
Sudah satu bulan kami kembali kerumah. Liburan dirumah Ibu dan Bapak memang sangat membuat anak anak bahagia bahkan mereka menjadwalkan setiap bulan akan mengunjungi Kakek Neneknya.
Siang ini hpku berbunyi, kulihat salah satu guru disekolah Khaula menelpon.
"Assalamu'alaikum, dengan Mamah Khaula?" Ucap seseorang di telpon.
"Wa'alaikum salam. Ada apa Bu guru?" Jawabku.
"Begini bu, Khaula pingsan disekolah. Hidungnya mengeluarkan banyak darah." Jelas ibu guru panik.
"Baik, saya segera kesana." Ucapku yang juga panik.
Tak sempat ku telpon suamiku, aku langsung meminta supir menjemput Khaula dan membawanya kerumah sakit.Hatiku sungguh tak tenang, jalan begitu ramai sehingga perjalanan kami sedikit terhambat.
Aku membawa putriku kerumah sakit besar tempatnya berobat selama ini. Sedari kecil sulungku tak lepas dari obat. Hatiku pilu setiap kali memberinya obat dan kini dia harus kembali berbaring tak berdaya ditempat ini.
__ADS_1
Dokter segera mengambil tindakan, melakukan yang terbaik untuk putriku. Suamiku telah tiba dan langsung merangkul ku seraya menanyakan apa yang terjadi. Aku menjelaskan apa yang terjadi.
Dokter memanggil kami untuk menjelaskan apa yang terjadi pada putri kami.
"Seperti yang saya jelaskan sebelumnya Pak, Bu. Hari ini akan terjadi. Keadaan putri ibu semakin memburuk, harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang." Jelas dokter.
"Baik dok akan segera kami carikan." Jawab suamiku.
Kamipun berdiskusi untuk mencarikan donor sumsum tulang belakang untuk putri kami. Satu persatu dari kami dicek, ternyata cocok denganku. Tak menunggu apapun lagi aku langsung meminta dokter untuk segera mengambil apa yang putriku butuhkan dalam tubuhku.
Aku menemui sulungku sebelum meminta jadwal operasi.
"Mamah mau kedepan sebentar, mau beli makanan." Aku terpaksa berbohong.
"Mamah bohong kan? aku lihat tatapan mata mamah sedang tak jujur padaku. Mamah mau kemana? mamah bilang tidak boleh berbohong kan?" Ucap putriku.
__ADS_1
Jika aku katakan aku mau kemana, putriku pasti akan menolak seperti sebelumnya. Ia bersikeras tak ingin mengambil bagian tubuh orang lain walau yang memberi ikhlas. Dia tak mau merepotkan orang lain apalagi merugikan.
"Berjanjilah Mah, jangan meminta orang lain mengorbankan tubuhnya demi aku, apalagi mamah. Hidupku sudah begini Mah. Hampir 5 tahun aku Mamah jaga, suatu hari nanti aku harus pulang mah aku tak mau terus melihat Mamah sedih. Mamah harus kuat demi adik Ammar." Ucapnya sambil menatapku.
Kupeluk tubuh lemahnya, aku ciumi keningnya. Perih rasanya. Apa yang harus aku lakukan? aku tak ingin membohonginya tapi akupun tak ingin kehilangannya. Namun rasa takut kehilangan ku lebih tinggi maka kuputuskan tetap meminta dokter untuk segera melaksanakan operasi.
Jadwal operasipun ditentukan, atas segala pertimbangan operasi dilakukan seminggu kemudian, tergantung pula pada keadaan putriku. Aku berharap semoga semua berjalan sesuai apa yang kami semua harapkan.
Dua hari berlalu, seakan ada keajaiban. Putriku begitu bugar, dokter pun heran mengapa bisa? padahal keadaannya sudah parah. Bagaimana bisa dia menjadi sebugar ini?seakan tak ada satupun penyakit menempel pada dirinya. Kami semua pun dikejutkan dengan keadaannya.
"Mah, aku sudah sehat. Aku ingin pulang. Aku sangaaat merindukan adikku Ammar. Dia pasti kesepian dirumah." Ucap putriku.
Kami berkonsultasi dengan dokter, dokter tetap menyarankan agar tetap dirawat sampai operasi dilakukan. Karna bisa saja keadaannya memburuk tiba tiba.
"MengertilahNnak, ini demi kabaikanmu. Mamah ingin kamu pulang dalam keadaan benar benar sehat." Aku mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Mamah, aku hanya ingin pulang. Papah aku rindu Ammar. Izinkan aku menjaganya selagi aku mampu Pah. Izinkan aku menghabiskan waktu bersama kalian. Aku rindu suasana rumah pah, sedari kecil aku tak pernah menolak minum obat. Kali ini izinkan aku pulang." Ucapnya sambil memohon.
Aku heran mengapa dia begitu dewasa diusianya yang baru akan menginjak 5 tahun. Disaat anak seusianya masih didikte oleh orang tuanya. Namun berbeda dengan putriku, kamipun tak sanggup menolak permintaannya.Akhirnya kami membawanya pulang kerumah.