fokuskan saja diriku pada tujuanku!
Tiga bulan berlalu, bisnis makananku sudah menghasilkan laba yang lumayan. Putraku sudah tak terlihat murung sekarang. Setiap pulang kerumah dia sudah bisa bersikap biasa begitupun jika dihadapan papah nya, hanya saja kini dia sudah tak pernah mau jika diajak pergi berdua atau mengobrol lama.
Aku banyak bertemu dengan rekan rekan bisnis baru. Kebanyakan diantara mereka adalah laki laki. Namun tak ada satupun yang menarik perhatianku. Aku selalu bersikap biasa pada mereka. Aku berencana juga membuka butik baju baju muslimah. Suamiku tak pernah telat memberiku uang bulanan yang lumayan besar dan selalu aku sisihkan sejak lama, kini sudah terkumpul lumayan banyak. Aku pakai untuk membuka butik, tapi siapa yang akan mengelolanya? aku tidak akan sanggup mengelolanya seorang diri.
Haruskah aku membuka lowongan pekerjaan untuk mengisi posisi pengelola butik? tapi bisakah dengan mudah kuberikan kepercayaan ku pada orang baru?
Rindu! ya Rindu yang akan mengelola butik baruku. Aku hubungi nomor Rindu saat itu juga.
"Assalamu'alaikum Rindu. Apa kabar?" Ucapku membuka percakapan.
"Wa'alaikum salam ibu Humaira. Kabar saya baik Bu, Ibu apa kabar?" Jawab Rindu.
"Baik Rindu. Oh ya bagaimana jualanmu?masih?" Ucapku.
"Masih Bu." Jawabnya.
"Anak anak sehat?" Aku menanyakan pula kabar anak anaknya.
"Sehat Bu alhamdulillah." Jawaban Rindu membuatku lega.
"Begini Rindu, sebenarnya saya baru saja membuka butik baru disini. Saya bingung karna tak mungkin saya sendiri mengelolanya karna sepertinya waktu saya takkan cukup mengingat banyak kesibukan yang harus saya jalani. Jadi, maksud saya menelpon untuk menawarkan posisi pengelola butik padamu masalah gaji bisa kita bicarakan disini. Apa kamu bersedia?" Aku menjelaskan tujuanku menelponnya.
"Aku bersedia Bu, Rindu mau. Tapi Bu, dimana kami akan tingga nanti? boleh Rindu bawa anak anak bu?" Pertanyaan yang dia tanyakan padaku.
__ADS_1
"Jika tidak boleh dibawa kau akan menitipkan mereka pada siapa? tentu saja boleh. Bawalah mereka, akupun sangat merindukan mereka. Besok supir kami akan menjemputmu dan anak anak, bersiaplah. Biar anak anakmu sekolah disini." Jawabku.
"Baik Bu, baik. Terimakasih Bu." Ucap Rindu.
Suaranya agak gemetar kudengar, mungkin dia begitu bahagia sama seperti ketika kuberi 11 baju gamis dalam kendaraan umum beberapa bulan lalu.
"Bi, siapkan satu kamar tamu ya!" Perintahku pada asisten rumah tangga kami.
"Untuk siapa Mah? Nenek akan kemari?" Tanya Ammar.
"Tidak Nak, bukan Nenek tapi Rindu dan anak anaknya yang amak kemari. Mamah menyuruhnya kemari untuk mengelola butik baru Mamah. Mamah butuh asisten, mamah mulai merasa kewalahan." Ucapku pada Ammar.
"Oh begitu, lusa aku harus kembali ke kampus mah." Ucap Ammar.
"Baiklah dokterku, belajar yang rajin cepet jadi pak dokter nanti kan kalau Mamah sakit tak perlu orang lain yang merawat." Ucapku pada Putra kesayanganku.
kami tertawa bersama, lalu tiba tiba suara suamiku mengagetkan kami!
"Lagi pada ngetawain apa nih? Papah ikutan dong." Tiba-tiba suamiku sudah berada disampingku.
"Engga Pah. Oh ya besok akan ada tamu disini mungkin untuk beberapa hari dia disini sebelum Mamah temukan tempat tinggal untuk mereka, sementara mereka Mamah suruh menempati kamar tamu dulu." Aku memberi informasi tentang kedatangan Rindu.
"Siapa Mah?" Tanya suamiku.
"Kenapa Mamah carikan tempat tinggal?" Tanya suamiku heran.
"Mamah ada sedikit kerjasama dengannya." Jawabku.
"Kerjasama apa Mah? Mamah ga pernah cerita apapun sebelumnya." Suamiku masih penasaran
.
"Mamah buka usaha kecil kecilan, daripada jenuh dirumah terus ga ada kegiatan." Jawabku.
"Oh begitu. Baguslah Mah, Mamah jadi ga terlalu jenuh .Oh ya mah, aku ada pekerjaan diluar kota lagi. Mungkin sekarang agak lama, sekitar dua minggu papah disana." Ucapnya.
"Oke." Jawabku sambil tersenyum manis dan pergi ke kamar. Baguslah jika kamu lebih lama disana, hatiku pun mulai terbiasa dan aku bisa leluasa bekerja diluar rumah.
"Mah, akhir akhir ini kamu tak pernah protes ketika aku banyak menghabiskan waktu diluar kota? biasanya kamu cemberut loh kalo papah tinggal." Dia mulai heran akan sikapku.
"Kan aku sudah biasa pah." Aku berusaha menutupi.
"Kamu juga cuek sekarang mah." Ucapnya.
__ADS_1
"Perasaan Papah aja kali." Tetap aku berusaha menutupi.
"Gimana kalo Papah selingkuh hayooo?" Mungkin dia bermaksud menggertak.
"Sudah kan?" Aku jawab dengan santai.
"Apa? sudah apa? Mamah curiga sama Papah? atau Mamah menuduh Papah?" Dia tiba-tiba marah.
"Sudahlah Pah, jangan membahas hal yang ujung ujungnya hanya menyakiti Mamah. Lagipula kalau Papah selingkuh Mamah bisa apa? hanya bisa mengikhlaskan bukan?" Jawabku lagi.
"Ga ada perjuangan gitu Mah? emang Mamah ga cinta lagi sama Papah?" Desaknya padaku.
"Papah tau? dari hari pertama Mamah menjadi istri papah sampai sekarang itu perjuangan! Mamah harus hidup dengan orang yang tidak mencintai Mamah, Mamah belajar membujuk Papah, Mamah menjaga anak tanpa Papah perhatikan, Papah kasih mamah cinta yang palsu dan entah berapa kebohongan yang sudah papah tutupi sampai hari ini? sampai detik ini mamah berusaha sabar dan tenang apa itu bukan perjuangan pah?" Emosiku mulai terpancing.
"Cinta palsu? apa maksud Mamah?" Suamiku berusaha memancing agar apa yang aku sembunyikan terlihat.
"Tanyakan pada diri Papah, tuluskah papah mencintai Mamah?" Jawabku ketus.
"Mamah ini kenapa?" Dia terus menanyakan tentang sikapku.
"Gapapa Pah. Mamah jadi ngelantur karna terbawa suasana. Mamah sedih, teman dekat Mamah sedang terluka. Suami yang dia banggakan berkhianat, suami yang begitu sempurna di mata nya ternyata telah membodohinya, berulang kali berbohong dan tertawa diatas penderitaan istrinya. Suaminya menikah siri dengan wanita lain, bahkan wanita yang dipilih tidak jauh lebih baik darinya. Dengan berdalih menyelesaikan pekerjaan dia sering pergi menemui istri sirinya, bahkan sempat aku lihat dengan mata kepalaku sepasang sejoli tak tau malu itu sedang berada di klinik bersalin untuk mengecek keadaan kandungan istri sirinya. Aku tak habis pikir pah, ternyata banyak manusia menyedihkan semacam mereka berkeliaran. Mereka terlahir begitu sempurna namun diusia dewasanya mereka kehilangan hati. Organ tubuh penting kan hati Pah? tapi kasihan mereka tak punya hati lagi." Aku begitu puas karna telah menyindirnya.
Suamiku hanya diam tertunduk, tak sekalipun dia berani melihat wajahku. Entahlah mungkin dia merasa kesal ataukah malu.
"Pah? Papah kenapa?" Tanyaku.
"Tidak Mah." Jawabnya singkat.
"Ayo pah istirahat, Mamah siapkan perlengkapan Papah dulu. Papah harus bawa lebih banyak baju kan? soalnya kali ini Papah pergi agak lama." Aku alihkan pembicaraan kami.
"Iya Mah, Papah mandi dulu." Ucapnya sambil berlalu.
Kali ini kukemasi barang suamiku tanpa menitikkan satupun tetes air mata, tak segetir biasanya rasa ini, teringat beberapa bulan lalu aku menangis hingga mataku sembab ketika menyiapkan barang barang suamiku, kupeluk baju baju yang akan suamiku bawa untuk dipakai dihadapan wanita itu. Namun kini tidak, semuanya terasa biasa saja.
"Pah, semua barang yang kau butuhkan sudah aku kemas kedalam koper pah. Termasuk minyak wangi mu, agar kau tak kesulitan mencari minyak wangi dengan aroma khasmu disana." Ucapku menyindir.
"Iya Mah. Mah...." Ucapnya, seperti ada yang ingin dia katakan.
"Kenapa Pah?" Jawabku santai.
"Eemmhhh...Tidak Mah." Jawabnya sambil merebahkan tubuhnya.
Dari raut wajahmu aku tau ada yang ingin kau sampaikan Pah.
__ADS_1