
Semakin hari, usia kandunganku semakin menua, hari ini sudah memasuki minggu ke 39. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada celana dalam ku, seperti basah rasanya. Penasaran, aku cek ke kamar mandi, aku terkejut mengapa ada darah di celana dalamku? aku panik dan segera menelpon suamiku.
Sesampainya dia dirumah, aku sudah bersiap menuju rumah sakit. Kamipun berangkat dan langsung masuk ruang periksa rumah sakit, ternyata aku akan melahirkan, sudah pembukaan 2. Aku tidak mengerti karna sebelumnya aku melahirkan karna darurat terjatuh, tau tau bayiku sudah lahir lewat operasi.
Khaulaku aku tinggal bersama suster dirumah, ibu dan bapak akan segera menyusul ke rumah untuk menjaga putri kami, sementara aku dan suamiku sama sama berjuang disini untuk kelahiran bayi kedua kami.
Kami putuskan untuk mencoba melahirkan secara normal jika itu mungkin, namun jika kembali darurat akupun siap kembali di operasi. Alhamdulillah semua berjalan lancar walau dengan proses yang begitu terasa menyakitkan setiap naik pembukaan.
Putra kami lahir dengan berat badan 3kg, panjang 50cm dan kami beri nama Ammar sesuai nama perusahaan yang sedang suamiku pimpin. Kami segera memberikan kabar baik ini kepada bapak dan ibu yang telah sampai dirumah.
Setelah diperbolehkan pulang, kami langsung bersiap menuju rumah. Satu suster menggendong putra kami Ammar,suamiku memapahku berjalan. Begitu bertambah kebahagiaan yang kurasa.
Aku memiliki seorang putra dan putri.
__ADS_1
"Tampan sekali putamu Nak, mirip sekali dengan Papah nya." Ucap ibu.
"Iya Bu,mirip Papahnya." Jawabku sambil mengusap pelan pipi bagiku dengan jari telunjuk.
"Sudah kalian beri nama Nak?" Tanya bapak.
"Sudah Pak, Ammar." Jawab suamiku.
"Gagahnya, nama yang bagus, sebagus wajahnya, semoga sehat selalu ya cah bagus." Ucap ibu.
"Sana, istirahatlah Nak. Biar Bapak, Ibu dan suster sementara menjaga Ammar. Khaula sudah tidur di kamar." Jelas bapak.
"Baik Pak." Jawabku, aku dituntun menuju kamar oleh suamiku, lalu beristirahat bersama putri sulungku.
__ADS_1
"Terimakasih istriku, aku begitu terharu melihat perjuanganmu melahirkan putra kita, maafkan aku yang tidak pernah memperhatikan mu selama kau mengandung Khaula." Ucap suamiku.
"Maafkan Papa Nak, Papa tak pernah memperhatikanmu, sekedar mengusap perut mama ketika mengandungmupun tak pernah, maafkan Papa." Sesalnya sambil mengecup kening ku dan kening putri kami Khaula. Aku yang sedari tadi berpura pura tertidur, tak kuasa menahan haru dan menitikkan air mata yang diam diam kuseka agar suamiku tak melihatnya.
Alhamdulillah ya Allah, yang aku tau Kau tak pernah tidur, selalu mendengar doa doa hambaMu dan mengabulkannya diwaktu yang tepat.
Kini, giliran dia yang tertidur lelap karna kelelahan menemaniku menjalani segala proses kelahiran putra kami. Aku kecup keningnya, aku usap pipinya, aku belai rambut tebalnya.
Ketika aku ingin kembali merebahkan diri, ibu mengetuk pintu, memberitahu kalau putraku haus. Aku berikan ASI ku padanya, dia menyedot begitu kuat, lebih kuat dari putri sulungku.
"Sabar ya, biasanya sedotan anak lelaki lebih kuat dan sakit. Sama seperti Kakakmu dulu ketika bayi, sampai lecet dan perih rasanya." Ucap ibu.
"Iya Bu, gapapa. Aku bersyukur bisa menyusui putra putriku bu, maafkan aku yang sering manggil Ibu, aku masih sering saja menyusahkan Ibu." Ucapku sambil tertunduk.
__ADS_1
"Tidak apa apa Nak, dikampung memang lagi musim panen, tapi sudah bapak titipkan segalanya pada mang Pardi. Jadi sudah diurusang Pardi semua. Ibu senang bisa sering berkunjung kesini. Bertemu anak anak dan cucu cucu Ibu. Semoga kalian selalu sehat ya, gantian nanti kalian yang main ke kampung ya." Ucap ibu.
"Pasti Bu, aku sudah sangat rindu udara segar pegunungan. Papah nya anak anak juga belum pernah menghabiskan waktu dikampung. Nanti kalau anak anak sudah agak besar kita berkunjung ke rumah Bapak dan Ibu ya, aku rindu berkebun bu. Aku rindu ikut ibu memanen kacang panjang milik Bu Mirna ketika aku kecil dulu." Jawabku penuh semangat.