Putri Surgaku Khaula

Putri Surgaku Khaula
Pernikahan


__ADS_3

Hari berganti hari, aku masih tetap bekerja di perusahaan Pak Adryan sebagai karyawati biasa, tak ada tawaran jabatan spesial ataupun perlakuan yang beda. Kuharap Nenek baik baik saja disana.


Namun, harapanku salah! tiba-tiba manager mencariku dan memerintahkanku datang kerumah Pak Adryan, tanpa supir atau jemputan.


Sesampainya aku disana, aku dikejutkan dengan ramainya orang dan tertancapnya bendera kuning lengkap dengan karangan bunga bertuliskan "TURUT BERDUKA CITA" hati dan pikiranku begitu kacau. Ada apa ini?setauku penghuni rumah ini hanya Pak Adryan dan Nenek! aku percepat langkah kakiku dan yang aku khawatirkan ternyata benar. Aku melihat jasad Nenek terbaring diruangan besar yang dipenuhi orang orang yang teramat terpukul dengan kepergian seorang wanita tua yang baik hati dan memiliki banyak anak asuh dari berbagai panti asuhan.


Aku teringat saat saat Nenek memelukku erat, menumpahkan segala rindu yang Nenek tahan bertahun tahun lamanya. Kini, mungkin aku yang kelak akan menahan rindu akan sosok Nenek.

__ADS_1


"Bu Humaira? Bapak menunggu Ibu diruang kerjanya diatas." Ucap asisten rumah tangga nenek membuyarkan lamunanku. Langsung aku menuju ruang kerja yang ditunjukkan.


"Duduk Humaira, ada titipan surat dari Nenek" Perintah Pak Adryan, lalu ia serahkan selembar surat padaku.


"Humaira, Nenek tau kau wanita yang baik, tangguh dan jujur. Usiaku sudah tak muda lagi, sudah tak mungkin lagi memperhatikan apa yang Adryan makan, sudah tak mungkin mengawasi kegiatan sehari harinya, sudah tak mungkin lagi mampu menjaganya seperti saat Livia tak ada. Nak, maukah kau menjaga Adryan kecilku? dia laki laki yang baik, percayalah. Dia tidak seramah orang lain, tidak pula sehangat laki laki lain dalam memperlakukan wanita, tapi percayalah Nak, dia akan mampu menjagamu dengan baik. Jaga Adyanku, aku percaya padamu." Begitulah isi surat terakhir Nenek untukku.


Lagi lagi aku bertanya tanya, apa ini? apa maksud semua ini? belum selesai aku berpikir dan mengumpulkan lebih banyak pertanyaan di kepala ku, aku dikejutkan dengan pertanyaan Pak Adryan

__ADS_1


"Aku akan menjamin hidupmu, hidup kedua orang tuamu. Kupastikan mereka akan hidup berkecukupan tanpa mengandalkan gaji bulananmu, pikirkan! putuskan hari ini juga." Ucapnya seakan mendesak.


Aku memang butuh biaya untuk merenovasi rumahku yang sudah hampir ambruk, membeli obat asma untuk Ibu dan membayar hutang Bapak yang sudah jatuh tempo, akhirnya aku putuskan menyetujuinya, walau batinku perih. Karna layaknya wanita lain, aku ingin dinikahi oleh pangeran yang mencintai putri dengan sepenuh hati. Aahh mungkin tak berlaku bagi si miskin sepertiku! umpatku dalam hati.


Seminggu kemudian digelar pernikahan sederhana di gedung ternama di kota kami, semua berjalan lancar. Setelah menikah aku tinggal di rumah Pak Adryan dan kedua orang tuaku pindah ke rumah baru yang jauh lebih layak dihuni pemberian suamiku.


Kehidupan kami berjalan biasa saja, kami melewati malam pertama layaknya pasangan lain. Entahlah cinta itu dimana, aku hanya menjalankan kewajibanku saja begitupun dengan suamiku.

__ADS_1


Tiga bulan berlalu, sikapnya masih tetap sedingin biasanya. Pagi ini aku merasa tak enak badan, kupikir hanya karna kelelahan, sudahlah tak aku hiraukan. Malam hari ketika suamiku pulang aku menyambutnya dan tiba-tiba aku tak sadarkan diri. Kubuka mataku perlahan, ternyata aku sudah berada dirumah sakit. Dokter dan suamiku menghampiri dan mengucapkan selamat atas kehamilanku.


Kaget, bahagia, bingung, semua tercampur melahirkan banyak pertanyaan di kepala ku. Bagaimana mungkin kami bisa membesarkan anak tanpa cinta?


__ADS_2